Jangan Sepelekan Varises

Nopember 23, 2007

Varises ternyata lebih suka menyerang wanita. Mau tahu sebabnya? Bukan karena wanita itu indah dan cantik. Tetapi, wanita memiliki kulit yang lebih lunak. Belum lagi, gangguan hormonal pun lebih tinggi terutama saat wanita mengalami pubertas dan kehamilan.

Varises sendiri merupakan kelainan pada pembuluh darah balik (vena), di mana terjadi penurunan atau hilangnya elastisitas dinding vena, vena yang berkelok-kelok, dan kerusakan katub.

Menurut Dr Hilman Ibrahim SpBV dari FKUI/RSCM, hingga saat ini belum diketahui pasti penyebab utama varises. Namun, faktor predisposisinya adalah karena faktor keturunan keluarga, obesitas (kegemukan), tekanan darah abdominal, obat-obatan, dan terlalu lama berdiri. Gejala klinis yang biasa ditimbulkan, yakni rasa nyeri, kejang, berat di betis, kram, dan tromboflebitis (panas dan nyeri).

“Rasa pegal dan berat di betis itu tetap terjadi meski kita sedang beristirahat dan pada tingkat paling berat, timbulnya inflamasi kronis (daerah mata kaki), seperti hiperpigmentasi (statis dermatitis) dan ulkus (koreng). Bahkan untuk wanita hamil dapat menimbulkan pendarahan,” ujarnya kepada pdpersi.co.id, beberapa waktu lalu, di Jakarta.

Berbahaya bagi Proses Persalinan

Banyak orang kurang menghiraukan varises. Padahal, tahukah anda, pada masa kehamilan, penyakit ini bisa menjadi lebih serius. Pasalnya, varises ternyata berbahaya bagi proses persalinan.

Menurut Dr Lucky Savitry WK SpOG dari RS MH Thamrin International Salemba, sirkulasi darah pada ibu hamil lebih banyak dibanding masa tidak hamil. “Tak heran jika perubahan pada pembuluh darah terlihat semakin jelas menjelang akhir kehamilan,” tuturnya kepada pdpersi.co.id.

Ditambahkannya, banyak orang mengira, pembesaran rahim yang menekan pembuluh-pembuluh darah besar di depan dan di samping tulang punggung, menyebabkan darah vena (darah balik) yang kembali dari bagian bawah ke jantung menjadi kurang lancar. Sehingga terjadi bendungan dalam pembuluh-pembuluh balik di tungkai, di bawah kulit, di vulva, vagina, atau di dubur dengan akibat melebarnya pembuluh-pembuluh balik itu.

Namun kenyataannya, lanjut Dr Lucky, varises sudah dapat timbul di usia kehamilan muda bahkan banyak wanita mengetahui dirinya hamil, dari melihat jelasnya gambaran vena di daerah tertentu atau timbulnya varises, sebelum haidnya terlambat.

“Karena itu, sebenarnya melebarnya pembuluh-pembuluh balik itu dianggap sebagai reaksi sistem vena terutama dindingnya, terhadap perubahan hormonal dalam kehamilan di mana otot polos dinding pembuluh darah melemah,” tuturnya menjelaskan.

Umumnya, kata Dr Lucky, keluhan yang ditimbulkan akibat varises bagi wanita hamil, berupa gangguan kosmetik, gatal-gatal, pegal, dan nyeri di dubur. Tetapi setelah bayi keluar, keluhan-keluhan ini biasanya akan hilang atau berkurang. Meski demikian, bila tidak melakukan pencegahan, varises akan muncul kembali, apalagi makin tua, elastisitas dinding vena makin berkurang.

Sedangkan bahayanya dalam kehamilan dan persalinan, baik di vulva, vagina, maupun ditungkai, adalah kemungkinan pecahnya pembuluh darah.

sumber:http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=668&tbl=biaswanita


Testis Terkena Varises

Nopember 23, 2007

Penulis: dr. Muhammad Ahsan, di Balikpapan

Varises bukanlah monopoli betis. Testis pun bisa terkena serangan varises. Celakanya, varises yang satu ini bisa bikin mandul. Karenanya, waspadalah bila tiba-tiba di organ intim Anda, kaum pria muncul pelebaran pembuluh darah.

Sebagai pasutri, Dody dan Liza benar-benar sempurna. Sama-sama keren, muda, dan enerjik. Makanya mereka benar-benar tak habis pikir, mengapa sampai tahun ketiga perkawinan, belum juga mendapat jabang bayi. Lebih kaget lagi, ketika diberi tahu dokter, semua itu ternyata gara-gara varises. Jangankan Dody dan Liza, para tetangga dan kerabat saja banyak yang membelalakkan mata. Yang mereka tahu, varises itu biasanya menyerang kaki. Itu pun lebih sering terjadi pada wanita hamil. Makanya, kabar bahwa kualitas sperma Dody kurang baik lantaran terganggu varises, akhirnya menjadi cerita yang senantiasa berujung pada beragam tanda tanya.

Meski kalau mau bertanya pada ahlinya, penyebab kemandulan Dody sebenarnya memiliki landasan ilmiah yang jelas. Pada kasus pasutri itu, dokter kandungan mereka menemukan fakta bahwa semua organ reproduksi Liza normal, sedangkan Dody selain bermasalah dengan spermanya, juga memiliki varises pada testis. Varises testis itulah yang diduga mengganggu kesuburan sang Arjuna.

Dokter menyarankan Dody berolahraga teratur, istirahat yang cukup, serta mengonsumsi makanan bergizi. Tak lupa, ia membuat surat rujukan ke urolog (ahli bedah saluran kencing), agar varises bermasalah itu segera ditarigani.

Menyerang Usia Panas

“Oooh, jadi varises yang menyerang suamimu itu bukan varises yang biasa muncul di kaki ibu-ibu to?” selidik ibu mertua Dody.

“Iya, juga bukan varises yang muncul saat ibu hamil dulu,” imbuh Liza. Menyitir ucapan dokter kandungannya, Liza menambahkan, “Varises Mas Dody adanya di testis, yang dalam dunia kedokteran biasa disebut varikosel.”

Walaupun jarang terdengar, varikosel bukan penyakit baru. Ia pertama kali ditemukan ahli bedah Prancis, Ambroise Pare pada abad ke-16, meski saat itu hanya ditinjau dari sudut ilmu bedah, dengan fokus pada kelainan pembuluh darah testis. Baru akhir abad ke-19, dr. Barfield, seorang ahli bedah Inggris menemukan, jumlah sperma penderita varikosel menurun, bahkan bila sudah parah dapat menyebabkan henti sperma (azoospermi, ada air mani tapi tidak ada sperma). Sejak itu, varikosel mulai mendapat perhatian serius dari para ilmuwan.

Varikosel sendiri merupakan pelebaran pembuluh darah vena yang berhubungan dengan testis, gudang sekaligus pabrik sperma. Pelebaran pembuluh darah itu terjadi karena adanya kerusakan pada sistem katup pembuluh darah, yang seharusnya membawa darah dari testis menuju perut bagian bawah, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke sistem sirkulasi.

Akibat kerusakan sistem katup itu, darah menumpuk dan melebarkan pembuluh darah yang tentu saja mengalir tidak normal. Nah, ketidaknormalan aliran darah balik ke testis inilah yang ujung-ujungnya menurunkan fungsi testis dan menyebabkan suhu dalam testis meningkat alias tidak normal lagi. Padahal, selama ini aliran darah dalam testislah yang bertugas mengatur suhu yang optimal bagi sperma.

Itu sebabnya, mengapa pada kondisi dingin, testis mengecil (mengerut) dan pada saat panas atau hangat, testis menjadi sebaliknya. Peningkatan suhu dalam testis diyakini akan merusak dan mematikan sperma. Bahkan menghambat produksi sperma yang baru. Inilah yang diyakini para ahli punya andil dalam proses kemandulan atau ketidaksuburan, yang dalam dunia medis biasa disebut infertilitas.

Repotnya, walaupun penyebab infertilitas terdiri atas banyak faktor, saham varikosel ternyata cukup signifikan. Sebuah penelitian menemukan, hampir separuh di antara lelaki infertil, didapati menderita varises di organ intim itu. Yang mengejutkan, dalam survei yang dilakukan secara acak, dilaporkan juga, dari sekian banyak pasien lelaki dewasa yang dianggap atau menganggap dirinya sehat, setelah diperiksa ternyata 10 - 20% -nya menderita varikosel.

Persentase itu diperoleh dari penelitian kasus varikosel yang dilaporkan dan ditangani para ahli bedah di Amerika Serikat. Namun, setelah dibandingkan dengan hasil yang diperoleh di Inggris, dan juga negara Eropa lain, persentasenya ternyata tidak jauh berbeda. Maka dibuatlah kesimpulan umum bahwa 10 - 20% pria yang semula menyatakan diri sehat, setelah diperiksa ternyata menderita varikosel. Dari para penderita itu, sekitar 40% di antaranya terbukti mandul.

Lebih repot lagi, usia penderita varikosel itu ternyata tak jauh dari umur produktif, antara 15 - 25 tahun. Usia emas yang mestinya sedang hot-hot-nya! Sayangnya, tak ada penelitian dan data pasti tentang penderita varikosel di Indonesia. Mungkin karena urolog di sini tidak terlalu sering menemukan kasus varikosel di kliniknya. Kalaupun ada yang ditangani, jumlahnya tidak terlalu signifikan.

Banyak di Kiri

  • Lalu, bagaimana caranya mengenali ciri-ciri varikosel?

Inilah masalahnya. Kadang-kadang, varikosel pada tahap dini dijumpai tanpa gejala sama sekali. Keberadaannya hanya bisa diketahui lewat tes radiologi. Tak heran banyak pria terkaget-kaget, begitu mendapat vonis vanises di testis. “Kok munculnya tanpa ba-bi-bu sih?” koor mereka senada.

Biasanya, baru pada tahap lanjut, gejala varikosel yang paling umum dan gampang dirasakan muncul ke permukaan. Misalnya rasa nyeri dan tidak nyaman yang menetap pada testis, ukuran yang ridak sama antara testis kiri dan testis kanan, serta masa infertilitas yang cukup lama. Secara fisik pun, bila diraba, bakal terasa adanya pembesaran vena yang bentuknya bagai kumpulan cacing atau spageti di bawah kulit.

“Penampakan” tadi bisa ditemukan di sisi kiri maupun kanan testis. Hanya saja, selama ini 85% varikosel ditemukan di sebelah kiri. Ini ada kaitannya dengan faktor anatomi pembuluh darah testis itu. Vena spermatik kiri mengalir ke vena ginjal, diapit dua arteri besar; arteri mesenterik superior (yang ke usus) dan aorta yang dan jantung. Kedua arteri ini dapat menekan vena ginjal dan menghambat aliran darah dari vena spermatik.

Sebaliknya pada bagian kanan, vena spermatik kanan mengalir ke vena cava (yang ke jantung), dan jarang mendapat tekanan. Itulah sebabnya mengapa sisi kiri lebih sering bermasalah. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang lebih akurat, pemeriksaan sebaiknya dilakukan di rumah sakit, dengan alat yang lebih lengkap dan canggih, seperti stetoskop Doppler, venogram, maupun USG skrotal.

Venogram adalah prosedur pemeriksaan vena yang dilakukan di luar tubuh pasien. Pasien cukup dianastesi lokal di daerah pangkal paha, lalu dokter menyuntikkan sejenis cairan khusus yang berwarna ke vena spermatik. Cairan tersebut akan ikut aliran darah vena dan dapat dilihat oleh dokter lewat sinar-X, sehingga varikosel yang sangat kecil sekali pun akan terlihat bila memang ada.

Ini cara sederhana, namun akurat. Sedangkan USG (ultrasonografi) skrotal pemeriksaan dengan menggunakan pantulan ultrasound, untuk mendeteksi karakteristik suara aliran darah balik (vena spermatic) melalui katup pembuluh darah. Tidak perlu suntikan, tidak mengintervensi tubuh pasien, lebih nyaman dibandingkan dengan venogram, hanya tidak seakurat venogram. Hasilnya pun sangat dipengaruhi oleh ketelitian dan keahlian penguji.

Sampai saat ini belum ada obat yang dianggap efektif untuk menyembuhkan varikosel. Beberapa peneliti mencoba dengan antioksidan untuk meningkatkan level reaksi oksigen organ, agar bisa memperbaiki diri. Namun, pemanfaatan antioksidan masih dalam taraf percobaan, belum jadi rujukan. Ada cara lain yang dikembangkan, dengan memakai penyangga testis, seperti celana hernia, namun hanya disarankan bila varikosel masih ringan dan tidak ada infertilitas.

Prinsip terapi yang disepakati paling baik adalah dengan memperbaiki kembali pembuluh darah dan sirkulasinya yang mampet. Istilah medisnya, varicocele repair. Cara memperbaikinva, sebagian besar ahli bedah masih sepakat bahwa operasi konvensional masih merupakan pilihan terbaik.

Jangan takut, survei keberhasilan pascaoperasi verikosel ini cukup menggembirakan, kok. Sekitar 50 - 60% suami yang menderita varikosel, akhirnya bisa kembali menjadi ”lelaki sejati”, setelah menjalani operasi. Bahkan mereka rata-rata mendapatkan jabang bayi pada tahun pertama pascaoperasi. Sedangkan 75% berhasil menjadi ayah pada tahun kedua pascaoperasi.

Kurangi beban vena

  • “Tapi Dok, saya ini orangnya penakut. Jangankan dioperasi, melihat ruang bedah saja bulu kuduk langsung merinding.”

Jika Anda termasuk orang yang bersuara hati seperti itu, jangan dulu putus asa. Beberapa tahun belakangan ini mulai dikembangkan penanganan varikosel nonoperatif yang disebut embolisasi varikosel. Efektivitasnya hampir sama dengan operasi konvensional.

Embolisasi adalah teknik nonbedah yang biasa dilakukan bila varikosel belum terlalu berat, belum menyebabkan kerusakan testis, belum menimbulkan rasa nyeri dan atropi testis. Caranya dengan memasukkan sebuah kateter melalui sebuah irisan kecil dipangkal paha, untuk membendung aliran darah ke varikosel. Venografi yang dibuat dan dilihat lewat sinar-X menjadi penuntun kateter.

Kateter lalu digunakan untuk mendorong koil (logam) kecil ke tempat darah dibendung untuk melebarkan vena. Ini cara simpel mengurangi tekanan vena, mengurangi pembesaran dan mengembalikan sirkulasi darah normal. Pasien hanya dibius lokal, tidak kehilangan kesadaran, tidak harus rawat inap, dan bisa beraktivitas normal kembali dalam dua hari. Cuma, ya itu, biayanya lebih mahal dan tidak semua rumah sakit punya fasilitasnya.

Satu hal yang perlu diingat, baik mengobati dengan cara operatif maupun non-operatif, kemungkinan kambuhnya varikosel tetap ada. Walaupun persentasinya kecil dan tidak sebesar tingkat keberhasilannya.

Lantaran penyebab varikosel kebanyakan faktor anatomis, tidak ada cara yang benar-benar efektif untuk pencegahannya. Hanya saja, beberapa ahli menganjurkan untuk membiasakan diri mengonsumsi makanan berserat tinggi, buang air besar secara teratur, minum cukup air, dan mengurangi konsumsi alkohol serta kafein. Semuanya ditujukan untuk mengurangi beban pembuluh vena, sekaligus memperlancar metabolisme tubuh.

Makanya, jangan buru-buru memutuskan cerai jika momongan tak juga datang. Siapa tahu, biang keladinya varises tak diundang. (intisari)

sumber:http://www.kompas.com/kesehatan/news/0503/18/124710.htm


Buah Hati Datang Berkat Madu Eksklusif

Nopember 23, 2007

Malam di penghujung Januari 2007 itu beribu rasa berkecamuk di hati Tri Ernita. Tanda positif warna merah muncul di atas alat tes kehamilan. Sudah 1 minggu ini Ernita memang telat haid. Mual, lemas, dan pusing yang terasa seolah tertutup rasa bahagianya. Duabelas tahun menanti, kini si buah hati dambaan datang.

Kebahagiaan langsung menghampiri istri Fachrur Rozi itu waktu memeriksakan diri ke Klinik Yasmin Rumahsakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. ‘Ibu positif hamil!’ kata dr Andon Hestiantoro, SpOG(K).

Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang sejak setahun terakhir merawat Ernita dan Rozi itu langsung merekomendasikan calon ibu untuk banyak istirahat. Pada usia kehamilan rawan-usia Ernita 39 tahun-kandungan harus dijaga ketat. Tanpa banyak pertimbangan, akuntan itu langsung mengambil cuti di luar tanggungan selama 5 bulan.

TesKabar bahagia pada awal Januari 2007 itu jawaban dari penantian panjang pasangan yang menikah pada 1995 itu. Sampai 2 tahun pernikahan belum ada tanda-tanda Ernita hamil.

Menurut dr H Taufik Jamaan, SpOG-dokter spesialis kebidanan dan kandungan Rumahsakit Bunda Jakarta Pusat, 3 hal yang perlu dianalisis pada pasangan yang sulit memiliki keturunan yakni siklus ovulasi, kualitas sperma, dan ovum. Siklus ovulasi berkaitan dengan siklus haid. ‘Jika siklus haid tidak teratur, artinya ovulasi tidak berjalan normal.

Kualitas ovum dicek melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG). Dari USG diketahui ukuran sel telur matang. Lazimnya berukuran 18-20 mm. Jika kurang, artinya telur yang terovulasi belum matang sehingga pembuahan oleh sperma tidak akan berhasil. Bila siklus dan kualitas ovum normal, perlu pengecekan saluran telur untuk melihat ada tidaknya penyumbatan. Penyumbatan disebabkan infeksi, radang panggul, atau keputihan kronis.

Pada laki-laki, analisis sperma dibutuhkan untuk mengecek jumlah dan kualitasnya. ‘Pada kasus infertilitas, 70% disebabkan oleh faktor laki-laki,’ tutur Taufik. Produksi sperma normal 20-juta sel/ml. Dari jumlah itu, 50% sperma mesti bergerak normal, minimal 30% berbentuk normal.

Siklus acakPada kasus Ernita dan Rozi, rupanya siklus perempuan kelahiran 29 Maret 1968 itu tak normal. Lazimnya siklus haid setiap 28 hari, Ernita 40-50 hari sekali. Saat datang bulan, Ernita mengalami nyeri. Untuk mengatasi, dokter memberi obat perangsang ovulasi. Pemeriksaan hidrotubasi untuk mengecek ada tidaknya sumbatan pada saluran indung telur juga dijalani. Hasilnya, normal.

Pada 1999, dokter memvonis Ernita mengidap endometriosis, yaitu ditemukannya jaringan endometrium di luar rahim. Di tempat ini, endometrium tumbuh menjadi bercak, benjolan, dan berlekatan dengan jaringan sekitarnya. Adanya endometriosis antara lain akan menyebabkan rasa sakit pada perut bagian bawah yang kronis, sakit pada waktu haid, dan sulit hamil.

Ernita mengalami perlekatan di rongga panggul. Tindakan operasi dilakukan tahun itu juga. Tak hanya itu, laparoskopi, penanganan dengan sinar laser, juga dilakukan. Laparaskopi untuk mengatasi polycistic ovary yang diderita Ernita. Disebut polycystic ovary bila kilang telur atau ovarium seorang wanita bengkak. Penyebabnya sel telur telah terperangkap dalam ovarium dan tidak menetas pada masa subur.

Sayang, pascaoperasi belum juga terlihat tanda-tanda kehamilan. Ernita mencoba pengobatan alternatif. Atas anjuran teman, Ernita berobat ke seorang romo di Bogor. Ia diberi jamu-jamuan dalam kemasan yang harus dikonsumsi sehari 2 kali. Namun, Ernita hanya mengkonsumsinya tak lebih dari sebulan. ‘Karena saya terlalu sibuk, ditambah lagi konsumsi jamu itu repot,’ ungkapnya.

Kehadiran buah hati sepertinya jauh api dari panggang. Apalagi pada 2002 Ernita sekali lagi mesti menjalani operasi endometriosis. Toh keduanya pantang menyerah, perempuan berkulit putih itu tetap menjalani pengobatan dr H Z Djamal, SpOG dan dr Muharram, SpOG. Mereka memberi obat profertil untuk merangsang ovulasi.

Ernita mengkonsumsi tablet profertil setiap bulan pada hari ke-5 sampai 15 setiap datang masa haid. Pada hari ke-15 itulah Ernita memeriksakan kandungan untuk mengecek ovulasi dan pematangan sel telur. Hasilnya kondisi sel telur normal, tapi kehamilan tak kunjung datang.

Pada 2004, pasangan yang tinggal di Bekasi itu memutuskan menempuh jalur inseminasi. ‘Inseminasi biasa ditempuh pasangan yang sulit punya keturunan. Caranya dengan memilih sperma berkualitas, kemudian menginseminasikannya ke rahim seseorang yang sel telurnya siap dibuahi,’ ungkap dr Taufik Jamaan, SpOG. Inseminasi pertama gagal. Pada 2005, inseminasi kembali dilakukan, tapi tetap tak membuahkan hasil. Karena masih penasaran, pasangan yang selalu sibuk dengan pekerjaannya itu mencoba lagi pada September 2006. Namun, inseminasi itu pun tak berhasil. Hingga akhirnya dokter Andon menyarankan untuk menghentikan obat profertil dan disetujui Ernita.

Madu eksklusifPucuk dicinta ulam tiba. Seorang teman Ernita yang baru pulang dari Selandia Baru menawarkan madu dari Australia. Pada Juli 2006, ia mulai mencoba Manuka Honey itu. Anak ke-3 dari 5 bersaudara itu mengaku tertarik mengkonsumsi madu karena staminanya sering drop. Akibatnya gangguan ringan seperti flu, radang tenggorokan dan sariawan sering menghinggapinya.

Sebulan mengasup madu, Ernita langsung merasakan manfaatnya. ‘Flu tak pernah kambuh lagi,’ ungkap Ernita. Tak hanya itu sariwan yang jadi langganannya pun sangat cepat sembuh setelah dioleskan madu Manuka. Berawal dari efek yang dirasakan itulah, Ernita meyakini madu manuka memiliki kandungan luar biasa untuk menjaga kesehatan dan stamina.

Sejak itu pula pasangan itu rutin mengkonsumsi satu sendok makan madu manuka setiap pagi. Rozy mengikutinya pada malam hari dengan dosis persis istrinya. Sebotol isi 500 g biasanya habis dikonsumsi selama 3 minggu.

Tak diduga, anugerah tak ternilai datang di saat mereka tengah merencanakan program bayi tabung. Siklus haid yang teratur sejak program inseminasi buatan tiba-tiba terlambat. Tak mau banyak berharap, Ernita mengambil alat tes kehamilan dan mencelupkan ke dalam urine. Hasilnya, positif. Keyakinan kian membuncah ketika dokter mengamini kehamilan Ernita yang memasuki usia 3 minggu.

Herbalis Lina Mardiana menyebutkan kandungan madu murni yang belum diolah dapat meningkatkan gairah seksual dan meningkatkan kekentalan sperma. Selain itu madu dapat merangsang pematangan sel telur dan menguatkan rahim. Kini saat kandungan memasuki usia 5 bulan, Ernita masih rajin mengkonsumsi madu manuka. Demi si jabangbayi, perempuan energik itu memilih beristirahat di rumah. Perjuangan selama 12 tahun kini terjawab sudah. (Nesia Artdiyasa)


Terapi untuk Varises

Nopember 23, 2007

Varises adalah penyakit yang dikenal sejak manusia hidup dalam posisi berdiri. Pernah diutarakan bahwa terdapat varises pada mumi Mesir dari tahun 1580 sebelum Masehi.

Varises adalah pelebaran pembuluh darah balik (vena) yang berkelok-kelok dan katup yang terdapat dalam vena tidak berfungsi lagi. Bila hanya melebar saja, tidak disebut varises tetapi venektasi.

Penyebab sesungguhnya dari pelebaran suatu vena belum diketahui. Di antara faktor resiko terhadap varises, kehamilan merupakan faktor pertama, karena tekanan dalam perut yang meninggi atau tekanan langsung pada vena dalam panggul akan menyebabkan aliran vena dari tungkai akan terganggu. Tekanan vena akan meninggi, volume darah akan bertambah, sehingga vena akan melebar. Sebagian besarakan mengecil lagi setelah melahirkan. Pada kehamilan yang berulang-ulang, satu waktu tekanan dalam vena dapat melebihi kekuatan elastisitas dindingnya dan terbentuk varises.

Selain itu vaktor keturunan juga memegang peranan, biasanyaberupa dinding vena yang tipis atau tidak terbentuknya katup. Faktor lain adalah berat badan yang berlebihan dan faktor peradangan. Usia lanjut dan pekerjaan tertentu yang kurang gerakan seperti pekerjaan administrasi atau guru juga merupakan faktor yang mempermudah terjadinya varises.

Perawatan varises dimaksudkan untuk menghilangkan akibat dari katup yang tidak berfungsi. Para ahli berpendapat setiap kasus varises harus dirawat dengan pendekatan yang berbeda, mengingat banyaknya bentuk manifestasi kelainan aliran vena yang disebabkan oleh tidak berfungsinya katup di dalamnya.

Ada 3 cara yang dapat diterapkan sendiri-sendiri ataupun bersamaan, yaitu:
1. Tanpa pembedahan 2. Dengan pembedahan 3. Dengan suntikan sklerotik

Perawatan tanpa pembedahan memakai balutan elastik dari ujung kaki sampai paha dengan maksud memberikan penekanan yang merata untuk membantu aliran darah vena. Hasilnya kan tambah baik bila banyak berjalan. Terutama pada varises waktu hamil, cara ini paling baik. Pemakaian kaos kaki elastik akan memberikan penekanan yang merata dan mudah diganti.

Pembedahan pada varises terdiri dari pengikatan dan pemotongan vena yang mengalami varises. Mobilisasi dan berjalan tanpa menekuk lutut dimulai sehari setelah operasi. Pada varises dengan koreng, tindakan pembedahan lebih baik dari tanpa pembedahan.

Penyuntikan bahan sklerotik dianjurkan bila tidak mau operasi atau bila varisesnya sedikit.Bahan suntikan yan dipakai akan membuat vena yang bersangkutan teroblitrasi. Suntikan pada varisesdilakukan tidak lebih dari enam tempat pada sekali perawatan. Yang perlu diingat adalah tidak pada semua varises dapat dilakukan penyuntikan obat sklerotik.

sumber:http://www.eramuslim.com/konsultasi/sht/6309172807-obatterapi-varises.htm


Khawatir Varises

Nopember 23, 2007

Varises ditandai oleh pelebaran pembuluh darah balik (vena) yang sering tampak berkelok-kelok dan seperti teranyam di jaringan bawah kulit. Varises bisa terjadi pada vena-vena di daerah lambung, tungkai dan di beberapa organ tubuh yang lain. Tulisan kali ini akan membahas tentang varises pada vena tungkai bawah yang selanjutnya akan ditulis varises saja, permasalahan dan penanganannya.

Secara medis, varises dianggap tidak terlalu penting dan jarang memerlukan penanganan. Ini disebabkan karena varises terjadi pada hampir sepertiga orang dewasa dan hanya sedikit yang menimbulkan masalah yang serius. Akan tetapi, secara kosmetik keadaan ini cukup mengganggu dan bisa mengurangi rasa percaya diri. Apalagi beberapa survei telah membuktikan bahwa keindahan kaki adalah salah satu yang menjadi perhatian lawan jenis. Kejadian varises cenderung meningkat seriring usia dan pada saat kehamilan. Beberapa sumber menyebutkan kemungkinan adanya peranan faktor keturunan atau keluarga.

Pada kebanyakan orang juga sering ditemukan telangiectasis, yaitu vena kecil berwarna biru kegelapan seperti vena yang pecah atau laba laba kecil. Keadaan ini tidak sama dengan varises meskipun sering terjadi bersamaan dengan varises. Ini hanya menggangu secara kosmetik dan tidak mengakibatkan gangguan secara medis.

Selain masalah kosmetik, varises ditandai oleh beberapa keluhan. Yang paling sering adalah perasaan tidak nyaman pada tungkai seperti agak gatal, terasa berat dan pegal. Keluhan ini biasanya bertambah berat setelah berdiri lama, berjalan dan pada akhir aktivitas atau sore hari. Keluhan ini bisa dikurangi dengan mengangkat tungkai bawah atau menggunakan stocking khusus saat beraktifitas. Pada pasien yang gemuk, penurunan berat badan juga sering membantu mengurangi gejala.

Pada keadaan yang lebih berat, varises bisa ditandai oleh pembengkakan pada tungkai bawah. Peradangan vena (phlebitis) yang melewati lutut dapat menimbulkan penyumbatan vena yang letaknya lebih di dalam (deep vein thrombosis) dan bisa menimbulkan komplikasi yang serius. Untuk mengobati peradangan tidak dianjurkan untuk menggunakan antibiotik, karena penyebabnya bukanlah infeksi kuman. Pengobatan biasanya terbatas pada penggunaan anti radang dan penghilang rasa nyeri. Pada kasus yang berat gejala bisa disertai perdarahan, perubahan kulit dan ulkus atau luka akibat tekanan vena yang tinggi. Pengobatannya bisa berupa operasi secara konvensional, menggunakan laser dan sclerotherapy. Metode yang terakhir biasanya lebih efektif untuk varises yang lebih kecil. Sclerotherapy biasanya dikerjakan melalui penyuntikan sclerosant ke daerah vena untuk mengurangi varises disertai dengan penekanan, pembebatan atau penggunaan pakaian yang ketat. Beberapa penelitian menunjukkan kekambuhan varises yang sering terjadi setelah lima tahun pengobatan dengan metode ini.

Mengenali jenis pekerjaan anda, apakah melibatkan aktivitas dengan berdiri yang lama merupakan pencegahan yang cukup efektif. Tips kesehatan secara umum yang bisa mecegah terjadinya varises dan memberatnya varises yang sudah ada adalah dengan menjaga berat badan ideal, olahraga yang teratur, menghindari konstipasi (membiasakan buang air besar tiap pagi dan teratur mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan), dan meghindari pemakain sepatu dengan hak tinggi.
Semoga bermanfaat dan tetap sehat di tempat kerja.

Referensi:
1. Campbell B, Varicose veins and their management. BMJ 2006;333;287-292
2. Chengelis DL, Bendick PJ, Glover JL, Brown OW, Ranval TJ. Progression of superficial venous thrombosis to deep vein thrombosis. J Vasc Surg 1996;24:745-9.
3. The Australasian College of Phlebology. Varicose veins. [cited: 9 November 2007] Available from: http://www.phlebology.com.au/forms/selmenu.aspx?selmenu=5
Sumber gambar: Campbell, 2006.

 

sumber lain: http://adywirawan.blogspot.com/2007/11/khawatir-dengan-varises.html

 


Varises

Nopember 23, 2007

Pada prinsipnya yang dimaksud dengan varises adalah pelebaran pembuluh darah balik ( vena ) yang akibat bendungan atau pun berkurangnya tonus otot dan lemahnya katup dalam vena. Penyebabnya dapat akibat bendungan misalnya varises pada ibu hamil, varises esofagus ( saluran makanan sebelum lambung ) dan yang sering juga adalah varises di daerah pembuluh darah sekitar anus  wasir ). Kalau yang disebabkan tekanan/bendungan dapat hilang atau berkurang setelah bendungan itu hilang. Pada ibu hamil selain tekanan rahim diperkirakan ada faktor hormonal juga. Apabila masih ringan varises di kaki dapat dihilangkan dengan memperbaiki tonus otot pembuluh darah dan tonus otot rangka disekitarnya, misalnya dengan berolah raga dan kalau wanita dapat dengan menggunakan medical stockings. Apabila telah parah dan mengakibatkan gangguan misalnya nyeri dan lain2 maka memerlukan tindakan yang bersifat invasif. Yang cukup berbahaya adalah varises esofagus karena umumnya akibat penyakit hati yang berat (sirosis ) dan dapat mengakibatkan
muntah darah. Mungkin bapak dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mencari penyebab dan penanggulangannya. Sebab pada prinsipnya jarang sebagai penyakit yang berdiri sendiri walaupun sering penyakit primernya ringan saja. Kecuali memang dari sananya ada kelemahan tomus otot.

sumber:http://www.geocities.com/Vienna/Strasse/2994/varises.html


Varises Mengancam Jiwa

Nopember 23, 2007

Varises biasanya menyerang kaum ibu yang melahirkan dan terjadi di kaki. Namun gangguan pada pembuluh darah vena ini ternyata bisa juga terjadi di “kutub selatan” alias anus. Bahkan bila fungsi hati terganggu, bisa pula muncul di tenggorokan. Kalau yang terakhir ini terjadi, bisa jadi nyawa taruhannya. Namun jangan khawatir, ada cara menanggulanginya.

Apakah betis Anda sering terasa sakit untuk berjalan? Apakah timbul tonjolan-tonjolan berkelok-kelok berwarna kebiru-biruan pada lapisan atas kulit betis Anda? Bila demikian, mungkin Anda menderita vena varikosa alias varises.

Banyak pendapat, varises kaki - yang banyak menyerang kaum wanita - timbul akibat melahirkan anak. Dengan kata lain, wanita yang melahirkan berisiko tinggi terkena varises. Pendapat tersebut ada benarnya. “Tapi itu tergantung dari bakat seseorang,” kata dr. Zainal Udin, ahli penyakit dalam yang juga wakil direktur bagian medis RSAL Mintohardjo, Jakarta. “Kalau tonus pembuluh balik vena si wanita lemah, tentu ia lebih mudah terkena.” Varises kaki memang berhubungan erat dengan kelemahan-kelemahan struktural tonus otot pembuluh balik atau vena.

Pada dasarnya vena tidak mempunyai cukup kekuatan untuk mendorong darah kembali ke peredaran. Bila dilihat dari perjalanannya, darah keluar dari jantung melalui nadi, menyembur keras dengan debit sekitar 1,5 galon/menit, dibantu oleh tarikan gaya gravitasi serta kemampuan jantung memompa darah. Namun, perjalanannya kembali melalui vena lebih berat karena arah alirannnya ke atas, yaitu dari kaki kembali ke jantung.

Kalau pada pembuluh-pembuluh darah lain, pengembalian darah dibantu oleh otot putih atau otot polos yang terkontraksi, pada vena tidak demikian. Untuk membantu darah bergerak ke atas, vena dilengkapi katup-katup satu arah. Katup itu terbuka untuk membiarkan darah mengalir, kemudian katup menutup kembali setelah darah melaluinya.

Namun, kalau tonus otot di sekitar pembuluh vena yang berfungsi sebagai pompa untuk mengembalikan darah dari jaringan tubuh ke bilik jantung kanan tadi kurang kekuatannya atau lemah, maka terjadilah stasis (aliran darah terhenti) dan darah cenderung berkumpul di dasar vena, sehingga vena melebar. Akibatnya, timbul pengendapan-pengendapan (tromboplebitis) darah pada pembuluh vena yang kemudian membentuk tonjolan-tonjolan besar berkelok-kelok berwarna kebiru-biruan, yang kemudian kita kenal sebagai varises. Tonjolan-tonjolan tersebut berada pada lapisan atas kulit atau epidermis.

Pada saat seorang ibu melahirkan bayi, tekanan dari perut begitu besar sehingga bisa menghambat pembuluh-pembuluh yang berada di bawah. Padahal, pada usia kandungan 7 - 9 bulan, tubuh mengeluarkan suatu hormon yang berfungsi melunakkan jaringan di sekitar vagina agar cukup elastis untuk mengeluarkan sang bayi. Celakanya, hormon yang berguna bagi elastisitas vagina ini malah sering kali melemahkan tonus kaki. Inilah yang kemudian menjadi biang keladi munculnya varises pada kaki.

Varises kaki juga sering dihubungkan dengan orang yang banyak bekerja sambil berdiri. Selagi orang berdiri, sekali lagi ada unsur gravitasi yang menyebabkan tonus harus bekerja keras untuk mengembalikan darah ke atas. Inilah yang kemudian menimbulkan varises.

Bisa sembuh asal belum parah

Pada pria varises kaki jarang terjadi karena kondisi otot tonus pria secara alami lebih kuat dibandingkan dengan wanita. Bila dibandingkan dengan pria, wanita berpeluang lima kali lebih besar.

Varises kaki terasa berat bila sampai terjadi klaudiklasi atau terasa nyeri, tegang, sering mengalami kram kaki, dan terasa lemah saat berjalan. Kalau sudah begini, terapi mesti segera dilakukan. Biasanya, dengan memberi obat yang bersifat menutup pembuluh vena yang tidak sehat lagi, kemudian aliran dialihkan ke pembuluh yang masih sehat. Atau, dengan penyuntikan ke daerah varises (skleroterapi) dengan tujuan sama. Dokter memasukkan cairan yang mengiritasi vena sehinga vena menciut dan akhirnya lenyap.

Bagi yang sudah parah, penyembuhannya dilakukan dengan pembedahan oleh ahli bedah jantung pembuluh. Untuk vena-vena yang besar, bisa dibutuhkan dua-tiga kali suntikan. Pembuluh vena yang mampet dan rusak ditarik dengan kawat dan dibuang. Kemudian ditutup lagi dengan otot baru, yang akan membantu kelancaran peredaran darah ke jantung. Kaki mempunyai ribuan vena yang berkaitan satu dengan yang lain. Bila beberapa vena yang rusak dibuang, tidak akan mempengaruhi fungsinya.

“Sebenarnya varises kaki dapat dicegah bila sejak kecil dibiasakan berolahraga dan makan makanan cukup bergizi,” kata dr. Zainal. Wanita berbakat varises bisa diteliti sebelumnya. Bila pada lapisan atas kulit betis tampak garis-garis pembuluh vena yang lurus atau bercabang-cabang berwarna kebiruan, berarti

ia mempunyai bakat varises. Untuk mengatasinya tentu dengan olahraga secara teratur atau ditanggulangi dengan suntikan. Selain itu, berat badan seimbang hendaknya dipertahankan, mengingat wanita gemuk cenderung lebih mudah terkena varises karena beban tubuh yang berat. Hendaknya juga tidak terlalu sering mengenakan sepatu bertumit tinggi. Pengenaan sepatu macam ini mengakibatkan beban kaki menjadi lebih berat dibandingkan dengan sepatu bertumit rendah. Sebaiknya hindariduduk lama sambil menyilangkan kaki, sebab aliran darah akan terhambat. Latihan menaikkan kaki secara teratur perlu dilakukan, untuk membantu vena-vena agar tidak bekerja terlalu berat.

Bagi yang sudah menderita varises, menurut seorang ahli varises Mitchel P. Goldman M.D. dari AS, hendaknya menjauhi pemakaian celana panjang atau ikat pinggang terlalu ketat dan kaku yang bisa menjepit vena antara jantung dan kaki. Dianjurkan mengenakan kaus kaki elastis pembungkus varises sesuai petunjuk dokter. Tindakan ini memberikan tekanan tertentu untuk mencegah vena yang telah tertutup setelah pengobatan terbuka lagi. Goldman juga mengingatkan untuk tidak sekali-kali merawat varises dengan air hangat atau mandi sauna. Panas akan semakin melebarkan vena sehingga semakin mengurangi tekanan aliran darah ke atas.

Dr. Zainal Udin menambahkan, varises kaki membutuhkan perhatian besar agar vena tidak membengkak yang akan mengakibatkan pengendapan darah. Bila endapan ini sampai terbawa, bisa menyumbat pembuluh pada organ lain seperti ginjal, hati, lambung, dll. “Semakin banyak tonjolan varises yang timbul, semakin membutuhkan perhatian. Namun varises kaki sebagian besar dapat disembuhkan asalkan belum parah keadaannya.”

Perlu dibedakan antara tonjolan pembuluh darah pada penderita varises dan tonjolan pembuluh darah pada para olahragawan atau tenaga kerja kasar. Pada kedua orang yang disebut terakhir itu yang terjadi bukannya varises, melainkan akibat otot-otot yang menguat.

Bisa di anus atau esofagus

Barangkali yang tidak pernah disangka banyak orang, varises ternyata tidak hanya bisa terjadi pada jaringan epidermis kulit kaki, tapi bisa pula timbul pada jaringan mukosa (selaput lendir). Wasir atau hemorrhoid, yang dibedakan atas wasir interna dan eksterna, misalnya, merupakan salah satu contoh lain dari bentuk varises. Varises ini terjadi pada anus, yakni berupa pelebaran pembuluh darah balik di bagian luar “kutub selatan” itu.

Contoh lain yang lebih serius adalah varises esofagus (saluran makanan atas atau tenggorokan) yang hampir selalu dihubungkan dengan gangguan fungsi hati (lever). Di sini, bendungan aliran darah tidak ditimbulkan oleh tonus sekitar esofagus, tapi akibat terjadinya gangguan sirkulasi masuknya darah ke hati.

Pada sel-sel hati terdapat saluran interseluler yang mampu menyaring darah yang mengalir ke situ. Pada hati yang kurang berfungsi baik atau rusak timbul jaringan-jaringan ikat yang mengganggu saluran tersebut. Saluran menjadi macet atau buntu. Akibatnya, aliran darah melalui hati tidak lancar dan pembuluh vena melebar, membesar berkelok-kelok. Pembendungan di hati ini seolah-olah seperti saluran air yang buntu. Maka terbentuklah tonjolan-tonjolan pembuluh vena di esofagus, bahkan ada kalanya sampai ke lambung.

Otot-otot polos pada esofagus yang biasanya dapat mengatasi kelemahan-kelemahan yang terjadi seolah tidak berfungsi lagi. Hal yang dikhawatirkan apabila terjadi pengendapan (tromboplebitis) atau penyumbatan pembuluh darah embolus (emboli) sampai ke organ-organ tubuh lain. Lebih berbahaya lagi kalau sampai pembuluh pecah dan terjadi perdarahan (muntah darah berwarna merah kehitaman seperti kulit anggur).

Biasanya jiwa sulit tertolong kalau sampai terjadi aspecia (darah masuk ke saluran napas), atau terjadi hipocolemic shock (kekurangan darah dan cairan). Pertolongan pertama yang dilakukan adalah segera menyedot darah keluar dengan alat khusus. Kemudian dengan alat endoskopi (deteksi dengan selang serat optik melalui tenggorokan, ke lambung dan usus duabelas jari) dapat dicari daerah terjadinya perdarahan. Kemudian dengan diberi suntikan obat khusus (a.l. Vasopressin, Somatostatin, b-Blocker), pembuluh yang pecah dapat diatasi.

Pengobatan dengan bantuan endoskopi ini tidak cukup dilakukan sekali, tapi harus diulang 5 - 7 hari kemudian. Selanjutnya, pengontrolan dengan endoskopi dilakukan setiap 1 - 2 minggu, lalu setiap enam bulan, sampai perdarahan betul-betul dapat ditanggulangi.

Menurut para ahli bagian endoskopi pencernaan Klinik Mayo, Minnesota, AS, perdarahan dialami oleh 10 - 20% penderita varises esofagus per tahun. Lebih dari 70% penderita kambuh kembali dalam dua tahun bila tidak rutin dikontrol. Namun, dengan semakin canggihnya alat endoskopi, 60- 85% penderita perdarahan bisa tertolong.

Mengingat akibat yang ditimbulkan varises esofagus sangat mengerikan, setiap penderita gangguan hati (terutama sirosis hati) disarankan untuk dirawat dengan baik agar penciutan atau pembengkakan hati tidak semakin parah dan komplikasi bisa dicegah. Selain itu konsumsi makanan perlu diperhatikan untuk menunjang pemulihan fungsi hati.

Diet penderita varises antara lain terdiri atas makanan rendah lemak, karbohidrat yang dihaluskan, serta dianjurkan banyak makan ikan serta buah segar dan sayuran. Hendaknya dihindari mengkonsumsi daging berprotein tinggi, makanan kalengan, keju, dan makanan gorengan. Merokok dan meminum minuman beralkohol sebaiknya juga dihentikan.

Di luar itu dianjurkan untuk disiplin dalam mengkonsumsi suplemen vitamin dan obat-obatan yang dianjurkan dokter. Yang tak kalah penting, berolahraga dan beristirahat dalam takaran yang cukup. (Nanny Selamihardja)

sumber :http://www.indomedia.com/intisari/1997/oktober/varises.htm


Obat wanita keputihan

Nopember 14, 2007

Obati segera keputihan anda dengan ramuan ini :
Bahan :
1. Kunyit 3 biji di parut diambil airnya,
2. Ujungnya daun beluntas (daun muda) di tumbuk halus diambil airnya,
3. Gula aren secukupnya,
4. Asam jawa secukupnya,
Diaduk hingga rata, lalu di minum 1/2 gelas setiap mau tidur, dilakukan selama 1 minggu.
Silahkan mencoba …. terima kasih.

by syafii (primbon jawa)


Obat wanita sakit ketika menstruasi

Nopember 14, 2007

Jamu Wanita Menstruasi

Jika wanita sakit sekali ketika menstruasi sebaiknya minum :

Bahan :
1. Air TEH
2. Kapur sirih secukupnya
Cara :
Bikinlah air teh dan campur dengan kapur sirih secukupnya lalu di minum.


Ramuan untuk merontokkan bulu ketiak

Nopember 14, 2007

Ramuan ini untuk merontokkan bulu ketiak.
Bahan :
1. Merica 10 biji,
2. Kapur barus 3 biji,
3. Minyak pitroli 1 sendok,
Caranya meracik :
Merica di tumbuk halus lalu di campur dengan kapur barus yang di haluskan juga dan minyak pitroli sampai tercampur betul-belul, lalu dioleskan di ketiak sebelum tidur.