Mengkudu: Si Noni yang Tak Lagi Dicuekin

Jangan pernah sekali-sekali underestimate dengan buah mengkudu (Morinda tinctoria; Morinda citrifolia) alias buah noni. Buah yang kelihatannya kurang menarik, kotor, dan beraroma tak enak ini, ternyata menyimpan sejuta khasiat. Sudah sejak lama nenek moyang kita memanfaatkan mengkudu untuk menyembuhkan berbagai rupa penyakit.

Buah mengkudu memiliki banyak nama di berbagai negara. Contohnya, “Noni” (Hawaii, Polynesia, Indonesia); “Nono” (Tahiti); “Lada” (Guam); “Indian Mulberry” (India), “Painkiller tree” (Kepulauan Karibia); “Nhau” (sebagian Asia Tenggara); “Cheesefruit” (Australia), “Bumbo” (Afrika), dan “”Kura” (Fiji).

Dr. Ralph M. Heninicke, ahli biokimia dari University Hawaii, Amerika Serikat, boleh disebut pelopor penelitian mengkudu atau buah pace ini. Nyaris setengah abad silam, secara tak sengaja ketika mengkaji enzim bromelin dalam buah nanas, Ralph menemukan kandungan alkoloid proxeronine pada mengkudu.

Mengkudu juga kaya dengan bahan antioksidan yang membantu memulihkan sel-sel yang rusak, sekaligus melambatkan proses penuaan. Penderita kencing manis, sengal sendi, dan tekanan darah tinggi tak ada salahnya mencoba buah “si buruk rupa” ini.

Banyak cara mengonsumsi mengkudu. Di Jawa Tengah, mengkudu matang dan daunnya yang muda, sering direbus sebagai minuman kesehatan. Sementara di beberapa negara seperti Tahiti, pengolahan mengkudu dilakukan secara alami. Caranya, pace yang masak ditampung dalam wadah berbentuk kerucut, lantas tetesan buahnya ditampung kemudian dikemas dan siap minum.

Ada pula yang memetik dan memeramnya di atas garam atau di dalam beras. Bila sudah matang ia bisa dimakan mentah-mentah. Menurut riset beberapa pakar, mengkudu matang adalah yang paling berkhasiat. Lucunya, yang matang ini justru berbau busuk. Aroma tak sedap itu dihasilkan oleh sejumlah asam yang terdapat di dalamnya, seperti asam askorbat, asam kaproat dan asam kaprik.

Tapi, mencampurnya dengan gula, bau busuk bisa sirna. Mengonsumsi mengkudu produk pabrikan merupakan cara yang paling mudah. Melalui berbagai proses fermentasi, bau busuknya pun lenyap. Di Indonesia, tak jarang mengkudu dijadikan buah rujak yang dimakan bersama-sama kuah rujak atau dicampur dengan buah-buahan lain.

Dari “bawah ke atas”, si noni ini memang mengasyikkan. Akarnya berfaedah mengobati wasir, hidung tersumbat, dan perdarahan otak. Daun mudanya bisa dipakai sebagai sayuran atau dimakan sebagai lalapan. Jika direbus, daunnya dapat pula menyehatkan ibu yang baru bersalin. Kulit buahnya berguna mengobati malaria dan disentri. Sedangkan bunga mengkudu bisa digunakan untuk merawat penyakit mata.

Bahkan, menurut survei Neil Solomon, MD. Ph. D., seorang ahli nutrisi terkemuka AS pada 1997-1998 disebutkan, terdapat 40 orang dokter ahli dan lebih dari 8.000 pasien di AS, yang sudah menggunakan sari buah mengkudu untuk mengobati penyakit-penyakit, seperti darah tinggi, kolestrol, stroke, kanker, asam urat, diabetes, dan lain-lain.

So, tunggu apalagi. Terbukti, si noni ini tak lagi dicuekin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: