Tips Mengurangi Varises

November 23, 2007

Varises membuat kaki tidak sedap dipandang. Berikut adalah yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi varises:

  • Olahraga secara teratur. Berjalan, berlari, bersepeda dan berenang membuat pembuluh darah sehat
  • Konsumsi banyak serat dan kurangi garam
  • Jangan mengenakan sandal atau sepatu hak tinggi
  • Hindari pakaian atau pakaian dalam ketat yang membatasi aliran darah disekitar pinggang, selangkangan dan kaki (ikat pinggang, stocking atau kaus kaki).
  • Jangan menyilangkan atau menekuk kaki dalam waktu yang lama
  • Jika pekerjaan menuntut Anda untuk sering berdiri atau duduk, gerakan dan regangkan kaki, putar-putar pergelangan kaki, dan goyangkan jari sesekali
  • Melakukan peregangan kaki tiap hari
  • Angkat kaki lebih tinggi dari dada kapanpun sempat.
  • Istirahatkan kaki di atas bantal saat tidur
  • Berhenti merokok

sumber : http://lisan.gudangbaca.com/kesehatan/tips_mengurangi_varises


VARISES SAAT HAMIL BISA DICEGAH?

November 23, 2007

Varises di kaki bukan cuma merusak penampilan tapi juga menimbulkan keluhan pegal, kaku, dan rasa nyeri pada bagian betis. Apa yang harus kita lakukan?

Varises kerap muncul pada saat kita berbadan dua. Gangguan berupa pelebaran pembuluh darah balik ini tampaknya memang sepele, tapi ternyata cukup mengganggu. Kadang, kaki terasa pegal atau kaku.

Kemunculan varises ditandai dengan penonjolan-penonjolan pembuluh darah ke permukaan kulit di daerah betis. Biasanya varises berwarna hijau kebiru-biruan. Tonjolan ini bisa kecil, bisa juga sangat besar. Yang jelas, kurang sedaplah jika dipandang dan kerap membuat si pemilik varises merasa rendah diri.

ASAL-USUL

Apa sebetulnya yang terjadi? Sebenarnya penonjolan-penonjolan ini merupakan pembendungan aliran darah yang terjadi pada pembuluh-pembuluh darah balik (vena). “Fungsi pembuluh vena yang normal dan sehat adalah membawa darah kotor (darah yang banyak mengandung karbondioksida) kembali ke jantung,” ujar dr. Nanang Hasani, Sp.OG, dari RSIA Hermina .

Karena harus bekerja melawan gaya berat, maka pembuluh vena dirancang untuk memiliki serangkaian katup yang mencegah membaliknya aliran darah. Bila katup ini hilang, darah cenderung berkumpul pada vena di mana tarikan gaya beratnya besar, seperti kaki dan anus. Nah, karena terbendung, aliran darah pun mencari jalan alternatif.

Caranya ? Dengan membuat “jalan baru” melalui pembuluh-pembuluh lain yang lebih kecil yang terletak lebih dalam. “Jalan baru” ini bisa terbentuk bukan cuma di kaki saja, melainkan di bagian tubuh mana saja.

MUNCUL SAAT HAMIL

Gangguan varises cenderung lebih banyak menyerang wanita yang bertubuh gemuk dibanding pria. Dan kerap dialami pertama kali oleh wanita yang sedang hamil. Bisa diduga penyebabnya adalah perubahan bentuk rahim yang kian membesar ukurannya, semakin menekan sejumlah pembuluh darah balik di sekitar bagian perut. Akibatnya, terjadilah penyempitan pada pembuluh darah yang tertekan, sehingga aliran darah di beberapa daerah bagian bawah perut menjadi tidak lancar.

Kecuali pembesaran ukuran rahim, hormon pun diduga menjadi penyebab timbulnya varises. Seperti kita tahu kehamilan membawa perubahan hormon. Hormon progresteronlah yang bertanggung jawab pada keadaan yang menyebabkan perubahan pada elastisitas dinding pembuluh darah.

Umumnya wanita yang sudah terkena varises sebelum hamil, akan mengalami varises yang lebih parah saat berbadan dua. Begitu juga varises akan muncul pada wanita hamil di atas usia 40 tahun atau pada kehamilan kedua, ketiga, dan seterusnya serta pada kehamilan dengan bayi kembar.

Kecuali hal yang sudah disebutkan, varises saat hamil bisa juga muncul akibat adanya infeksi.

BISA DI VAGINA

Betis memang bagian yang paling sering terkena serangan varises. Dan varises di bagian inilah yang paling mengganggu penampilan. Tapi sebenarnya varises bisa menyerang bagian tubuh lain, misalnya di anus, yang dikenal dengan istilah wasir atau ambeien.

Pada ibu hamil, varises pun bisa menyerang daerah vagina dan jalan lahir. Memang sangat jarang terjadi. Tapi, varises di bagian bisa menjadi masalah yang cukup serius karena akan mengganggu kelancaran proses melahirkan. “Gangguan proses persalinan akibat varises bisa membahayakan jiwa calon ibu yang menjalani persalinan normal. Sebab, saat proses mengejan yang kuat bisa mengakibatkan pecahnya varises yang ada di daerah vagina. Akibatnya akan terjadi perdarahan hebat,” ungkap dr. Nanang.

Umumnya dokter akan menyarankan bedah caesar bagi ibu hamil yang sejak awal sudah terdeteksi mengalami varises di jalan lahir atau di vagina. Tujuannya untuk mencegah perdarahan yang tidak diharapkan.

MIRING KIRI

Varises yang muncul saat hamil umumnya diakibatkan oleh kehamilan itu sendiri. Varises ini muncul karena adanya perubahan pada fungsi dan alat tubuh, juga akibat perubahan hormon. Varises ini sulit dicegah kemunculannya.

Beberapa latihan memang bisa mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan varises, seperti pegal dan rasa kaku di kaki. Sering-seringlah mengangkat kaki sehingga posisinya menjadi lebih tinggi dari bagian tubuh lain. Ini bisa dilakukan selama beberapa waktu untuk mengurangi bendungan darah.

Tapi, perlu diingat cara tersebut di atas tidak menghilangkan varises sama sekali. Begitu juga dengan obat-obatan antivarises atau stocking kaki varises.

Untuk mengurangi terjadinya varises, ibu hamil sebaiknya sering berbaring dengan posisi miring ke kiri. Tujuannya agar pembuluh darah balik yang menuju ke jantung yang terletak di belakang rahim agak ke kanan, tidak tertekan.

INFEKSI

Keluhan varises berupa kaki bengkak atau rasa nyeri biasanya timbul apabila varises terserang infeksi. Keadaan ini disebut plebitis. Kuman penyebab infeksi ini masuk ke dalam tubuh pada waktu proses persalinan berlangsung. Kuman yang berhasil masuk lalu akan ikut aliran darah dan sampai di bagian tubuh yang terserang varises.

Inilah salah satu yang menyebabkan varises menetap kendati persalinan sudah berlalu. Malah si ibu akan merasakan sakit yang bertambah. Infeksi varises ini bisa menimbulkan demam dan pembengkakan.

Plebitis bisa juga diakibatkan oleh thrombus, yaitu zat pembeku pada darah dari rahim yang masuk ke dalam aliran darah. Kondisi ini dalam dunia kedokteran disebut thromboplebitis. Umumnya dokter akan memberi obat anti-pembengkakan dan anti-infeksi untuk mencegah thromboplebitis. Memang jenis yang ini jarang terjadi. Tapi mungkin saja, kan?

Mengurangi Rasa Nyeri

*Tegakkan Tungkai

Istirahat sambil tiduran, angkat kaki lebih tinggi untuk beberapa waktu. Apabila Anda duduk di kursi, letakkan kaki pada bangku penyangga. Atau bersantailah dengan menyelonjorkan kaki.

* Jalan-Jalan

Rajin-rajinlah berjalan kaki karena berjalan akan merangsang aliran darah. Gunakanlah alas kaki yang enak dipakai dan aman. Yang perlu diingat, jangan berdiri terlalu lama atau duduk terlalu lama. Berganti-ganti posisi dengan mencari posisi yang nyaman.

* Senam Hamil

Senam hamil akan membantu si ibu berlatih pernafasan pada waktu mengejan, melatih otot-otot panggul, dan mengurangi rasa sakit akibat varises.
* Hindari Pakaian Ketat

Hindari pakaian sempit yang mengganggu sirkulasi darah.

* Konsumsi Makanan Bergizi

Perbanyaklah makanan berserat tinggi seperti sayuran dan buah-buahan. Ini bisa mencegah sembelit dan menjauhkan Anda dari varises di sekitar anus dan vagina.

* Mencegah Infeksi

Cegahlah infeksi dengan pola hidup bersih. Misalnya, biasakan mencuci tangan dan kaki dengan sabun. Segera hubungi dokter apabila terjadi pembengkakan atau rasa nyeri.

Riesnawiati Soelaeman.

sumber: http://www.mail-archive.com/milis-nakita@news.gramedia-majalah.com/msg03647.html

VARISES MENGHAMBAT PERSALINAN NORMAL

November 23, 2007

Ternyata, varises bukan cuma terjadi di kaki, tapi juga bisa di vagina dan anus. Hati-hati, karena berisiko terjadi perdarahan sewaktu persalinan.
Bisa dipastikan, tak ada wanita yang tak ingin tampil indah. Begitu pun kala hamil. Itu sebab tak setiap wanita siap menghadapi perubahan tubuh yang terjadi saat hamil. Sekalipun perubahan itu terjadi di kaki semisal varises. Betapa tidak? Kehadiran tonjolan biru melingkar-lingkar seperti cacing ini membuat kaki yang semula mulus jadi hilang keindahannya.

Namun yang harus dicemaskan bukan hilangnya keindahan si kaki, melainkan si varises. Pasalnya, hampir semua wanita hamil yang mengalami varises di kaki, di vaginanya pun ada varises. Ini berbahaya, lo, karena bisa menghambat persalinan, terutama bagi mereka yang melakukan persalinan secara normal atau pervaginam.

Bukan berarti yang kakinya mulus alias tak terkena varises, akan aman-aman saja, lo. Soalnya, bisa terjadi si varises memang tak bersarang di kaki, melainkan di vagina dan jalan lahir atau di anus. “Bila varisesnya besar-besar di daerah jalan lahir atau dubur, akan berisiko terjadi perdarahan waktu persalinan, karena pembuluh darah yang membesar itu bisa pecah akibat tertekan tubuh janin saat meluncur keluar dalam persalinan,” terang dr. Judi Januadi Endjun, SpOG, Sonologist, dari FK UPN Veteran/Departemen Obstetri dan Ginekologi RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Bahkan, saat mengejan pun, bisa saja pembendungan pada pembuluh-pembuluh darah di sekitar jalan lahir tak bisa ditahan oleh dinding pembuluh hingga pecah dan timbullah perdarahan hebat. Akibatnya, harus dilakukan bedah sesar pada si ibu untuk mencegah perdarahan hebat.

PERUBAHAN NORMAL

Varises, terang Judi, merupakan pelebaran pembuluh darah vena atau pembuluh darah balik yang diakibatkan kelemahan pada dinding otot pembuluh darah tersebut atau karena ada gangguan pada klep vena.

Saat hamil, wanita akan mengalami perubahan hormonal, terutama peningkatan hormon progesteron. Perubahan hormonal yang besar itu mengakibatkan terjadi perubahan fisik dan psikis yang nyata. Misal, payudara membesar dan aerola mammae yang tampak lebih kehitaman, tubuh terasa lemas, pusing, serta merasa mual-muntah.

Nah, perubahan hormonal juga berpengaruh pada dinding pembuluh darah, yaitu membuat elastisitas dinding pembuluh darah makin bertambah, hingga dinding pembuluh darah (baik arteri maupun vena) makin lentur. Akibatnya, pembuluh darah jadi tambah besar dan melebar. Namun pembesaran dan pelebaran ini terlihat lebih nyata pada pembuluh darah vena karena pembuluh darah vena lebih tipis dibanding pembuluh darah arteri (nadi).

Pelebaran pembuluh darah ini perlu untuk memenuhi kebutuhan janin, agar aliran darah dan volume darah yang memang makin meningkat pada wanita hamil dapat tersuplai dengan baik, hingga pertumbuhan janin pun berlangsung normal. Bukankah rahim yang membesar butuh penyediaan aliran darah yang banyak, hingga pembuluh-pembuluh darah yang menjadi tempat darah mengalir akan bertambah besar dan banyak?

Namun, akibat efek mekanik penekanan rahim, maka aliran darah balik dari anggota gerak bawah dan panggul mengalami hambatan hingga terjadi bendungan yang bisa menyebabkan pelebaran vena atau varises.

TERGANTUNG BESAR RAHIM

Pada wanita hamil, umumnya varises terjadi di daerah panggul dan anggota gerak bagian bawah. Soalnya, pembuluh-pembuluh darah di daerah itulah yang berhubungan erat dengan rahim. Sementara kemunculannya bisa kapan saja, bahkan bisa sejak kehamilan trimester pertama, tergantung sebelumnya sudah ada varises atau tidak. Yang jelas, tegas Judi, sejalan bertambahnya usia kehamilan, biasanya varises makin tambah parah.

Varises bertambah besar bila aliran darah di pembuluh vena mengalami bendungan. Pembendungan bisa terjadi, seperti diungkap di atas, akibat efek mekanik penekanan rahim. Adapun besarnya pembendungan aliran darah amat tergantung besarnya rahim. Makanya, varises makin parah di bulan-bulan terakhir kehamilan karena beban perut makin besar. Bukankah makin bertambah usia kehamilan, rahim pun akan makin besar? Nah, rahim yang makin besar ini, makin lama makin menekan pembuluh darah balik yang terdapat di bagian bawah perut.

Selain itu, bagian kepala janin yang sudah turun ke rongga panggul juga mempengaruhi. Akibatnya, aliran peredaran darah di daerah itu tak lancar. Aliran darah yang terhambat dan terbendung inilah yang tampak sebagai tonjolan di bawah kulit. Pada betis, tonjolan itu tampak sebagai garis-garis panjang warna hijau kebiru-biruan.

Pembesaran ini makin diperparah oleh sikap tubuh yang salah semisal berdiri terus-menerus, duduk yang terlalu lama, dan sering mengangkat beban berat. Terlebih bila wanita hamil kurang berolahraga. Itu sebab, wanita hamil dianjurkan rajin berolah raga agar aliran darah tetap lancar.

Sementara varises di anus yang lebih dikenal dengan istilah ambeien, salah satu pemicunya adalah kebiasaan buang air besar dengan cara duduk. Mereka yang kurang menkonsumsi makanan berserat pun punya kecenderungan cukup besar untuk menderita varises di anus.

Kecenderungan varises juga makin besar terjadi pada wanita yang pernah hamil dan melahirkan anak lebih dari 2 kali maupun wanita hamil usia di atas 40 tahun. Penyebabnya, tak lain ada arteriosclerosis (penebalan dinding pembuluh darah) yang berdampak dinding pembuluh darah jadi kehilangan daya lentur/elastisitasnya. Kekakuan dinding arteri ini akan menghambat aliran vena, hingga varises pun timbul.

Selain tentu saja varises juga terjadi pada mereka yang memang berbakat.

SULIT DIOBATI

Untuk varises di kaki, pembesaran bisa dicegah dengan memakai stocking khusus. Sayang, stocking ini tak nyaman dipakai karena menimbulkan rasa gerah lantaran iklim di Indonesia yang panas.

Sementara pembesaran varises di vagina dan anus, tak ada alat khusus yang bisa mencegahnya. Namun bila wanita hamil rajin mengangkat kaki dengan cara menaruhnya di atas bantal kala sedang tidur-tiduran atau membaca buku, sedikit banyak bisa membantu melancarkan aliran darah. Dengan cara ini diharapkan beban yang harus ditopang kaki jadi makin berkurang. Selain penggunaan sepatu, sebaiknya dengan hak maksimal 2 cm agar aliran darah tak terhambat. Kemudian saat tidur, usahakan jangan berbaring hanya dalam satu posisi untuk menghindari tekanan pada pembuluhpembuluh darah di satu tempat.

Akan halnya pengobatan varises, biasanya cuma bersifat mengurangi keluhan. Soalnya, varises yang terjadi saat kehamilan amat sulit diobati. Selain harus memperhitungkan dampak negatif yang mungkin terjadi pada janin, juga proses terjadi varises berkaitan dengan kehamilan. Bukankah makin tua usia kehamilan akan makin besar rahim, hingga makin besar pula efek bendungan pada pembuluh-pembuluh vena hingga varises makin besar?

Makanya, saran Judi, mereka yang berbakat atau sudah punya penyakit ini, sebaiknya varises diobati sebelum hamil. Jikapun keluhannya sudah terasa mengganggu, akan diberi obat oles yang memunculkan efek menghangatkan. Kadang juga diberi vitamin tambahan yang bekerja untuk syaraf seperti vitamin B1, B6, dan B12. Atau bahkan diberi suntikan yang bersifat mengurangi rasa sakit, karena varises yang parah akan dirasakan pegal-pegal, panas, dan sakit oleh si ibu hingga membuatnya sering merasa tak nyaman serta menimbulkan banyak keluhan dan stres. Tentu obat suntiknya harus dipilih yang aman bagi janin.

TAK BISA NORMAL LAGI

Menurut Judi, wanita yang pada kehamilan pertamanya mengalami varises, biasanya pada kehamilan kedua dan seterusnya akan makin parah varisesnya. Soalnya, elastisitas otot-otot jadi berubah, hingga varises yang diderita pun makin berat. Pada kasus ini, biasanya untuk kembali normal akan sulit, hingga jalan operasilah yang bisa mengatasinya.

Umumnya, varises yang terjadi karena kehamilan akan hilang sendiri setelah kelahiran bayi. Bukankah dengan mengecilnya rahim, pembendungan tak ada lagi, hingga aliran darah pun lancar kembali? Namun begitu, untuk sebagian wanita mungkin saja tak bisa normal kembali. Jadi, varisesnya masih tampak besar-besar, hingga perlu penanganan dokter lebih lanjut.

Waktu menghilangnya pun tak sama pada masing-masing ibu. Ada yang dalam waktu cepat bisa hilang, misal, setelah kelahiran bayi, tapi ada pula yang hingga waktu nifas baru hilang. “Tiap wanita punya ciri dan sifat sendiri dalam tubuhnya, termasuk dalam susunan pembuluh darahnya,” kata Judi. Hal ini pula yang menyebabkan tak setiap wanita akan mengalami varises.

Tips Mencegah Varises

* Rajin senam.
* Tak mengenakan pakaian ketat.
* Sesering mungkin mengangkat kaki lebih tinggi dari tubuh.
* Jika otot kaki terasa pegal, pijatlah hingga aliran darah kembali normal.

Mencegah Ambien Bertambah Parah

Biasanya dokter akan memeriksa varises di anus (ambeien) dan saluran pembuangan bagian bawah ini dengan alat bernama anuskopi. Dari situ dokter bisa melihat, apakah varises akan membahayakan kehamilan dan proses persalinan atau tidak.

Saran Judi, bila memang sudah punya ambeien sebelum hamil, lebih baik ambeiennya dioperasi dulu sebelum kehamilan berlangsung. Soalnya, jika sudah kadung hamil, tak bisa dilakukan tindakan operasi. Yang bisa dilakukan hanya mencegah agar pembuluh darah tak bertambah melebar.

Pencegahan bisa dilakukan, antara lain:

- Jangan menunda keinginan buang air besar, tapi cobalah usahakan untuk buang air besar secara teratur tiap hari.

- Usahakan minum air jangan kurang dari 2 liter per hari.

- Perbanyak makanan yang mengandung serat, seperti sayuran dan buah-buahan.

- Lakukan olahraga secara teratur, terutama olahraga untuk orang hamil, seperti senam hamil.

- Jika sudah kadung ada perdarahan atau nyeri yang hebat di daerah tersebut, segera konsultasikan ke dokter.

Indah Mulatsih

sumber: http://www.mail-archive.com/milis-nakita@news.gramedia-majalah.com/msg03647.html


Pencegahan Varises

November 23, 2007

Beberapa cara mencegah munculnya Varises:

  1. Untuk meningkatkan kekuatan otot kaki dan vena, lakukan olahraga yang teratur
  2. Kurangi menggunakan sepatu hak tinggi karena penggunaan otot betis menjadi tidak maksimal. Bila memang harus selalu menggunakan sepatu hak tinggi, sering istirahat dan menggerakkan kaki setiap 15 menit.
  3. Hindari berdiri terlalu lama. Bila tuntutan kerja mengharuskan anda banyak berdiri, pindahkan beban dari satu kaki ke kaki yang lainnya setiap beberapa menit.
  4. Jangan duduk sambil menyilangkan kaki terlalu lama karena dapat menghambat peredaran darah
  5. Jangan sering menggunakan pakaian ketat pada bagian pinggang, paha dan kaki
  6. Biasakan mengkonsumsi vitamin C dan E sebab baik untuk pembuluh darah.
  7. Banyak mengkonsumsi makanan berserat, buah dan sayur
  8. Kurangi konsumsi garam untuk menghindari pembengkakkan
  9. Hindari makanan pedas karena dapat merangsang pelebaran pembuluh darah
  10. Lakukan senam kaki. Sambil duduk putar pergelangan kaki searah jarum jam dan sebaliknya
  11. Angkat kaki saat beristirahat
  12. Berdiri tegak setiap 45 menit setelah anda duduk bekerja seharian
  13. Mandi dengan air panas dan dingin bergantian sangat baik untuk peredaran darah

sumber : http://www.obi.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=56&Itemid=2


Varises Vagina

November 23, 2007

oleh Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, SpOG

VARISES adalah pembuluh darah balik di bawah kulit atau selaput lendir (mukosa) yang melebar dan berkelok/melingkar akibat kelainan katup dalam pembuluh darah balik tersebut. Biasanya varises terjadi pada tangan dan kaki, namun pada beberapa orang dapat terjadi di tempat-tempat lain seperti pada lambung, rectum (usus besar dekat anus), vagina, skrotum, dan vulva (bibir kemaluan). Sekira 20-30% wanita mengalami varises, terutama pada kehamilan.

Banyak faktor yang merupakan faktor risiko (bukan penyebab) meningkatkan kemungkinan terjadinya varises, seperti faktor keturunan, jenis kelamin (wanita empat kali lebih sering dari laki-laki), kehamilan, kegemukan (obesitas), pekerjaan yang membutuhkan lama duduk atau lama berdiri, pil KB atau pengobatan dengan estrogen.

Pada umumnya varises tidak menyebabkan gejala yang terlihat hanyalah penonjolan pembuluh darah di bawah kulit atau mukosa. Pada varises vagina, pelebaran pembuluh darah akan terlihat di bawah lapisan selaput lendir vagina. Pada sebagian penderita varises, terutama varises pada kaki, kaki akan terasa berat, lelah dan nyeri yang bertambah apabila ia banyak berdiri atau duduk. Gatal-gatal atau perubahan warna kulit menjadi kebiruan juga merupakan ciri-ciri varises.

Pada kebanyakan wanita hamil yang mengalami varises vagina, persalinan normal masih dapat dilakukan, kecuali pada varises vagina yang sangat berat, dokter akan menganjurkan operasi sesar. Dokter akan dapat mengetahuinya ketika memeriksa panggul saat kehamilan atau pemeriksaan persalinan. Setelah persalinan, dengan sendirinya varises akan mengecil dan seringnya tidak mengganggu lagi. Apabila ibu hamil lagi, pada umumnya varises akan datang kembali.

Pendarahan karena varises vagina, pada umumnya terjadi saat persalinan karena pecahnya dinding pembuluh darah akibat trauma/laserasi jalan pada saat bayi lahir. Sangat jarang perdarahan akibat varises biasanya terjadi lama setelah persalinan.

Pada kehamilan yang akan datang, informasikan apa yang telah Ibu alami, periksakan keadaan varisesnya dan rencanakan jenis persalinan apa yang akan dijalani.

Mengingat satu dari tiga ibu hamil mengalami varises, sebaiknya Ibu jangan terlalu cemas untuk hamil kembali.

sumber : ::pikiranrakyat::


Varises di Buah Zakar

November 23, 2007

Apa sih arti varikosel? Pernah lihat varises di betis? Ya, varikosel kejadiannya hampir sama dengan varises di betis, bedanya varikosel terdapat di buah zakar.

Koq bisa sih timbul varises di buah zakar? Buah zakar seperti halnya betis, punya pmebuluh vena. Pembuluh vena ini akan membesar dan berkelok-kelok jika ada hambatan aliran di dalamnya. Hambatan dapat disebabkan penyempitan atau terjepitnya pembuluh vena di bagian hilir, atau kerusakan pada klep venanya.

Apakah varikosel mempengaruhi kejantanan? Kalo kejantanan diasosiasikan dengan ereksi, sepertinya tidak. Tapi kalo kejantanan diasosiakan dengan kemampuan seorang laki-laki untuk membuat istrinya hamil, ini baru ya. Aliran darah yang baik berfungsi mengantarkan nutrisi untuk produksi sperma, juga berguna mengatur suhu sekitar buah zakar. Dua hal ini memegang peran penting agar sperma yang diproduksi jumlahnya cukup dan kondisinya normal. Jika aliran darah terganggu, sehingga pengangkutan nutrisi dan pengaturan suhu tidak berjalan baik, maka sperma yang diproduksi sedikit atau tidak ada sama sekali, atau kondisinya cacat.

Apa sih gejala varikosel? Kalo masih ringan sampai sedang, biasanya ga bergejala. Kalaupun ada gejalanya minimal sekali, sehingga kadang tidak disadari. Kalo varikoselnya sudah berat, buah zakar terasa berat dan panas, timbul rasa nyeri dan pegal-pegal di selangkangan, dapat menjalar sampai pinggang. Kadang-kadang varikosel dapat teraba. Bentuknya benjolan seperti cacing berkelok-kelok.

Apa yang bisa mencetuskan varikosel? Kebiasaan duduk terlalu lama dan memakai celana ketat dianggap turut berperan terhadap timbulnya varikosel.

Untuk memastikan varikosel atau bukan, caranya bagaiman? Memang sih, setiap benjolan di buah zakar belum tentu varikosel. Untuk memastikannya, sedikitnya ada dua cara. Pertama dengan venogram, yaitu menyuntikkan cairan kontras ke pangkal pembuluh vena spermatik, kemudian perjalanan cairan kontras ini dipindai dengan sinar X. Cara kedua, USG Doppler. Dengan alat ini, aliran pembuluyh vena spermatik di visualisasikan di layar monitor. Pemeriksaan ini jauh lebih nyaman, karena ga ada penyuntikan bahan-bahan tertentu. Selain itu, hasilnya pun lebih akurat.

Apa obatnya? Sampai saat ini belum ditemukan obat yang benar-benar efektif. Sebagian penderita ada yang sembuh dengan konsumsi obat-obatan. Sebagian lainnya, konsumsi obat tidak mempengaruhi varikoselnya. Ada bebarapa cara lain yang disarankan, seperti memakai penyangga buah zakar, namun cara ini hanya disarankan bila varikosel masih ringan dan tidak ada kemandulan. Sampai saat ini, cara terbaik untuk mengatasi varikosel adalah dengan memperbaiki pembuluh vena dan memperlancar sirkulasinya yang terhambat adalah dengan pembedahan. Melalui pembedahan, sekitar 70 – 80% panderita varikosel kembali subur.

Kebiasaan apa aja yang mesti dilestarikan agar terhidar dari varikosel? Beberapa saran yang baik untuk dilakukan : jangan duduk terlalu lama dan hindari memakai celanan ketat, serta olah raga teratur. Kurangi beban pembuluh vena dengan cara konsumsi makanan berserat tinggi, buang air besar teratur, cukup minum air, jangan mengkonsumsi alkohol, hindari kafein berlebihan. Jika ada gejala di buah zakar, jangan buru-buru ke dukun, tapi periksakan diri ke dokter atau pusat kesehatan.

sumber : http://www.infomedika.blogspot.com/2006/09/varikosel-varises-di-buah-zakar.html


Urat-urat Menyembul di Kaki

November 23, 2007

SAYA seorang gadis berusia 26 tahun. Sekira 1 bulan lagi akan menikah, tetapi saya merasa terganggu, kadang-kadang tidak pede dengan keadaan kaki saya yang terlihat jelas uratnya yang tampak membesar, ada urat besar dan ada urat kecil. Selama ini saya selalu merasakan pegal mulai dari pinggul sampai telapak kaki terutama setelah jalan-jalan.

1. Apakah pegal yang saya rasakan itu adalah berasal dari adanya urat-urat yang membesar tersebut?

2. Apakah urat-urat yang membesar tersebut disebut varises? Saya sangat takut akan efeknya bila saya hamil nanti, karena saya dengar 30-40% wanita hamil menderita varises.

3. Apakah benar urat yang membesar itu akibat kebiasaan memakai sepatu dengan hak tinggi?

4. Bagaimana cara menyembuhkannya agar urat-urat yang membesar tersebut kembali normal dan tidak tampak lagi?

Penjelasan oleh Dr. Hendro Sudjono Yuwono, dr.Sp.BV, Ka. Sub. Bag. Bedah Vaskuler RS Hasan Sadikin Bandung

KELUHAN urat membesar pada tungkai bawah tersebut adalah keluhan yang lebih sering dijumpai pada wanita, tetapi dapat juga dijumpai pada laki-laki, meskipun lebih jarang. Adapun yang Anda sebut sebagai urat, sebenarnya adalah pembuluh darah vena, yang berfungsi mengembalikan darah dari kaki ke jantung. Maka untuk selanjutnya sebaiknya kita menggunakan istilah vena, dan bila vena tersebut melebar, menonjol, bahkan berkelok-kelok disebut varises. Varises tungkai seringkali ditemukan pula pada anggota keluarga lainnya (adik atau kakak, atau orang tua), walaupun penelitian mengenai latar belakang genetiknya (apakah varises diturunkan atau tidak) masih terbatas. Sesungguhnya varises yang muncul pada tungkai penderita berusia muda (belasan atau 20-an) bukanlah penyakit yang berbahaya, tetapi memang sering menimbulkan masalah kosmetik bagi wanita muda yang biasanya sering memperhatikan tungkainya. Sehingga dapat menimbulkan perasaan tidak pede. Selain masalah kosmetik, dapat dijumpai keluhan seperti pegal-pegal pada sekujur tungkai terutama di bagian bawah tungkai di daerah otot kaki dan betis, rasa berat dan bengkak, kram otot-otot jari atau otot betis, rasa lelah, bahkan dapat pula menimbulkan rasa nyeri. Keluhan-keluhan tersebut biasanya dirasakan setelah kegiatan jalan-jalan atau banyak melakukan kegiatan sambil berdiri. Keluhan-keluhan tersebut dapat segera berkurang atau menghilang setelah istirahat dengan berbaring beberapa menit, terutama setelah kedua tungkai diangkat lebih tinggi dari posisi jantung. Keluhan-keluhan yang telah disebutkan tadi muncul akibat aliran darah pada vena-vena tersebut menjadi tidak lancar karena pembuluh vena yang ukurannya membesar (melebar) dan berkelok-kelok. Pembuluh vena mengalirkan darah dari kaki menuju jantung dengan melawan pengaruh gravitasi (gaya berat atau gaya tarik bumi). Untuk memperlancar aliran tersebut maka pada pembuluh vena terdapat banyak katup-katup yang menjaga agar darah yang telah naik tidak kembali turun, sehingga aliran darah vena dapat mengalir teratur menuju jantung. Tetapi seringkali pada penderita varises mengalami kelemahan dinding pembuluh sehingga katup-katup menjadi tidak berfungsi, akibatnya aliran darah tidak lancar.

Varises tungkai lebih banyak dijumpai pada wanita yang mempunyai anak banyak. Kehamilan bukanlah penyebab dari timbulnya varises untuk pertama kali, tetapi kehamilan dapat menimbulkan varises yang lebih banyak, yaitu pada wanita-wanita yang sebelum kehamilannya, disadari atau tidak, sudah memiliki varises tungkai. Bila frekuensi kehamilan lebih dari dua kali, biasanya varises tungkai akan lebih banyak dibandingkan wanita yang hamil hanya dua kali saja.

Masih belum jelas diketahui mengenai alasannya mengapa kehamilan dapat meningkatkan risiko terjadinya varises tungkai. Tetapi pada kehamilan akan terdapat pengaruh hormon yang dapat menimbulkan kelemahan dinding vena yang dapat menimbulkan pelebaran vena. Atau jumlah volume darah yang memang bertambah pada saat kehamilan merupakan beban bagi pembuluh vena, sehingga dapat terjadi pelebaran pada pembuluh vena tingkat. Tetapi pembesaran rahim pada kehamilan tidak merupakan penyebab terjadinya varises, karena varises pada kehamilan kebanyakan muncul sejak 3 bulan pertama. Karena itu sering ditemukan varises tungkai pada waktu kehamilan pertama dan yang kedua kalinya, tetapi setelah melahirkan varises tersebut akan berkurang sendiri. Tetapi pada kehamilan yang ketiga kalinya atau lebih, varises yang sudah timbul selama kehamilan sering tidak berkurang setelah melahirkan.

Penggunaan sepatu hak tinggi akan lebih melelahkan si pemakainya, sehingga akan menambah berat keluhannya dibandingkan dengan yang tidak memakai hak tinggi. Karena itu dianjurkan terutama bagi penderita varises untuk tidak memakai sepatu hak tinggi.

Pengobatan varises tungkai dapat diberikan oleh dokter, yaitu dengan menasihatkan penderitanya untuk memakai stoking khusus varises. Stoking khusus harus dikenakan setiap hari secara teratur, dengan demikian keluhan-keluhan akan teredam atau berkurang selama memakai stoking, walaupun setelah stoking dilepaskan (dilepaskan bila mandi, ambil air wudu, tidur) varises tetap ada. Selain penggunaan stoking, biasanya diperlukan obat tertentu (obat tersebut berasal dari tanaman obat dan telah diteliti keberhasilannya dalam mengurangi keluhan varises tungkai) yang harus diminum secara teratur setiap hari untuk mengurangi keluhan pegal, nyeri dan keluhan lainnya. Bila varises tersebut akan dihilangkan, dokter dapat melakukan penyuntikan cairan khusus ke dalam vena yang mengalami varises, cara pengobatan ini disebut skleroterapi. Cara pengobatan skleroterapi ini biasanya sudah cukup untuk menghilangkan varises tungkai, sehingga tidak tampak lagi, atau mengecilkan pelebaran vena yang mengalami varises, tanpa perlu menjalani operasi pengangkatan varises. Jenis makanan sehari-hari yang cukup berserat (nabati) sangat penting diperhatikan, karena kebiasaan mengonsumsi makanan yang tak berserat (hewani) dapat menimbulkan kesulitan buang air besar (konstipasi). Kebiasaan mengejan berlebihan pada waktu buang air besar dapat mengganggu aliran darah vena tungkai, yang lama kelamaan dapat menimbulkan pelebaran vena. Selain mengandung banyak nutrisi yang mampu memperkuat dinding vena dan dapat mencegah perkembangan varises, sayuran dan buah-buahan segar juga mengurangi keluhan-keluhan akibat varises.sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0805/07/hikmah/kesehatan.htm


Jangan Sepelekan Varises

November 23, 2007

Varises ternyata lebih suka menyerang wanita. Mau tahu sebabnya? Bukan karena wanita itu indah dan cantik. Tetapi, wanita memiliki kulit yang lebih lunak. Belum lagi, gangguan hormonal pun lebih tinggi terutama saat wanita mengalami pubertas dan kehamilan.

Varises sendiri merupakan kelainan pada pembuluh darah balik (vena), di mana terjadi penurunan atau hilangnya elastisitas dinding vena, vena yang berkelok-kelok, dan kerusakan katub.

Menurut Dr Hilman Ibrahim SpBV dari FKUI/RSCM, hingga saat ini belum diketahui pasti penyebab utama varises. Namun, faktor predisposisinya adalah karena faktor keturunan keluarga, obesitas (kegemukan), tekanan darah abdominal, obat-obatan, dan terlalu lama berdiri. Gejala klinis yang biasa ditimbulkan, yakni rasa nyeri, kejang, berat di betis, kram, dan tromboflebitis (panas dan nyeri).

“Rasa pegal dan berat di betis itu tetap terjadi meski kita sedang beristirahat dan pada tingkat paling berat, timbulnya inflamasi kronis (daerah mata kaki), seperti hiperpigmentasi (statis dermatitis) dan ulkus (koreng). Bahkan untuk wanita hamil dapat menimbulkan pendarahan,” ujarnya kepada pdpersi.co.id, beberapa waktu lalu, di Jakarta.

Berbahaya bagi Proses Persalinan

Banyak orang kurang menghiraukan varises. Padahal, tahukah anda, pada masa kehamilan, penyakit ini bisa menjadi lebih serius. Pasalnya, varises ternyata berbahaya bagi proses persalinan.

Menurut Dr Lucky Savitry WK SpOG dari RS MH Thamrin International Salemba, sirkulasi darah pada ibu hamil lebih banyak dibanding masa tidak hamil. “Tak heran jika perubahan pada pembuluh darah terlihat semakin jelas menjelang akhir kehamilan,” tuturnya kepada pdpersi.co.id.

Ditambahkannya, banyak orang mengira, pembesaran rahim yang menekan pembuluh-pembuluh darah besar di depan dan di samping tulang punggung, menyebabkan darah vena (darah balik) yang kembali dari bagian bawah ke jantung menjadi kurang lancar. Sehingga terjadi bendungan dalam pembuluh-pembuluh balik di tungkai, di bawah kulit, di vulva, vagina, atau di dubur dengan akibat melebarnya pembuluh-pembuluh balik itu.

Namun kenyataannya, lanjut Dr Lucky, varises sudah dapat timbul di usia kehamilan muda bahkan banyak wanita mengetahui dirinya hamil, dari melihat jelasnya gambaran vena di daerah tertentu atau timbulnya varises, sebelum haidnya terlambat.

“Karena itu, sebenarnya melebarnya pembuluh-pembuluh balik itu dianggap sebagai reaksi sistem vena terutama dindingnya, terhadap perubahan hormonal dalam kehamilan di mana otot polos dinding pembuluh darah melemah,” tuturnya menjelaskan.

Umumnya, kata Dr Lucky, keluhan yang ditimbulkan akibat varises bagi wanita hamil, berupa gangguan kosmetik, gatal-gatal, pegal, dan nyeri di dubur. Tetapi setelah bayi keluar, keluhan-keluhan ini biasanya akan hilang atau berkurang. Meski demikian, bila tidak melakukan pencegahan, varises akan muncul kembali, apalagi makin tua, elastisitas dinding vena makin berkurang.

Sedangkan bahayanya dalam kehamilan dan persalinan, baik di vulva, vagina, maupun ditungkai, adalah kemungkinan pecahnya pembuluh darah.

sumber:http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=668&tbl=biaswanita


Testis Terkena Varises

November 23, 2007

Penulis: dr. Muhammad Ahsan, di Balikpapan

Varises bukanlah monopoli betis. Testis pun bisa terkena serangan varises. Celakanya, varises yang satu ini bisa bikin mandul. Karenanya, waspadalah bila tiba-tiba di organ intim Anda, kaum pria muncul pelebaran pembuluh darah.

Sebagai pasutri, Dody dan Liza benar-benar sempurna. Sama-sama keren, muda, dan enerjik. Makanya mereka benar-benar tak habis pikir, mengapa sampai tahun ketiga perkawinan, belum juga mendapat jabang bayi. Lebih kaget lagi, ketika diberi tahu dokter, semua itu ternyata gara-gara varises. Jangankan Dody dan Liza, para tetangga dan kerabat saja banyak yang membelalakkan mata. Yang mereka tahu, varises itu biasanya menyerang kaki. Itu pun lebih sering terjadi pada wanita hamil. Makanya, kabar bahwa kualitas sperma Dody kurang baik lantaran terganggu varises, akhirnya menjadi cerita yang senantiasa berujung pada beragam tanda tanya.

Meski kalau mau bertanya pada ahlinya, penyebab kemandulan Dody sebenarnya memiliki landasan ilmiah yang jelas. Pada kasus pasutri itu, dokter kandungan mereka menemukan fakta bahwa semua organ reproduksi Liza normal, sedangkan Dody selain bermasalah dengan spermanya, juga memiliki varises pada testis. Varises testis itulah yang diduga mengganggu kesuburan sang Arjuna.

Dokter menyarankan Dody berolahraga teratur, istirahat yang cukup, serta mengonsumsi makanan bergizi. Tak lupa, ia membuat surat rujukan ke urolog (ahli bedah saluran kencing), agar varises bermasalah itu segera ditarigani.

Menyerang Usia Panas

“Oooh, jadi varises yang menyerang suamimu itu bukan varises yang biasa muncul di kaki ibu-ibu to?” selidik ibu mertua Dody.

“Iya, juga bukan varises yang muncul saat ibu hamil dulu,” imbuh Liza. Menyitir ucapan dokter kandungannya, Liza menambahkan, “Varises Mas Dody adanya di testis, yang dalam dunia kedokteran biasa disebut varikosel.”

Walaupun jarang terdengar, varikosel bukan penyakit baru. Ia pertama kali ditemukan ahli bedah Prancis, Ambroise Pare pada abad ke-16, meski saat itu hanya ditinjau dari sudut ilmu bedah, dengan fokus pada kelainan pembuluh darah testis. Baru akhir abad ke-19, dr. Barfield, seorang ahli bedah Inggris menemukan, jumlah sperma penderita varikosel menurun, bahkan bila sudah parah dapat menyebabkan henti sperma (azoospermi, ada air mani tapi tidak ada sperma). Sejak itu, varikosel mulai mendapat perhatian serius dari para ilmuwan.

Varikosel sendiri merupakan pelebaran pembuluh darah vena yang berhubungan dengan testis, gudang sekaligus pabrik sperma. Pelebaran pembuluh darah itu terjadi karena adanya kerusakan pada sistem katup pembuluh darah, yang seharusnya membawa darah dari testis menuju perut bagian bawah, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke sistem sirkulasi.

Akibat kerusakan sistem katup itu, darah menumpuk dan melebarkan pembuluh darah yang tentu saja mengalir tidak normal. Nah, ketidaknormalan aliran darah balik ke testis inilah yang ujung-ujungnya menurunkan fungsi testis dan menyebabkan suhu dalam testis meningkat alias tidak normal lagi. Padahal, selama ini aliran darah dalam testislah yang bertugas mengatur suhu yang optimal bagi sperma.

Itu sebabnya, mengapa pada kondisi dingin, testis mengecil (mengerut) dan pada saat panas atau hangat, testis menjadi sebaliknya. Peningkatan suhu dalam testis diyakini akan merusak dan mematikan sperma. Bahkan menghambat produksi sperma yang baru. Inilah yang diyakini para ahli punya andil dalam proses kemandulan atau ketidaksuburan, yang dalam dunia medis biasa disebut infertilitas.

Repotnya, walaupun penyebab infertilitas terdiri atas banyak faktor, saham varikosel ternyata cukup signifikan. Sebuah penelitian menemukan, hampir separuh di antara lelaki infertil, didapati menderita varises di organ intim itu. Yang mengejutkan, dalam survei yang dilakukan secara acak, dilaporkan juga, dari sekian banyak pasien lelaki dewasa yang dianggap atau menganggap dirinya sehat, setelah diperiksa ternyata 10 – 20% -nya menderita varikosel.

Persentase itu diperoleh dari penelitian kasus varikosel yang dilaporkan dan ditangani para ahli bedah di Amerika Serikat. Namun, setelah dibandingkan dengan hasil yang diperoleh di Inggris, dan juga negara Eropa lain, persentasenya ternyata tidak jauh berbeda. Maka dibuatlah kesimpulan umum bahwa 10 – 20% pria yang semula menyatakan diri sehat, setelah diperiksa ternyata menderita varikosel. Dari para penderita itu, sekitar 40% di antaranya terbukti mandul.

Lebih repot lagi, usia penderita varikosel itu ternyata tak jauh dari umur produktif, antara 15 – 25 tahun. Usia emas yang mestinya sedang hot-hot-nya! Sayangnya, tak ada penelitian dan data pasti tentang penderita varikosel di Indonesia. Mungkin karena urolog di sini tidak terlalu sering menemukan kasus varikosel di kliniknya. Kalaupun ada yang ditangani, jumlahnya tidak terlalu signifikan.

Banyak di Kiri

  • Lalu, bagaimana caranya mengenali ciri-ciri varikosel?

Inilah masalahnya. Kadang-kadang, varikosel pada tahap dini dijumpai tanpa gejala sama sekali. Keberadaannya hanya bisa diketahui lewat tes radiologi. Tak heran banyak pria terkaget-kaget, begitu mendapat vonis vanises di testis. “Kok munculnya tanpa ba-bi-bu sih?” koor mereka senada.

Biasanya, baru pada tahap lanjut, gejala varikosel yang paling umum dan gampang dirasakan muncul ke permukaan. Misalnya rasa nyeri dan tidak nyaman yang menetap pada testis, ukuran yang ridak sama antara testis kiri dan testis kanan, serta masa infertilitas yang cukup lama. Secara fisik pun, bila diraba, bakal terasa adanya pembesaran vena yang bentuknya bagai kumpulan cacing atau spageti di bawah kulit.

“Penampakan” tadi bisa ditemukan di sisi kiri maupun kanan testis. Hanya saja, selama ini 85% varikosel ditemukan di sebelah kiri. Ini ada kaitannya dengan faktor anatomi pembuluh darah testis itu. Vena spermatik kiri mengalir ke vena ginjal, diapit dua arteri besar; arteri mesenterik superior (yang ke usus) dan aorta yang dan jantung. Kedua arteri ini dapat menekan vena ginjal dan menghambat aliran darah dari vena spermatik.

Sebaliknya pada bagian kanan, vena spermatik kanan mengalir ke vena cava (yang ke jantung), dan jarang mendapat tekanan. Itulah sebabnya mengapa sisi kiri lebih sering bermasalah. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang lebih akurat, pemeriksaan sebaiknya dilakukan di rumah sakit, dengan alat yang lebih lengkap dan canggih, seperti stetoskop Doppler, venogram, maupun USG skrotal.

Venogram adalah prosedur pemeriksaan vena yang dilakukan di luar tubuh pasien. Pasien cukup dianastesi lokal di daerah pangkal paha, lalu dokter menyuntikkan sejenis cairan khusus yang berwarna ke vena spermatik. Cairan tersebut akan ikut aliran darah vena dan dapat dilihat oleh dokter lewat sinar-X, sehingga varikosel yang sangat kecil sekali pun akan terlihat bila memang ada.

Ini cara sederhana, namun akurat. Sedangkan USG (ultrasonografi) skrotal pemeriksaan dengan menggunakan pantulan ultrasound, untuk mendeteksi karakteristik suara aliran darah balik (vena spermatic) melalui katup pembuluh darah. Tidak perlu suntikan, tidak mengintervensi tubuh pasien, lebih nyaman dibandingkan dengan venogram, hanya tidak seakurat venogram. Hasilnya pun sangat dipengaruhi oleh ketelitian dan keahlian penguji.

Sampai saat ini belum ada obat yang dianggap efektif untuk menyembuhkan varikosel. Beberapa peneliti mencoba dengan antioksidan untuk meningkatkan level reaksi oksigen organ, agar bisa memperbaiki diri. Namun, pemanfaatan antioksidan masih dalam taraf percobaan, belum jadi rujukan. Ada cara lain yang dikembangkan, dengan memakai penyangga testis, seperti celana hernia, namun hanya disarankan bila varikosel masih ringan dan tidak ada infertilitas.

Prinsip terapi yang disepakati paling baik adalah dengan memperbaiki kembali pembuluh darah dan sirkulasinya yang mampet. Istilah medisnya, varicocele repair. Cara memperbaikinva, sebagian besar ahli bedah masih sepakat bahwa operasi konvensional masih merupakan pilihan terbaik.

Jangan takut, survei keberhasilan pascaoperasi verikosel ini cukup menggembirakan, kok. Sekitar 50 – 60% suami yang menderita varikosel, akhirnya bisa kembali menjadi ”lelaki sejati”, setelah menjalani operasi. Bahkan mereka rata-rata mendapatkan jabang bayi pada tahun pertama pascaoperasi. Sedangkan 75% berhasil menjadi ayah pada tahun kedua pascaoperasi.

Kurangi beban vena

  • “Tapi Dok, saya ini orangnya penakut. Jangankan dioperasi, melihat ruang bedah saja bulu kuduk langsung merinding.”

Jika Anda termasuk orang yang bersuara hati seperti itu, jangan dulu putus asa. Beberapa tahun belakangan ini mulai dikembangkan penanganan varikosel nonoperatif yang disebut embolisasi varikosel. Efektivitasnya hampir sama dengan operasi konvensional.

Embolisasi adalah teknik nonbedah yang biasa dilakukan bila varikosel belum terlalu berat, belum menyebabkan kerusakan testis, belum menimbulkan rasa nyeri dan atropi testis. Caranya dengan memasukkan sebuah kateter melalui sebuah irisan kecil dipangkal paha, untuk membendung aliran darah ke varikosel. Venografi yang dibuat dan dilihat lewat sinar-X menjadi penuntun kateter.

Kateter lalu digunakan untuk mendorong koil (logam) kecil ke tempat darah dibendung untuk melebarkan vena. Ini cara simpel mengurangi tekanan vena, mengurangi pembesaran dan mengembalikan sirkulasi darah normal. Pasien hanya dibius lokal, tidak kehilangan kesadaran, tidak harus rawat inap, dan bisa beraktivitas normal kembali dalam dua hari. Cuma, ya itu, biayanya lebih mahal dan tidak semua rumah sakit punya fasilitasnya.

Satu hal yang perlu diingat, baik mengobati dengan cara operatif maupun non-operatif, kemungkinan kambuhnya varikosel tetap ada. Walaupun persentasinya kecil dan tidak sebesar tingkat keberhasilannya.

Lantaran penyebab varikosel kebanyakan faktor anatomis, tidak ada cara yang benar-benar efektif untuk pencegahannya. Hanya saja, beberapa ahli menganjurkan untuk membiasakan diri mengonsumsi makanan berserat tinggi, buang air besar secara teratur, minum cukup air, dan mengurangi konsumsi alkohol serta kafein. Semuanya ditujukan untuk mengurangi beban pembuluh vena, sekaligus memperlancar metabolisme tubuh.

Makanya, jangan buru-buru memutuskan cerai jika momongan tak juga datang. Siapa tahu, biang keladinya varises tak diundang. (intisari)

sumber:http://www.kompas.com/kesehatan/news/0503/18/124710.htm


Terapi untuk Varises

November 23, 2007

Varises adalah penyakit yang dikenal sejak manusia hidup dalam posisi berdiri. Pernah diutarakan bahwa terdapat varises pada mumi Mesir dari tahun 1580 sebelum Masehi.

Varises adalah pelebaran pembuluh darah balik (vena) yang berkelok-kelok dan katup yang terdapat dalam vena tidak berfungsi lagi. Bila hanya melebar saja, tidak disebut varises tetapi venektasi.

Penyebab sesungguhnya dari pelebaran suatu vena belum diketahui. Di antara faktor resiko terhadap varises, kehamilan merupakan faktor pertama, karena tekanan dalam perut yang meninggi atau tekanan langsung pada vena dalam panggul akan menyebabkan aliran vena dari tungkai akan terganggu. Tekanan vena akan meninggi, volume darah akan bertambah, sehingga vena akan melebar. Sebagian besarakan mengecil lagi setelah melahirkan. Pada kehamilan yang berulang-ulang, satu waktu tekanan dalam vena dapat melebihi kekuatan elastisitas dindingnya dan terbentuk varises.

Selain itu vaktor keturunan juga memegang peranan, biasanyaberupa dinding vena yang tipis atau tidak terbentuknya katup. Faktor lain adalah berat badan yang berlebihan dan faktor peradangan. Usia lanjut dan pekerjaan tertentu yang kurang gerakan seperti pekerjaan administrasi atau guru juga merupakan faktor yang mempermudah terjadinya varises.

Perawatan varises dimaksudkan untuk menghilangkan akibat dari katup yang tidak berfungsi. Para ahli berpendapat setiap kasus varises harus dirawat dengan pendekatan yang berbeda, mengingat banyaknya bentuk manifestasi kelainan aliran vena yang disebabkan oleh tidak berfungsinya katup di dalamnya.

Ada 3 cara yang dapat diterapkan sendiri-sendiri ataupun bersamaan, yaitu:
1. Tanpa pembedahan 2. Dengan pembedahan 3. Dengan suntikan sklerotik

Perawatan tanpa pembedahan memakai balutan elastik dari ujung kaki sampai paha dengan maksud memberikan penekanan yang merata untuk membantu aliran darah vena. Hasilnya kan tambah baik bila banyak berjalan. Terutama pada varises waktu hamil, cara ini paling baik. Pemakaian kaos kaki elastik akan memberikan penekanan yang merata dan mudah diganti.

Pembedahan pada varises terdiri dari pengikatan dan pemotongan vena yang mengalami varises. Mobilisasi dan berjalan tanpa menekuk lutut dimulai sehari setelah operasi. Pada varises dengan koreng, tindakan pembedahan lebih baik dari tanpa pembedahan.

Penyuntikan bahan sklerotik dianjurkan bila tidak mau operasi atau bila varisesnya sedikit.Bahan suntikan yan dipakai akan membuat vena yang bersangkutan teroblitrasi. Suntikan pada varisesdilakukan tidak lebih dari enam tempat pada sekali perawatan. Yang perlu diingat adalah tidak pada semua varises dapat dilakukan penyuntikan obat sklerotik.

sumber:http://www.eramuslim.com/konsultasi/sht/6309172807-obatterapi-varises.htm


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.