Memilah ‘Obat’ Pe-De yang Efektif

Anda pernah — atau tengah — mempunyai masalah dengan bau badan? Tak usah kecil hati. Problem bau badan alias BB ini adalah masalah yang biasa di daerah tropis yang obral matahari.

Keringat dan BB bagi sebagian orang merupakan momok yang paling ‘menakutkan’. Betapa tidak? Bayangkan Anda tengah berpresentasi di ruangan tak ber-AC. Serapi apapun pakaian yang anda kenakan, tentu akan ‘rusak’ akibat keringat ini. Konsentrasi anda pun akan terpecah. Akibatnya, presentasi yang anda sampaikan tentu tidak maksimal.

Hal yang sama terjadi pada Ita (bukan nama sebenarnya-red). Walaupun ia mempunyai wajah yang cantik, namun dalam pergaulan sehari-hari ia tampak minder dan kurang pe-de (percaya diri). Ia enggan mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada disekolahnya terutama kegiatan yang membutuhkan banyak gerakan.

Karena setiap Ita bergerak, hembusan angin dari badannya menimbulkan bau yang kurang sedap, apalagi jika udara sedang panas. Aroma yang dikeluarkan tubuhnya semakin membuat pusing kepala sehingga jarang sekali teman-teman Ita yang mau berdekatan dengan dirinya.

Masalah keringat dan BB sampai saat ini masih menjadi masalah bagi penghuni daerah tropis. Iklim yang panas, semakin memicu keringat keluar lebih banyak.

Sebetulnya, antara keringat dan bau badan adalah dua hal yang tidak identik. Bau badan yang tak sedap ini erat kaitannya dengan aktifitas bakteri di permukaan tubuh, bukan oleh keringat. Prinsipnya, keringat yang keluar melalui pori-pori itu tidak berbau, asal tidak dijahili bakteri.

Namun sial, bakteri ini sangat suka dengan material organik yang keluar bersamaan cairan dari pori-pori berupa keringat. Cairan ini merupakan sekresi yang dihasilkan kelenjar eccrine. Kelenjar ini sebetulnya ada di hampir seluruh bagian tubuh. Berbeda dengan bagian tubuh lainnya yang terbuka, maka cairan keringat di ketiak dan selangkangan tidak mudah menguap. Sialnya, bakteri sangat menyukai tempat yang lembab dan tersembunyi. Aktifitas bakteri yang beraksi dengan muatan organik inilah yang menyebabkan keringat berbau.

Untuk problem Ita, ia sangat tertolong oleh deodorant merek ‘gaul’ yang disodorkan temannya. Wangi classic yang diiklankan produsennya, memang mampu menyamarkan bau badannya.

Di pasaran, kita mengenal dua jenis penghilang bau badan. Jenis pertama yang paling banyak dijual dan dicari adalah jenis deodorant. Penghilang BB ini paling banyak dicari orang karena mengandung wewangian tertentu. Umumnya wewangian yang disajikan adalah keharuman bunga seperti Mawar, Melati, Lavender, atau buah-buahan seperti jeruk. Sedang jenis kedua adalah anti perspirant yang agak jarang dicari orang karena tidak seharum deodorant.

Apa yang membedakan keduanya? Selain wewangian tadi, yang membedakan keduanya adalah fungsi masing-masing. Deodorant adalah produk perawatan tubuh yang ditujukan untuk mengharumkan tubuh. Prinsip kerjanya adalah mengontol pertumbuhan bakteri di permukaan kulit, utamanya ketiak, daerah tersembunyi yang sering basah oleh keringat. Kandungan parfumnya mampu menyamarkan bau badan yang tak sedap akibat ‘pencemaran’ bakteri itu, dan menggantinya dengan kesegaran aroma wewangiannya. Produk deodorant tidak ada sangkut pautnya dengan ‘perkeringatan’.

Beda dengan anti-perspirant. Produk sarat ‘ramuan’ kimia ini ditujukan untuk mengontrol pengeluaran keringat dari kelenjar di bawah pori-pori di sekujur tubuh, utamanya ketiak. Area tubuh ini menjadi paling basah — terutama saat panas terik — karena kaya akan kelenjar yang aktif memompa pembuangan cairan tubuh melalui pori-pori. Penggunaan anti perspirant akan membantu daerah ini untuk mengontrol pengeluaran keringat sehingga ketiak selalu kering dan nyaman. Beberapa senyawanya juga mampu membantu pengontrolan tumbuh kembang bakteri di daerah ini.

Itu sebabnya, nama anti perspirant selalu diembel-embeli dengan kata ‘deodorant’, sehingga menjadi ‘deodorant anti-perspirant’. Deodorant jenis ini, mengemban dua fungsi, baik sebagai pengharum maupun mengontrol keringat di ketiak. Produk ini di pasaran tersaji dalam berbagai merek, misalnya Rexona atau Dove.

Meski begitu, penggunaan deodorant tidak selamanya efektif. ”Karena masih ada mereka sudah menggunakan deodorant tapi keringatnya masih bau,” ujar Dr.Lili Soepardiman SpKK, Spesialis Penyakit Kulit dan Kelamin, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Hal ini, katanya, disebabkan beberapa faktor; mungkin karena deodorant yang digunakan tidak tahan lama atau juga karena si pengguna sedang stres sehingga produksi keringatnya lebih banyak.

Saat ini, deodorant yang dipasarkan umumnya mengandung tiga zat kimia sekaligus. Selain anti-perspirant, kata Lili, deodorant umumnya mengandung zat antiseptik untuk membunuh bakteri yang menyebabkan bau badan. Zat lain adalah garam Alluminium (biasanya tidak lebih dari 20 persen) yang berfungsi menciutkan pori-pori yang terlalu besar. ”Pori-pori besar seringkali menyebabkan keringat lebih banyak keluar,” ujarnya.

Umumnya, penggunaan deodorant ini tak berdampak. ”Tergantung pemakainya, sih, apakah ia alergi terhadap salah satu zat yang ada dalam deodorant atau tidak,” ujarnya yang juga dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). ”Jadi sebaiknya konsumen juga selektif memilih produk deodorant mana yang sesuai dan cocok untuk dirinya.”

Saat ini, tambah Dr.Lili, ada tiga macam bentuk deodorant yang dapat dijumpai dan sudah dikenal di pasaran, yaitu spray (semprotan), bunuk, stick, dan yang terbaru dengan bentuk sabun cair atau gel.

Untuk deodorant yang berbentuk spray, Dr. Lili menyarankan dalam pemakaian sebaiknya tidak terlalu dekat kulit karena hal tersebut dapat menyebabkan gangguan pada kulit seperti Iritasi berupa kulit menjadi merah dan gatal. ”Ini kan menjadi masalah tambahan, inginnya bau badan hilang, malah ketiaknya menjadi lecet,” paparnya.

Sedangkan bentuk stick, biasanya meninggalkan bekas lengket sehingga dapat membuat noda pada lengan pakaian. Diakui Dr.Lili produk deodorant yang paling efektif adalah yang berbentuk bubuk karena tidak banyak menimbulkan efek samping pada kulit kecuali hanya bekas putih di ketiak.

Dr. Lili berpendapat ada baiknya bagi mereka yang mempunyai masalah bau badan untuk lebih menjaga kebersihan tubuh, dengan mandi minimal dua kali sehari, tidak terlalu banyak memakan makanan yang menimbulkan keringat (makanan pedas umpamanya), dan juga makanan yang berbau karena semua itu bisa menjadi faktor pemicu timbulnya bau badan. tri/mg03

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: