Menambal Jantung si Upik

Mei 24, 2007

Tangis Syifa Zulfikria mereda setelah Syawlia Basriani, sang ibu, memberikan sebotol susu. Bocah 4 tahun itu asyik meminum susu cokelat dalam botol berukuran 120 ml. Syifa tampak sehat, aktif, dan lincah. Padahal, ia mengidap ventricular septal defect (VSD) alias bilik jantung bocor sejak berusia 9 bulan.

Tak ada yang berbeda dari Syifa. Layaknya seorang balita, Syifa senang bermain. Syawlia mengizinkan anaknya bebas beraktivitas padat karena batuk, pilek, dan demam yang diderita Syifa itu sembuh.

Sejak berusia 3 bulan, ketiga penyakit itu memang sering menyerang Syifa. Tak lama sembuh, sepekan kemudian sakit lagi. Saat malam, bocah itu kerap menangis, susah tidur, dan sesak napas. Wajahnya letih dan lesu. Ia juga gampang lelah. Demam tinggi hingga 40oC juga pernah dialami siswa Taman Bermain Sekar Melati, Bekasi, itu. Bolak-balik ke dokter tidak membuat kondisi Syifa membaik.

Jantung bocorKondisi anaknya yang tak kunjung membaik mendorong Syawlia membawa Syifa ke dokter spesialis anak. Hasil diagnosis di luar dugaan. Dokter di kawasan Paseban, Jakarta Pusat, itu menyarankan untuk membawa Syifa ke spesialis jantung.

Semula Syawlia tidak percaya dengan diagnosis dokter, sehingga saran itu diabaikan begitu saja. Masa anak kecil jantungan, kata Syawlia tak percaya. Namun, 3 bulan berselang, penyakit itu tak kunjung sembuh. Selama 9 bulan, bobot tubuh Syifa tidak meningkat. Suplemen dan vitamin anak yang diasup tidak mampu meningkatkan bobot tubuhnya.

Khawatir dengan kondisi putrinya, dokter spesialis anak kembali disambangi. Berbekal surat rujukan, Syifa menjalani pemeriksaan ekokardiografi di Rumahsakit Ciptomangunkusumo, Jakarta. Hasilnya, dokter spesialis jantung anak menyatakan, ada kelainan bawaan pada jantung Syifa. Kelainan itu adalah ventricular septal defect (VSD), ada kebocoran pada bilik kiri jantung selebar 3,5 mm. Namun, karena lubang tergolong kecil, penanganannya hanya kontrol tiap bulan dan pemeriksaan ekokardiografi tiap 6 bulan.

Operasi hanya bisa dilakukan bila kebocoran 10-12 mm. Lagi pula ada kemungkinan penyakit itu sembuh sendiri seiring waktu. Dokter pun tidak memberikan obat. Hanya saja dokter menyarankan, banyak istirahat, konsumsi makanan bergizi, dan hindari perjalanan jauh.

Dicampur susuLantaran tak mau diam, bocah periang itu dibebaskan bermain. Menjelang tidur kadang-kadang, ia mengeluh lelah minta dipijat. Saat pemeriksaan kedua pada September 2004, kebocoran membesar menjadi 5 mm. Syawlia pasrah. Saya hanya bisa menunggu penyakit membaik dengan sendirinya, ujar istri Irfansyah itu.

Di antara kegalauan itu, kerabat di Bogor menawarkan spirulina. Syawlia akhirnya memberikan ganggang hijau biru itu kepada putrinya. Ia mencampur sekaleng susu 400 gram dan satu sendok teh spirulina. Sekali minum, 60 gram susu plus spirulina itu dicampur air putih jadi 120 ml susu cokelat. Sehari Syifa bisa lima kali minum.

Empat bulan mengkonsumsi spirulina mulai terlihat perbedaan. Bobot badan mulai meningkat 0,5-1 kg per bulan. Batuk dan pilek pun menjauh. Syifa terlihat lebih segar dan sehat. Kebahagiaan Syawlia bertambah ketika hasil pemeriksaan ekokardiografi ketiga: lubang dinyatakan mengecil menjadi 4 mm.

Tidak biruVSD merupakan penyakit jantung bawaan. Penyakit itu ditandai kebocoran pada ventrikel atau bilik. Ada lubang antara ventrikel kanan dan ventrikel kiri sehingga mengganggu aliran darah. Pada kasus VSD, aliran darah mengalir langsung dari ventrikel kanan ke ventrikel kiri karena ada lubang antara ventrikel. Imbasnya, tekanan darah meninggi pada saluran menuju paru-paru. Paling parah akan menyebabkan gagal jantung, kata Prof dr Harmani Kalim MPH, SpJP(K), spesialis jantung RS Harapan Kita, Slipi, Jakarta Barat.

VSD bisa dideteksi dari bunyi detak jantung yang tidak normal. Ada tambahan bunyi detak jantung. Bunyi jantung bising, kata dokter kelahiran Solo, 64 tahun silam itu. VSD tidak menimbulkan gejala biru pada bagian tubuh tertentu atau dikenal dengan istilah nonsianotik. Karena darah kotor dari bilik kanan tidak beredar ke seluruh tubuh, tetapi menuju paru-paru.

Hingga saat ini penyebab VSD belum diketahui. Menurut guru besar kardiologi Universitas Indonesia itu, kelainan bisa dipengaruhi obat, jamu, dan infeksi virus. Namun, penyebabnya tetap tidak bisa diketahui secara pasti. Yang pasti kelainan itu terjadi saat pembentukan jantung dan pembuluh darah, pada usia kehamilan 3 bulan pertama. Penyakit bisa dideteksi pada masa fetus alias janin dengan melakukan ekokardiografi. Idealnya pada usia kehamilan 16 minggu saat jantung telah terbentuk sempurna. Walau tak bisa dicegah, VSD perlu diwaspadai sejak dini agar si kecil tumbuh sehat.

Kelainan pada jantung itu berefek pada gangguan pertumbuhan dan kesehatan. Misalnya, bobot badan tidak meningkat sesuai usia, pilek, demam, batuk, dan rentan terkena infeksi paru. Anak lesu dan mudah lelah. Pemeriksaan itu antara lain EKG (elektrokardiogram), foto rontgen, dan ekokardiografi.

VSD pada anak dengan kebocoran tidak terlalu besar bisa menutup sendiri seiring bertambahnya usia. Penanganan lainnya tergantung tingkat keparahan. Salah satunya dengan intervensi nonbedah-tanpa bedah jantung terbuka-menggunakan Amplatzer Ventricular Septal Occluder untuk menutup kebocoran ventrikel.

Ketahanan tubuhMudah lelah, sulit menyusui karena sesak napas, batuk, berat badan tidak meningkat, dan demam merupakan gejala umum VSD. Gangguan pertumbuhan dan kesehatan itu menggerogoti ketahanan tubuh penderita VSD bahkan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Saat sakit, tubuh juga rentan terhadap serangan penyakit lain. Spirulina membantu meningkatkan stamina penderita, ujar dr Suhenry Sastranegara. Menurut dokter yang praktek di Apotik Intan Farma, Daanmogot, Jakarta Barat, itu, kandungan nutrisi lengkap dalam spirulina secara sinergis meningkatkan ketahanan tubuh penderita dari gangguan penyakit lain. Berbagai produk seperti Spirumate, Spirutrend, Spirulina Pasifica, dan spirulina budidaya peneliti LIPI, Prof I Nyoman Kabinawa, dapat dijadikan pilihan.

Spirulina mengandung asam aspartat, glisin dan vitamin B kompleks yang membantu sintesis energi. Asam aspartat, misalnya, berfungsi meningkatkan stamina dan mengatasi kelelahan.Riset Hayashi pada 1994 membuktikan, spirulina mampu meningkatkan produksi antibodi. Seperti dikutip Journal of Nutrition Science and Vitaminology, spirulina meningkatkan kekebalan tubuh dengan merangsang fungsi makrofag, fagositosis, dan produksi interleukin-1 (IL-1). Menurut Baojiang yang meneliti efek polisakarida pada spirulina bagi kekebalan tubuh, dosis spirulina 150-300 mg per kg bobot badan meningkatkan persentase fagosit dan indeks fagosititas makrofag abdominal serta persentase T limfosit.

Walaupun mengecilnya lubang kebocoran disebabkan hal yang belum diketahui secara pasti, dengan spirulina Syifa tidak lagi gampang lelah, batuk dan demam. Ia kini sehat walafiat. (Kiki Rizkika)


Daun yang Menolak Maut

Mei 24, 2007

Dingin udara Lembang, Bandung, menggigilkan Usmani. Baru saja ia membasuh muka usai bangun tidur, dadanya pengap dan sesak. Beberapa detik kemudian, pria 56 tahun itu ambruk. Ia pingsan. Keluarganya bergegas membawanya ke rumahsakit. Di sana rahasia jatuhnya terkuak: ia terkena stroke akibat komplikasi diabetes mellitus menahun.

Penyakit gula itu menyergap karena gaya hidup Usmani. Secangkir kopi manis dan kental tak pernah hilang dari menu sarapannya. Di ladang tempat ia menggantungkan hidup, ‘Setiap hari minimal 2-3 gelas teh manis saya tenggak,’ kata Usmani. Seteguk teh manis memang nikmat saat bekerja di bawah terik matahari. Begitulah kebiasaan Usmani bertahun-tahun yang mengundang diabetes mellitus. Tanda-tanda datangnya penyakit itu antara lain tingginya frekuensi ke peturasan untuk berurine.

Gejala lain, ayah 4 anak itu mudah lelah dan letih. ‘Jadi sering mengantuk karena tubuh tak berenergi,’ kata pria kelahiran 1 Juni 1950 itu. Nyeri menjalar ke seluruh tubuh. Badan kram sehingga daya tahan turun drastis. Celakanya, perubahan itu dianggap lumrah. Namun, ketika gangguan itu tak kunjung berakhir ia memeriksakan diri ke dokter. Hasilnya, kencing manis. Kadar gula darahnya mencapai 300 mg/dl; kadar normal, 120-140 mg/dl.

Pembuluh darahDokter membekali 10 botol insulin dan diamicron-keduanya lazim untuk mengatasi diabetes mellitus. Tiga hari kemudian, Usmani kembali memeriksa perkembangan kesehatan. Jangankan turun, kadar gula darahnya malah membumbung, 400 mg/dl. Bahkan, badannya panas dan berkeringat. Ia hanya terbaring di tempat tidur. Ke sawah khawatir terkena pecahan beling sehingga menimbulkan luka. Agar segera sembuh, Usmani mengkonsumsi berbagai ramuan herbal. Maklum, ia enggan mengkonsumsi obat-obatan kimia.

Usmani juga menjalani terapi pijat dan urut untuk menghilangkan keletihannya. Sayang, kesembuhan belum tergapai. Rasa haus, sering berurine, banyak makan tetapi bobot tubuh anjlok, kesemutan, kulit kering, dan badan lemah tetap merongrongnya. Tiga tahun sudah ia mengidap diabetes mellitus sekaligus komplikasi stroke. Seluruh anggota tubuh lumpuh. Mulutnya pelo sehingga sulit berbicara.

YakonDi tepi jurang putus asa itu temannya menganjurkan untuk mengkonsumsi daun dan umbi yakon (baca: yakong). Usmani tak percaya begitu saja. Harap mafhum, ia belum mengenal tanaman asal Pegunungan Andes, Peru, itu. Tanaman introduksi itu memang baru dikebunkan di Indonesia kira-kira 2-3 tahun lampau sehingga namanya masih asing. Bandung dan Yogyakarta sentra pengembangan yakon. Umbi yakon berwarna cokelat berbentuk mirip singkong. Daging umbi putih kekuningan dan manis. ‘Saya takut makan yang manis-manis,’ kata Usmani yang khawatir gula darahnya melonjak.

Dengan harap-harap cemas, ia menuruti saran teman. Lima daun arboloco-sebutan yakon di Kolombia-dijemur terbalik. Setelah kering, istrinya Euis Fitriani, menggerus hingga menghasilkan 15 gram. Serbuk daun tanaman kerabat bunga matahari itu dilarutkan dalam 600 ml air mendidih. Air berwarna hijau pekat itu diminum 3 kali sehari: pagi, siang, dan malam. Selain rutin mengkonsumsi daun yakon, Usmani menjaga tubuh dengan tidak mengkonsumsi minuman manis seperti teh dan kopi.

Perubahan drastis terasa dua pekan kemudian. Nyeri yang biasa muncul perlahan hilang. Tidur lebih nyenyak lantaran tak lagi terbangun pada malam hari untuk berurine. Stamina meningkat pesat.

Perubahan itu membikin penasaran. Oleh karena itu ia mengecek kadar gula darah. Hasilnya amat menggembirakan 175 mg/dl atau turun 125 poin. Menurut dr Henry Naland, ‘Diabetes disebabkan tubuh kekurangan insulin sehingga kadar gula dalam tubuh tinggi.’ Insulin mengubah glukosa menjadi energi dan penyimpan glukosa untuk cadangan energi kinerja organ tubuh seperti otak, hati, jantung, dan ginjal.

Karbohidrat diubah menjadi glukosa dan diteruskan ke sel-sel atas jasa baik insulin. Jadi, insulin berperan sebagai kunci pembuka jalan masuk glukosa ke dalam sel-sel tubuh. Pada pengidap diabetes, insulin diproduksi sedikit atau sel tidak dapat memberikan respon terhadap insulin walau cukup jumlahnya. Akibatnya, gula menumpuk dalam darah tak termanfaatkan. Pada akhirnya dibuang melalui air seni yang berlebihan dari keadaan normal. Gangguan metabolisme karbohidrat ini menyebabkan tubuh kekurangan energi. Itu sebabnya penderita diabetes terlihat lemah dan lemas.

Riset sahihBagaimana duduk perkara Smallanthus sonchifolia dapat menyembuhkan diabetes? Menurut Dr Sri Widowati, peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian Bogor, yakon kaya insulin yang unit-unitnya terdiri dari gula-gula fruktosa yang tidak dapat dicerna oleh enzim pencernaan tetapi difermentasi oleh usus besar. Oleh karena itu konsumsi yakon tak mungkin meningkatkan kadar gula dalam darah.

Efek hipoglikemik-penurun gula darah-yakon juga diuji oleh Manuel J. Aybar dari Departamento de Biologi´a del Desarrollo, Universidad Nacional de Tucuma, Argentina. Sebanyak 20 gram daun yakon kering dilarutkan pada 200 ml air yang dididihkan selama 20 menit. Setelah dingin, ramuan disaring. Dua kelompok tikus masing-masing sebanyak 8 ekor diberi 35 mg streptotozotocin (STZ). Setelah 24 jam nilai gula darah tikus itu meningkat menjadi 350 mg/dl atau 3,5 kali lebih tinggi dibanding kadar gula tikus normal.

Makanya kadar gula darah Usmani cepat normal. Seiring dengan itu stroke yang membonceng juga berakhir. Usmani yang dulu melewatkan hari demi hari di pembaringan, kini bisa berjalan kaki sendirian. Pandangannya tak melulu langit-langit rumahnya, tapi juga panorama biru langit yang mempesona. Itu antara lain berkat ketekunannya mengkonsumsi seduhan serbuk daun yakon. (Vina Fitriani/Peliput: Imam Wiguna)


Bukti Sahih Mujarabnya Ling Zhi

Mei 24, 2007

Musim panas menghampiri Oregon, Amerika Serikat, ketika perempuan itu mendatangi klinik dr Fukumi Morishige MD PhD. Dokter sekaligus peneliti Linus Pauling Institute of Science and Medicine itu terperanjat bukan kepalang. Paru-paru pasien berumur 39 tahun itu bersih dari sel kanker. Padahal, 6 bulan sebelumnya sel ganas itu bercokol di organ pernapasannya.

Begitu banyak kisah duka wanita itu sejak 6 bulan silam. Kanker paru-paru menjalar ke membran rongga dada. Beberapa dokter di berbagai rumahsakit yang ia kunjungi malah angkat tangan. Setiap kali pulang ke rumah, hanya rona putus asa yang tergambar di wajahnya.

Ketika tak satu pun rumahsakit yang dapat dijadikan sandaran kesembuhan, harapan justru datang dari setangkai jamur. Saat itu suaminya selalu memberi 4 g ekstrak ling zhi setiap hari. Fukumi menduga, reishi-sebutan ling zhi di Jepang-lah yang membawa keajaiban itu.

Kisah itu bukan sekali saja Fukumi alami. Beberapa waktu kemudian, seorang anak berusia 5 tahun yang menderita kanker hati datang kepadanya. Kanker itu juga menyebar ke usus kecil. Dokter terpaksa memotong usus itu untuk menghindari penyebaran kanker lebih luas. Meski demikian, sel kanker tetap bersemayam di hati. Ketika berusia 9 tahun, anak itu kembali menemui Fukumi untuk memeriksakan diri. Setelah dipindai dengan CT scan, lagi-lagi Fukumi terkejut. Sel-sel kanker yang bersarang di hati itu sirna. Rahasianya? Anak itu mengkonsumsi 2 g ekstrak reishi setiap hari.

Terbukti ilmiahFakta empiris itu menggelitik naluri ilmiah Fukumi. Ia pun memesan ekstrak reishi dari Nissan Chemical Industries, Ltd, produsen ling zhi di Jepang. Ekstrak jamur kayu itu kemudian diberikan kepada beberapa pasien kanker yang dikombinasikan dengan vitamin C. Dalam setahun ia menghabiskan setidaknya 500 kg ekstrak reishi. Hasilnya, jamur legendaris itu terbukti ampuh mengatasi kanker dan beragam komplikasi. Dalam 2 tahun, 140 pasien kanker sembuh setelah mengkonsumsi ling zhi.

Untuk mengetahui duduk perkara reishi itu bekerja, Fukumi meriset beberapa pasien kanker yang menderita komplikasi dengan penyakit lain seperti rematik, bronkitis kronis, dan hepatitis. Komplikasi terjadi akibat anjloknya sistem kekebalan tubuh. Setelah diberi asupan ekstrak reishi, masing-masing pasien menjalani tes immunoglobulin untuk menentukan tingkat kekebalan tubuh. Hasil riset menunjukkan, tingkat IgA, IgG, dan IgM si pasien terus meningkat. Artinya, reishi bekerja menghantam kanker dengan mendongkrak sistem kekebalan tubuh.

Keampuhan ling zhi juga menarik perhatian para periset di Cina. Di negara Tirai Bambu, ling zhi begitu melegenda. Keistimewaan jamur kayu itu disebut-sebut dalam buku pengobatan tradisional cina kuno Shen Nong Ben Jing yang ditulis 2.000 tahun lampau.

Di era modern, legenda itu terbukti secara ilmiah. Cao QZ dan Lin ZB, periset Departemen Farmakologi Health Science Center Peking University, Beijing, Cina, meneliti mencit yang diinduksi sel tumor sarcoma 180. Hasil riset menunjukkan, asupan polisakarida peptida yang diesktrak dari reishi Ganoderma lucidum berdosis 50 mg, 100 mg, dan 200 mg/kg bobot tubuh, menghambat pertumbuhan tumor pada mencit masing-masing 35,2%, 45,2%, dan 61,6%.

Hasil penelitian Shiuh-Sheng Lee, dari Departemen Biokimia National Yang-Ming University, Taipei, polisakarida pada reishi merangsang sel mononuklear darah memproduksi sitokin, TNF-a, IFN-g, IL-1b, dan IL-6, yang berperan menghambat proliferasi sel leukemia U937.

PolisakaridaApa yang menyebabkan reishi ampuh mengatasi kanker? Beberapa hasil penelitian menunjukkan, polisakarida berperan dominan mengatasi penyakit mematikan itu. Menurut dr Ekky M Rahardja MS SpGK, dokter spesialis gizi klinis Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, ling zhi mengandung senyawa polisakarida yang molekulnya berikatan beta. ‘Molekul polisakarida yang terkandung pada nasi atau makanan lain yang biasa dikonsumsi berikatan alfa,’ kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Molekul polisakarida berikatan beta lebih kompleks sehingga sulit dicerna. Meski demikian, kehadirannya itu justru berdampak positif. Sebab, ia mengundang reaksi sistem kekebalan di selaput lendir saluran pencernaan atau Gastrointestinal Associated Lymphoid Tissue (GALT). Itu lantaran polisakarida berikatan beta dianggap sebagai benda asing. Bangkitnya sistem kekebalan memperkokoh daya tahan tubuh terhadap serangan benda asing seperti bakteri, virus, dan sel-sel kanker. Selain itu, ‘Kandungan germanium pada reishi membantu mengatasi tumor,’ tutur dr Ekky. Perpaduan polisakarida dan germanium mampu meningkatkan sistem immun tubuh dan mencegah pertumbuhan sel-sel kanker (antitumor).

Menurut Shwu-Bin Lin dari Department of Laboratory Medicine, National Taiwan University Hospital, senyawa triterpen pada G. lucidum turut andil mengatasi kanker. Senyawa itu diekstrak dari miselia anggota famili Polyoraceae itu. Hasil penelitian membuktikan, triterpen ternyata sanggup menghambat pertumbuhan sel hepatoma Huh-7-sel kanker hati-tanpa menghambat pertumbuhan sel hati normal.

Fakta ilmiah itulah yang mendorong Dr Raymond Chang, MD, FACP dari Sloan-Kettering Cancer Center, New York, Amerika Serikat, menganjurkan reishi kepada para pasien kanker. Bagi pasien yang sedang menjalani kemo atau radioterapi, Chang memberikan 5-10 g reishi per hari untuk mengurangi efek samping terapi dan memperbaiki kondisi tubuh. Untuk mencegah metastesis atau penyebaran sel kanker ke organ tubuh lain, Chang memberikan 5-30 g reishi per hari, tergantung kondisi pasien.

Di tanahair, dr Erna Cipta Fahmi, herbalis di Pondokcabe, Tangerang, juga menggunakan ling zhi untuk mengobati kanker. Menurutnya, kulat-sebutan ling zhi di Malaysia-mengandung antioksidan tinggi yang berasal dari pigmen merah yang terdapat pada ling zhi. Reishi juga mengandung zat perangsang sistem immun alias kekebalan tubuh. Sel-sel fagosit menyerang dan mengisolasi sel-sel kanker sehingga tidak menyebar ke sel tubuh lain.

Pendapat serupa dilontarkan Ir Wahyu Suprapto, herbalis di Batu, Jawa Timur. Jamur merah itu dikeringkan lalu digerus hingga halus. Satu sendok makan atau setara 8 g serbuk Ganoderma lucidum direbus dalam 2 gelas air hingga mendidih dan tersisa 1 gelas. Setelah dingin, air rebusan disaring, lalu dikonsumsi. Dosis disesuaikan dengan kondisi pasien. Bila stadium dini, cukup mengkonsumsi air rebusan reishi 2 kali sehari masing-masing 1 gelas. Bila telah lanjut, ditingkatkan menjadi 3 kali.

Popularitas al-kummah-sebutan ling zhi dalam bahasa Arab-sebagai panasea itu mengundang minat bisnis para produsen herbal. Jamur itu diekstrak dan diolah dalam bentuk kapsul. Kini, berbagai merek herbal berbahan ling zhi bertebaran di pasaran, seperti Nissan Reishi yang diproduksi Nissan Chemical Industries, Jepang, Gano Plus (Diamond Interest International), dan Lingzhi Plus (Nutrimax). Meski penampilan berbeda, toh legenda keampuhan ling zhi tetap terasa. (Imam Wiguna)


Buah Merah Penakluk Penyakit Maut

Mei 24, 2007

Di penghujung Desember 2003 Agustina Sawery seperti menanti dentang lonceng kematian. Perempuan 23 tahun itu divonis positif mengidap Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS), pencabut nyawa yang sulit terelakkan. Tubuhnya kurus kering, tersisa kulit membalut belulang. Bobot tubuhnya cuma 27 kg dari sebelumnya 50 kg dengan tinggi 150 cm. Pistel ani atau infeksi anus, gangguan fungsi hati, mulut bercendawan, dan infeksi paru-paru melengkapi penderitaannya. Rombongan penyakit yang tak kalah berbahaya itu dipicu oleh bercokolnya virus perontok kekebalan tubuh.

Malapetaka itu berawal dari pekerjaannya sebagai pekerja seks komersial karena kemiskinan yang mengimpit keluarga. Alih-alih keluar dari jerat kemiskinan, ia malah terserang HIV/AIDS. Maka sejak Desember 2003 ia berbaring di bagian Penyakit Dalam RSUD Jayapura. Karena fungsi hati rusak, ia belum dapat menelan obat apa pun sehingga harus diinfus.

Tiga purnama dilewatinya di sana. Pada 27 Februari 2004 anak ke-5 dari 7 bersaudara itu pulang ke rumah. Melalui jasa baik Yayasan Pengembangan Kesehatan Masyarakat, ia dipertemukan dengan Drs I Made Budi MS. Saat itu Made sudah dikenal luas di Papua lantaran kerap mengobati berbagai penyakit seperti kanker dengan eksktrak buah merah. Sejak April 2004 ia memberikan ekstrak buah merah kepada Agustina. Konsumsinya satu sendok makan dengan frekuensi 3 kali sehari berbarengan dengan obat paru-paru pemberian dokter.

Konsumsi buah anggota famili Pandanaceae itu diimbangi dengan asupan makanan berprotein tinggi. Perlahan-lahan kondisi tubuh perempuan kelahiran 14 Agustus 1981 itu membaik. Tiga bulan mengkonsumsi ekstrak sauk eken-sebutan buah merah di Wamena-, bobot tubuh meningkat 6 kg. Bobot tubuh terus meningkat hingga 46 kg saat ini. Selain itu wajah lebih ceria dengan sorot mata bersinar. Kulitnya yang semula busik, kembali mulus. Rambut yang sempat rontok mulai tumbuh di atas kepalanya. Singkat kata, Agustina tampak jauh lebih bugar. Padahal, “Ketika saya tangani, kondisi Agustina seperti tak ada harapan lagi,” kata Made.

Pria 44 tahun itu bertutur, “Buah merah berfungsi seperti obat antiretrovirus yang amat dibutuhkan penderita HIV/AIDS. Ia mengikat protein dan meningkatkan kekebalan tubuh.” Pencapaian amat spektakuler itu juga sejalan dengan hasil pemeriksaan laboratorium di Jakarta pada awal November 2004. CD-4 darah Agustina sudah menembus angka 400 dan CD-8 menunjukkan negatif. CD-4 orang yang positif AIDS, maksimal 200; CD-8, positif. Wanita Papua itu kini hampir menggapai kesembuhan total.

Stop Stroke

Bukan cuma Agustina Sawery yang lolos dari belenggu penyakit maut. Ny. Subari, misalnya, pada September 2002 terserang celebral apoplexy atau populer dengan sebutan stroke. Setelah 10 hari opname di sebuah rumah sakit di Jayapura, ia pulang meski belum sembuh. “Bagian tubuh sebelah kiri tak bisa digerakkan, mati sama sekali,” ujar guru SMP 2 Abepura itu mengenang.

Ketika itu menyebut nama saja ia tak mampu. Pandangan kabur, pusing, stres. Kisah pilu itu bakal menjadi kenangan pahit baginya. Sebab 3 bulan meminum ekstrak buah merah-2 x 1 sendok makan per hari-, ia sudah melepas tongkat. Kini ia aktif mendidik dan menjelaskan materi pengajaran di depan murid-muridnya seperti semula.

Yang juga merasakan manfaat Pandanus conoideus-bukan Pandanus coinedeus seperti ditulis Trubus edisi sebelumnya-adalah Susilah. Sejak tahu kanker payudara stadium 2 diidapnya, ia tampak menutup diri karena terpukul. Tangannya tak lagi dapat digerakkan. Saran dokter untuk operasi ditolak karena khawatir maut menjemput lewat jalan penyembuhan itu.

Di tengah kebimbangan, kemenakannya, Jelly Serang, datang membawa ekstrak buah merah. Inilah tumpuan harapan Susilah. Ia meminumnya 2 kali sehari masing-masing 1 sendok makan. Setelah 2 botol dihabiskan, nyeri yang menderanya hilang sama sekali. Dua bulan berselang, setelah menghabiskan 8 botol masing-masing 120 cc, sel kanker yang semula 6 cm mengecil menjadi 3 cm. Kini kondisinya terus membaik.

Antioksidan

Agustina, Subari, dan Susilah hanya sebagian kecil orang yang merasakan faedah sari buah merah. Menurut I Made Budi, hingga November 2004 tercatat 1.000 pasien sembuh setelah rutin mengkonsumsi buah endemik Papua itu. Sekitar 400 orang di antaranya sembuh berbagai jenis kanker. Mereka tak hanya dari Jayapura, Timika, atau Merauke, tetapi juga tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Mungkinkah sebuah komoditas mampu mengobati beragam penyakit? “Di dunia medis mungkin saja. Contoh diare bisa diberi ambisilin, infeksi tenggorokan juga ambisilin, begitu juga tifus,” ujar dr Willie Japaries MARS, pengobat komplementer alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Itulah yang dikenal sebagai panasea alias obat segala penyakit.

Ahli gizi Prof Dr Muhilal tak heran akan khasiat buah merah. Doktor Biokimia alumnus University of Liverpool itu pada 1992 meneliti xeroftalmia alias kekurangan vitamin A. Prevalensi penderita di Papua jauh lebih kecil ketimbang di Jawa sekalipun. Rahasianya, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Papua terbiasa melahap buah merah yang kandungan betakarotennya mencapai 700 ppm. Oleh glukosa zat itu diubah menjadi vitamin A.

Selain itu kuansu-nama lainnya-juga mengandung tokoferol 11.000 ppm yang mampu menangkal radikal bebas. Tingginya kandungan vitamin E-nama lain tokoferol-hanya dapat ditandingi oleh zaitun. Senyawa itulah benteng pertahanan terhadap serangan penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, darah tinggi, dan kanker. “Antioksidan itu mengatasi penyakit degeneratif, penangkal radikal bebas seperti cadmium, penghalang ketuaan, bisa untuk mata,” kata Dr Chairul, doktor Kimia dan peneliti di Puslitbang Biologi LIPI.

Wajar jika buah merah direkomendasikan oleh ahli penyakit dalam dari Manado, Roy Pontoh, untuk pasiennya. “Dari komposisi yang saya baca di Trubus, saya yakin obat ini bisa meredam penyakit paru-paru,” kata Roy. Penderita di luar negeri pun tertarik mencoba obat itu. Di antaranya penderita kanker otak berumur 2 tahun yang sedang dirawat di Singapura dan penderita kanker payudara stadium III A yang menjalani terapi nutrisi di Amerika Serikat.

Dosis

Buah berbentuk bulat panjang itu mengandung 58% asam oleat dan 7,8% asam linoleat. Keduanya asam lemak esensial bagi tubuh yang mudah dicerna sekaligus memperlancar metabolisme. Omega 3 tinggi berfungsi untuk memperbaiki jaringan yang rusak. “Kanker itu merupakan jaringan yang tumbuh tidak terkendali,” kata Made (baca: Ciuman Maut untuk Virus Maut halaman 18-19).

Toh, belum semua pasien yang minum ekstrak buah merah memperoleh kesembuhan. Contoh, penderita tumor payudara yang ditangani dr Willie Japaries. Meski sudah sebulan mengkonsumsi buah merah, kesembuhan bak jauh panggang dari api. Menurut Willie lazimnya untuk mengatasi kanker, diperlukan 3-4 herbal. Sementara dalam hal ini, ia hanya memberikan satu jenis, yakni buah merah sehingga dinilai kurang efektif.

Mulyadarma, dokter di Rumah Sakit Darma Medika di Wonogiri, Jawa Tengah, yang juga memberikan buah merah kepada pasien berujar, “Selama ini obat alternatif hanya menunda sel-sel kanker berkembang lebih lanjut.” Orang kerap salah menduga mengkonsumsi ramuan herbal dijamin aman. Padahal jika tidak tepat dosis tetap saja berdampak buruk. 

Soal tingginya betakaroten, menurut Muhilal tak berefek negatif bagi kesehatan. “Kalau berlebihan akan disimpan di lapisan lemak bawah kulit sehingga kulitnya tampak kuning. Tapi kejadiannya amat langka. Di dunia kejadian seperti itu tak lebih dari 5 orang,” kata kelahiran 5 Januari 1940 itu. 

Tadinya Gratis

Dengan kandungan antioksidan tinggi wajar jika buah merah mampu menyembuhkan beragam penyakit. Itu yang menyebabkan popularitas kerabat pandan wangi meroket. Bak obat ajaib, ia menjadi buah bibir. Banyak dokter menyarankan pasiennya untuk meminum sari buah merah. Malahan periset AIDS di Amerika Serikat antusias menanggapi temuan khasiat yenggen.

Padahal sebelumnya secara turun temurun buah merah tak lebih dari sekadar bahan pangan masyarakat Papua. Harganya amat murah, jika tak boleh dibilang tak bernilai. Dengarlah penuturan Ir Ana Saway dari Dinas Pertanian Kabupaten Jayapura, “Dulu buah merah tak perlu dibeli. Kita tinggal minta dan dikasih. Kalau kita bertemu dengan penjual di pasar, kita bisa dikasih cuma-cuma.” 

Titik tolak perubahan itu terjadi pada 1988. Drs I Made Budi yang tengah meneliti jamur di pedalaman Kurulu, kesengsem saat melihat pertama kali sosok buah merah. Dosen Jurusan Biologi Universitas Cenderawasih itu mendapat informasi dari penduduk setempat, jika mau sehat makanlah buah merah. Buktinya masyarakat Jayawijaya yang gemar menyantap buah merah sehat walafiat meski sepanjang hidupnya tanpa berpakaian. Padahal suhu di sana amat rendah, di bawah 20oC.

Riset intensif yang dilakukan Made ketika mengambil gelar master Gizi Masyarakat akhirnya menyibak tabir buah merah (baca: Menduniakan Buah Merah, halaman 22-23). Pantas jika banyak orang kini berupaya membudidayakannya. Menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jayapura Ir La Achmadi MMT, buah merah dikembangkan besar-besaran di daerah Ubruk dan Waris, keduanya di Kabupaten Keerom.

Tawi-sebutan buah merah di Lembah Baliem-kini makin dilirik orang. “Banyak investor dari Jakarta yang datang langsung ke Wamena untuk membeli buah,” papar I Made Budi. Saking banyaknya permintaan dari Jakarta, sampai-sampai buah merah milik Made di 3 kecamatan di Wamena pun ludes dijarah. Di luar Papua, penjual-penjual sari buah merah makin banyak bermunculan seiring tingginya permintaan.

Melonjaknya permintaan sari buah merah membuat harga bahan baku melambung. Komoditas yang Juli 2004 hanya berharga Rp50.000 per buah, akhir November 2004, harganya melangit mencapai Rp350.000. Itu pun harus pesan terlebih dahulu (baca: Papua Kala Buah Merah Melejit, halaman 16-17). “Banyak orang yang cari buah merah,” tutur Dorim, pedagang di depan Hotel Yasmin, Jayapura. Trubus yang jauh-jauh hari memesan 2 buah pun tak kebagian.