Testis Terkena Varises

Penulis: dr. Muhammad Ahsan, di Balikpapan

Varises bukanlah monopoli betis. Testis pun bisa terkena serangan varises. Celakanya, varises yang satu ini bisa bikin mandul. Karenanya, waspadalah bila tiba-tiba di organ intim Anda, kaum pria muncul pelebaran pembuluh darah.

Sebagai pasutri, Dody dan Liza benar-benar sempurna. Sama-sama keren, muda, dan enerjik. Makanya mereka benar-benar tak habis pikir, mengapa sampai tahun ketiga perkawinan, belum juga mendapat jabang bayi. Lebih kaget lagi, ketika diberi tahu dokter, semua itu ternyata gara-gara varises. Jangankan Dody dan Liza, para tetangga dan kerabat saja banyak yang membelalakkan mata. Yang mereka tahu, varises itu biasanya menyerang kaki. Itu pun lebih sering terjadi pada wanita hamil. Makanya, kabar bahwa kualitas sperma Dody kurang baik lantaran terganggu varises, akhirnya menjadi cerita yang senantiasa berujung pada beragam tanda tanya.

Meski kalau mau bertanya pada ahlinya, penyebab kemandulan Dody sebenarnya memiliki landasan ilmiah yang jelas. Pada kasus pasutri itu, dokter kandungan mereka menemukan fakta bahwa semua organ reproduksi Liza normal, sedangkan Dody selain bermasalah dengan spermanya, juga memiliki varises pada testis. Varises testis itulah yang diduga mengganggu kesuburan sang Arjuna.

Dokter menyarankan Dody berolahraga teratur, istirahat yang cukup, serta mengonsumsi makanan bergizi. Tak lupa, ia membuat surat rujukan ke urolog (ahli bedah saluran kencing), agar varises bermasalah itu segera ditarigani.

Menyerang Usia Panas

“Oooh, jadi varises yang menyerang suamimu itu bukan varises yang biasa muncul di kaki ibu-ibu to?” selidik ibu mertua Dody.

“Iya, juga bukan varises yang muncul saat ibu hamil dulu,” imbuh Liza. Menyitir ucapan dokter kandungannya, Liza menambahkan, “Varises Mas Dody adanya di testis, yang dalam dunia kedokteran biasa disebut varikosel.”

Walaupun jarang terdengar, varikosel bukan penyakit baru. Ia pertama kali ditemukan ahli bedah Prancis, Ambroise Pare pada abad ke-16, meski saat itu hanya ditinjau dari sudut ilmu bedah, dengan fokus pada kelainan pembuluh darah testis. Baru akhir abad ke-19, dr. Barfield, seorang ahli bedah Inggris menemukan, jumlah sperma penderita varikosel menurun, bahkan bila sudah parah dapat menyebabkan henti sperma (azoospermi, ada air mani tapi tidak ada sperma). Sejak itu, varikosel mulai mendapat perhatian serius dari para ilmuwan.

Varikosel sendiri merupakan pelebaran pembuluh darah vena yang berhubungan dengan testis, gudang sekaligus pabrik sperma. Pelebaran pembuluh darah itu terjadi karena adanya kerusakan pada sistem katup pembuluh darah, yang seharusnya membawa darah dari testis menuju perut bagian bawah, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke sistem sirkulasi.

Akibat kerusakan sistem katup itu, darah menumpuk dan melebarkan pembuluh darah yang tentu saja mengalir tidak normal. Nah, ketidaknormalan aliran darah balik ke testis inilah yang ujung-ujungnya menurunkan fungsi testis dan menyebabkan suhu dalam testis meningkat alias tidak normal lagi. Padahal, selama ini aliran darah dalam testislah yang bertugas mengatur suhu yang optimal bagi sperma.

Itu sebabnya, mengapa pada kondisi dingin, testis mengecil (mengerut) dan pada saat panas atau hangat, testis menjadi sebaliknya. Peningkatan suhu dalam testis diyakini akan merusak dan mematikan sperma. Bahkan menghambat produksi sperma yang baru. Inilah yang diyakini para ahli punya andil dalam proses kemandulan atau ketidaksuburan, yang dalam dunia medis biasa disebut infertilitas.

Repotnya, walaupun penyebab infertilitas terdiri atas banyak faktor, saham varikosel ternyata cukup signifikan. Sebuah penelitian menemukan, hampir separuh di antara lelaki infertil, didapati menderita varises di organ intim itu. Yang mengejutkan, dalam survei yang dilakukan secara acak, dilaporkan juga, dari sekian banyak pasien lelaki dewasa yang dianggap atau menganggap dirinya sehat, setelah diperiksa ternyata 10 – 20% -nya menderita varikosel.

Persentase itu diperoleh dari penelitian kasus varikosel yang dilaporkan dan ditangani para ahli bedah di Amerika Serikat. Namun, setelah dibandingkan dengan hasil yang diperoleh di Inggris, dan juga negara Eropa lain, persentasenya ternyata tidak jauh berbeda. Maka dibuatlah kesimpulan umum bahwa 10 – 20% pria yang semula menyatakan diri sehat, setelah diperiksa ternyata menderita varikosel. Dari para penderita itu, sekitar 40% di antaranya terbukti mandul.

Lebih repot lagi, usia penderita varikosel itu ternyata tak jauh dari umur produktif, antara 15 – 25 tahun. Usia emas yang mestinya sedang hot-hot-nya! Sayangnya, tak ada penelitian dan data pasti tentang penderita varikosel di Indonesia. Mungkin karena urolog di sini tidak terlalu sering menemukan kasus varikosel di kliniknya. Kalaupun ada yang ditangani, jumlahnya tidak terlalu signifikan.

Banyak di Kiri

  • Lalu, bagaimana caranya mengenali ciri-ciri varikosel?

Inilah masalahnya. Kadang-kadang, varikosel pada tahap dini dijumpai tanpa gejala sama sekali. Keberadaannya hanya bisa diketahui lewat tes radiologi. Tak heran banyak pria terkaget-kaget, begitu mendapat vonis vanises di testis. “Kok munculnya tanpa ba-bi-bu sih?” koor mereka senada.

Biasanya, baru pada tahap lanjut, gejala varikosel yang paling umum dan gampang dirasakan muncul ke permukaan. Misalnya rasa nyeri dan tidak nyaman yang menetap pada testis, ukuran yang ridak sama antara testis kiri dan testis kanan, serta masa infertilitas yang cukup lama. Secara fisik pun, bila diraba, bakal terasa adanya pembesaran vena yang bentuknya bagai kumpulan cacing atau spageti di bawah kulit.

“Penampakan” tadi bisa ditemukan di sisi kiri maupun kanan testis. Hanya saja, selama ini 85% varikosel ditemukan di sebelah kiri. Ini ada kaitannya dengan faktor anatomi pembuluh darah testis itu. Vena spermatik kiri mengalir ke vena ginjal, diapit dua arteri besar; arteri mesenterik superior (yang ke usus) dan aorta yang dan jantung. Kedua arteri ini dapat menekan vena ginjal dan menghambat aliran darah dari vena spermatik.

Sebaliknya pada bagian kanan, vena spermatik kanan mengalir ke vena cava (yang ke jantung), dan jarang mendapat tekanan. Itulah sebabnya mengapa sisi kiri lebih sering bermasalah. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang lebih akurat, pemeriksaan sebaiknya dilakukan di rumah sakit, dengan alat yang lebih lengkap dan canggih, seperti stetoskop Doppler, venogram, maupun USG skrotal.

Venogram adalah prosedur pemeriksaan vena yang dilakukan di luar tubuh pasien. Pasien cukup dianastesi lokal di daerah pangkal paha, lalu dokter menyuntikkan sejenis cairan khusus yang berwarna ke vena spermatik. Cairan tersebut akan ikut aliran darah vena dan dapat dilihat oleh dokter lewat sinar-X, sehingga varikosel yang sangat kecil sekali pun akan terlihat bila memang ada.

Ini cara sederhana, namun akurat. Sedangkan USG (ultrasonografi) skrotal pemeriksaan dengan menggunakan pantulan ultrasound, untuk mendeteksi karakteristik suara aliran darah balik (vena spermatic) melalui katup pembuluh darah. Tidak perlu suntikan, tidak mengintervensi tubuh pasien, lebih nyaman dibandingkan dengan venogram, hanya tidak seakurat venogram. Hasilnya pun sangat dipengaruhi oleh ketelitian dan keahlian penguji.

Sampai saat ini belum ada obat yang dianggap efektif untuk menyembuhkan varikosel. Beberapa peneliti mencoba dengan antioksidan untuk meningkatkan level reaksi oksigen organ, agar bisa memperbaiki diri. Namun, pemanfaatan antioksidan masih dalam taraf percobaan, belum jadi rujukan. Ada cara lain yang dikembangkan, dengan memakai penyangga testis, seperti celana hernia, namun hanya disarankan bila varikosel masih ringan dan tidak ada infertilitas.

Prinsip terapi yang disepakati paling baik adalah dengan memperbaiki kembali pembuluh darah dan sirkulasinya yang mampet. Istilah medisnya, varicocele repair. Cara memperbaikinva, sebagian besar ahli bedah masih sepakat bahwa operasi konvensional masih merupakan pilihan terbaik.

Jangan takut, survei keberhasilan pascaoperasi verikosel ini cukup menggembirakan, kok. Sekitar 50 – 60% suami yang menderita varikosel, akhirnya bisa kembali menjadi ”lelaki sejati”, setelah menjalani operasi. Bahkan mereka rata-rata mendapatkan jabang bayi pada tahun pertama pascaoperasi. Sedangkan 75% berhasil menjadi ayah pada tahun kedua pascaoperasi.

Kurangi beban vena

  • “Tapi Dok, saya ini orangnya penakut. Jangankan dioperasi, melihat ruang bedah saja bulu kuduk langsung merinding.”

Jika Anda termasuk orang yang bersuara hati seperti itu, jangan dulu putus asa. Beberapa tahun belakangan ini mulai dikembangkan penanganan varikosel nonoperatif yang disebut embolisasi varikosel. Efektivitasnya hampir sama dengan operasi konvensional.

Embolisasi adalah teknik nonbedah yang biasa dilakukan bila varikosel belum terlalu berat, belum menyebabkan kerusakan testis, belum menimbulkan rasa nyeri dan atropi testis. Caranya dengan memasukkan sebuah kateter melalui sebuah irisan kecil dipangkal paha, untuk membendung aliran darah ke varikosel. Venografi yang dibuat dan dilihat lewat sinar-X menjadi penuntun kateter.

Kateter lalu digunakan untuk mendorong koil (logam) kecil ke tempat darah dibendung untuk melebarkan vena. Ini cara simpel mengurangi tekanan vena, mengurangi pembesaran dan mengembalikan sirkulasi darah normal. Pasien hanya dibius lokal, tidak kehilangan kesadaran, tidak harus rawat inap, dan bisa beraktivitas normal kembali dalam dua hari. Cuma, ya itu, biayanya lebih mahal dan tidak semua rumah sakit punya fasilitasnya.

Satu hal yang perlu diingat, baik mengobati dengan cara operatif maupun non-operatif, kemungkinan kambuhnya varikosel tetap ada. Walaupun persentasinya kecil dan tidak sebesar tingkat keberhasilannya.

Lantaran penyebab varikosel kebanyakan faktor anatomis, tidak ada cara yang benar-benar efektif untuk pencegahannya. Hanya saja, beberapa ahli menganjurkan untuk membiasakan diri mengonsumsi makanan berserat tinggi, buang air besar secara teratur, minum cukup air, dan mengurangi konsumsi alkohol serta kafein. Semuanya ditujukan untuk mengurangi beban pembuluh vena, sekaligus memperlancar metabolisme tubuh.

Makanya, jangan buru-buru memutuskan cerai jika momongan tak juga datang. Siapa tahu, biang keladinya varises tak diundang. (intisari)

sumber:http://www.kompas.com/kesehatan/news/0503/18/124710.htm

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: