Menambal Jantung si Upik

Mei 24, 2007

Tangis Syifa Zulfikria mereda setelah Syawlia Basriani, sang ibu, memberikan sebotol susu. Bocah 4 tahun itu asyik meminum susu cokelat dalam botol berukuran 120 ml. Syifa tampak sehat, aktif, dan lincah. Padahal, ia mengidap ventricular septal defect (VSD) alias bilik jantung bocor sejak berusia 9 bulan.

Tak ada yang berbeda dari Syifa. Layaknya seorang balita, Syifa senang bermain. Syawlia mengizinkan anaknya bebas beraktivitas padat karena batuk, pilek, dan demam yang diderita Syifa itu sembuh.

Sejak berusia 3 bulan, ketiga penyakit itu memang sering menyerang Syifa. Tak lama sembuh, sepekan kemudian sakit lagi. Saat malam, bocah itu kerap menangis, susah tidur, dan sesak napas. Wajahnya letih dan lesu. Ia juga gampang lelah. Demam tinggi hingga 40oC juga pernah dialami siswa Taman Bermain Sekar Melati, Bekasi, itu. Bolak-balik ke dokter tidak membuat kondisi Syifa membaik.

Jantung bocorKondisi anaknya yang tak kunjung membaik mendorong Syawlia membawa Syifa ke dokter spesialis anak. Hasil diagnosis di luar dugaan. Dokter di kawasan Paseban, Jakarta Pusat, itu menyarankan untuk membawa Syifa ke spesialis jantung.

Semula Syawlia tidak percaya dengan diagnosis dokter, sehingga saran itu diabaikan begitu saja. Masa anak kecil jantungan, kata Syawlia tak percaya. Namun, 3 bulan berselang, penyakit itu tak kunjung sembuh. Selama 9 bulan, bobot tubuh Syifa tidak meningkat. Suplemen dan vitamin anak yang diasup tidak mampu meningkatkan bobot tubuhnya.

Khawatir dengan kondisi putrinya, dokter spesialis anak kembali disambangi. Berbekal surat rujukan, Syifa menjalani pemeriksaan ekokardiografi di Rumahsakit Ciptomangunkusumo, Jakarta. Hasilnya, dokter spesialis jantung anak menyatakan, ada kelainan bawaan pada jantung Syifa. Kelainan itu adalah ventricular septal defect (VSD), ada kebocoran pada bilik kiri jantung selebar 3,5 mm. Namun, karena lubang tergolong kecil, penanganannya hanya kontrol tiap bulan dan pemeriksaan ekokardiografi tiap 6 bulan.

Operasi hanya bisa dilakukan bila kebocoran 10-12 mm. Lagi pula ada kemungkinan penyakit itu sembuh sendiri seiring waktu. Dokter pun tidak memberikan obat. Hanya saja dokter menyarankan, banyak istirahat, konsumsi makanan bergizi, dan hindari perjalanan jauh.

Dicampur susuLantaran tak mau diam, bocah periang itu dibebaskan bermain. Menjelang tidur kadang-kadang, ia mengeluh lelah minta dipijat. Saat pemeriksaan kedua pada September 2004, kebocoran membesar menjadi 5 mm. Syawlia pasrah. Saya hanya bisa menunggu penyakit membaik dengan sendirinya, ujar istri Irfansyah itu.

Di antara kegalauan itu, kerabat di Bogor menawarkan spirulina. Syawlia akhirnya memberikan ganggang hijau biru itu kepada putrinya. Ia mencampur sekaleng susu 400 gram dan satu sendok teh spirulina. Sekali minum, 60 gram susu plus spirulina itu dicampur air putih jadi 120 ml susu cokelat. Sehari Syifa bisa lima kali minum.

Empat bulan mengkonsumsi spirulina mulai terlihat perbedaan. Bobot badan mulai meningkat 0,5-1 kg per bulan. Batuk dan pilek pun menjauh. Syifa terlihat lebih segar dan sehat. Kebahagiaan Syawlia bertambah ketika hasil pemeriksaan ekokardiografi ketiga: lubang dinyatakan mengecil menjadi 4 mm.

Tidak biruVSD merupakan penyakit jantung bawaan. Penyakit itu ditandai kebocoran pada ventrikel atau bilik. Ada lubang antara ventrikel kanan dan ventrikel kiri sehingga mengganggu aliran darah. Pada kasus VSD, aliran darah mengalir langsung dari ventrikel kanan ke ventrikel kiri karena ada lubang antara ventrikel. Imbasnya, tekanan darah meninggi pada saluran menuju paru-paru. Paling parah akan menyebabkan gagal jantung, kata Prof dr Harmani Kalim MPH, SpJP(K), spesialis jantung RS Harapan Kita, Slipi, Jakarta Barat.

VSD bisa dideteksi dari bunyi detak jantung yang tidak normal. Ada tambahan bunyi detak jantung. Bunyi jantung bising, kata dokter kelahiran Solo, 64 tahun silam itu. VSD tidak menimbulkan gejala biru pada bagian tubuh tertentu atau dikenal dengan istilah nonsianotik. Karena darah kotor dari bilik kanan tidak beredar ke seluruh tubuh, tetapi menuju paru-paru.

Hingga saat ini penyebab VSD belum diketahui. Menurut guru besar kardiologi Universitas Indonesia itu, kelainan bisa dipengaruhi obat, jamu, dan infeksi virus. Namun, penyebabnya tetap tidak bisa diketahui secara pasti. Yang pasti kelainan itu terjadi saat pembentukan jantung dan pembuluh darah, pada usia kehamilan 3 bulan pertama. Penyakit bisa dideteksi pada masa fetus alias janin dengan melakukan ekokardiografi. Idealnya pada usia kehamilan 16 minggu saat jantung telah terbentuk sempurna. Walau tak bisa dicegah, VSD perlu diwaspadai sejak dini agar si kecil tumbuh sehat.

Kelainan pada jantung itu berefek pada gangguan pertumbuhan dan kesehatan. Misalnya, bobot badan tidak meningkat sesuai usia, pilek, demam, batuk, dan rentan terkena infeksi paru. Anak lesu dan mudah lelah. Pemeriksaan itu antara lain EKG (elektrokardiogram), foto rontgen, dan ekokardiografi.

VSD pada anak dengan kebocoran tidak terlalu besar bisa menutup sendiri seiring bertambahnya usia. Penanganan lainnya tergantung tingkat keparahan. Salah satunya dengan intervensi nonbedah-tanpa bedah jantung terbuka-menggunakan Amplatzer Ventricular Septal Occluder untuk menutup kebocoran ventrikel.

Ketahanan tubuhMudah lelah, sulit menyusui karena sesak napas, batuk, berat badan tidak meningkat, dan demam merupakan gejala umum VSD. Gangguan pertumbuhan dan kesehatan itu menggerogoti ketahanan tubuh penderita VSD bahkan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Saat sakit, tubuh juga rentan terhadap serangan penyakit lain. Spirulina membantu meningkatkan stamina penderita, ujar dr Suhenry Sastranegara. Menurut dokter yang praktek di Apotik Intan Farma, Daanmogot, Jakarta Barat, itu, kandungan nutrisi lengkap dalam spirulina secara sinergis meningkatkan ketahanan tubuh penderita dari gangguan penyakit lain. Berbagai produk seperti Spirumate, Spirutrend, Spirulina Pasifica, dan spirulina budidaya peneliti LIPI, Prof I Nyoman Kabinawa, dapat dijadikan pilihan.

Spirulina mengandung asam aspartat, glisin dan vitamin B kompleks yang membantu sintesis energi. Asam aspartat, misalnya, berfungsi meningkatkan stamina dan mengatasi kelelahan.Riset Hayashi pada 1994 membuktikan, spirulina mampu meningkatkan produksi antibodi. Seperti dikutip Journal of Nutrition Science and Vitaminology, spirulina meningkatkan kekebalan tubuh dengan merangsang fungsi makrofag, fagositosis, dan produksi interleukin-1 (IL-1). Menurut Baojiang yang meneliti efek polisakarida pada spirulina bagi kekebalan tubuh, dosis spirulina 150-300 mg per kg bobot badan meningkatkan persentase fagosit dan indeks fagosititas makrofag abdominal serta persentase T limfosit.

Walaupun mengecilnya lubang kebocoran disebabkan hal yang belum diketahui secara pasti, dengan spirulina Syifa tidak lagi gampang lelah, batuk dan demam. Ia kini sehat walafiat. (Kiki Rizkika)


Daun yang Menolak Maut

Mei 24, 2007

Dingin udara Lembang, Bandung, menggigilkan Usmani. Baru saja ia membasuh muka usai bangun tidur, dadanya pengap dan sesak. Beberapa detik kemudian, pria 56 tahun itu ambruk. Ia pingsan. Keluarganya bergegas membawanya ke rumahsakit. Di sana rahasia jatuhnya terkuak: ia terkena stroke akibat komplikasi diabetes mellitus menahun.

Penyakit gula itu menyergap karena gaya hidup Usmani. Secangkir kopi manis dan kental tak pernah hilang dari menu sarapannya. Di ladang tempat ia menggantungkan hidup, ‘Setiap hari minimal 2-3 gelas teh manis saya tenggak,’ kata Usmani. Seteguk teh manis memang nikmat saat bekerja di bawah terik matahari. Begitulah kebiasaan Usmani bertahun-tahun yang mengundang diabetes mellitus. Tanda-tanda datangnya penyakit itu antara lain tingginya frekuensi ke peturasan untuk berurine.

Gejala lain, ayah 4 anak itu mudah lelah dan letih. ‘Jadi sering mengantuk karena tubuh tak berenergi,’ kata pria kelahiran 1 Juni 1950 itu. Nyeri menjalar ke seluruh tubuh. Badan kram sehingga daya tahan turun drastis. Celakanya, perubahan itu dianggap lumrah. Namun, ketika gangguan itu tak kunjung berakhir ia memeriksakan diri ke dokter. Hasilnya, kencing manis. Kadar gula darahnya mencapai 300 mg/dl; kadar normal, 120-140 mg/dl.

Pembuluh darahDokter membekali 10 botol insulin dan diamicron-keduanya lazim untuk mengatasi diabetes mellitus. Tiga hari kemudian, Usmani kembali memeriksa perkembangan kesehatan. Jangankan turun, kadar gula darahnya malah membumbung, 400 mg/dl. Bahkan, badannya panas dan berkeringat. Ia hanya terbaring di tempat tidur. Ke sawah khawatir terkena pecahan beling sehingga menimbulkan luka. Agar segera sembuh, Usmani mengkonsumsi berbagai ramuan herbal. Maklum, ia enggan mengkonsumsi obat-obatan kimia.

Usmani juga menjalani terapi pijat dan urut untuk menghilangkan keletihannya. Sayang, kesembuhan belum tergapai. Rasa haus, sering berurine, banyak makan tetapi bobot tubuh anjlok, kesemutan, kulit kering, dan badan lemah tetap merongrongnya. Tiga tahun sudah ia mengidap diabetes mellitus sekaligus komplikasi stroke. Seluruh anggota tubuh lumpuh. Mulutnya pelo sehingga sulit berbicara.

YakonDi tepi jurang putus asa itu temannya menganjurkan untuk mengkonsumsi daun dan umbi yakon (baca: yakong). Usmani tak percaya begitu saja. Harap mafhum, ia belum mengenal tanaman asal Pegunungan Andes, Peru, itu. Tanaman introduksi itu memang baru dikebunkan di Indonesia kira-kira 2-3 tahun lampau sehingga namanya masih asing. Bandung dan Yogyakarta sentra pengembangan yakon. Umbi yakon berwarna cokelat berbentuk mirip singkong. Daging umbi putih kekuningan dan manis. ‘Saya takut makan yang manis-manis,’ kata Usmani yang khawatir gula darahnya melonjak.

Dengan harap-harap cemas, ia menuruti saran teman. Lima daun arboloco-sebutan yakon di Kolombia-dijemur terbalik. Setelah kering, istrinya Euis Fitriani, menggerus hingga menghasilkan 15 gram. Serbuk daun tanaman kerabat bunga matahari itu dilarutkan dalam 600 ml air mendidih. Air berwarna hijau pekat itu diminum 3 kali sehari: pagi, siang, dan malam. Selain rutin mengkonsumsi daun yakon, Usmani menjaga tubuh dengan tidak mengkonsumsi minuman manis seperti teh dan kopi.

Perubahan drastis terasa dua pekan kemudian. Nyeri yang biasa muncul perlahan hilang. Tidur lebih nyenyak lantaran tak lagi terbangun pada malam hari untuk berurine. Stamina meningkat pesat.

Perubahan itu membikin penasaran. Oleh karena itu ia mengecek kadar gula darah. Hasilnya amat menggembirakan 175 mg/dl atau turun 125 poin. Menurut dr Henry Naland, ‘Diabetes disebabkan tubuh kekurangan insulin sehingga kadar gula dalam tubuh tinggi.’ Insulin mengubah glukosa menjadi energi dan penyimpan glukosa untuk cadangan energi kinerja organ tubuh seperti otak, hati, jantung, dan ginjal.

Karbohidrat diubah menjadi glukosa dan diteruskan ke sel-sel atas jasa baik insulin. Jadi, insulin berperan sebagai kunci pembuka jalan masuk glukosa ke dalam sel-sel tubuh. Pada pengidap diabetes, insulin diproduksi sedikit atau sel tidak dapat memberikan respon terhadap insulin walau cukup jumlahnya. Akibatnya, gula menumpuk dalam darah tak termanfaatkan. Pada akhirnya dibuang melalui air seni yang berlebihan dari keadaan normal. Gangguan metabolisme karbohidrat ini menyebabkan tubuh kekurangan energi. Itu sebabnya penderita diabetes terlihat lemah dan lemas.

Riset sahihBagaimana duduk perkara Smallanthus sonchifolia dapat menyembuhkan diabetes? Menurut Dr Sri Widowati, peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian Bogor, yakon kaya insulin yang unit-unitnya terdiri dari gula-gula fruktosa yang tidak dapat dicerna oleh enzim pencernaan tetapi difermentasi oleh usus besar. Oleh karena itu konsumsi yakon tak mungkin meningkatkan kadar gula dalam darah.

Efek hipoglikemik-penurun gula darah-yakon juga diuji oleh Manuel J. Aybar dari Departamento de Biologi´a del Desarrollo, Universidad Nacional de Tucuma, Argentina. Sebanyak 20 gram daun yakon kering dilarutkan pada 200 ml air yang dididihkan selama 20 menit. Setelah dingin, ramuan disaring. Dua kelompok tikus masing-masing sebanyak 8 ekor diberi 35 mg streptotozotocin (STZ). Setelah 24 jam nilai gula darah tikus itu meningkat menjadi 350 mg/dl atau 3,5 kali lebih tinggi dibanding kadar gula tikus normal.

Makanya kadar gula darah Usmani cepat normal. Seiring dengan itu stroke yang membonceng juga berakhir. Usmani yang dulu melewatkan hari demi hari di pembaringan, kini bisa berjalan kaki sendirian. Pandangannya tak melulu langit-langit rumahnya, tapi juga panorama biru langit yang mempesona. Itu antara lain berkat ketekunannya mengkonsumsi seduhan serbuk daun yakon. (Vina Fitriani/Peliput: Imam Wiguna)


Bukti Sahih Mujarabnya Ling Zhi

Mei 24, 2007

Musim panas menghampiri Oregon, Amerika Serikat, ketika perempuan itu mendatangi klinik dr Fukumi Morishige MD PhD. Dokter sekaligus peneliti Linus Pauling Institute of Science and Medicine itu terperanjat bukan kepalang. Paru-paru pasien berumur 39 tahun itu bersih dari sel kanker. Padahal, 6 bulan sebelumnya sel ganas itu bercokol di organ pernapasannya.

Begitu banyak kisah duka wanita itu sejak 6 bulan silam. Kanker paru-paru menjalar ke membran rongga dada. Beberapa dokter di berbagai rumahsakit yang ia kunjungi malah angkat tangan. Setiap kali pulang ke rumah, hanya rona putus asa yang tergambar di wajahnya.

Ketika tak satu pun rumahsakit yang dapat dijadikan sandaran kesembuhan, harapan justru datang dari setangkai jamur. Saat itu suaminya selalu memberi 4 g ekstrak ling zhi setiap hari. Fukumi menduga, reishi-sebutan ling zhi di Jepang-lah yang membawa keajaiban itu.

Kisah itu bukan sekali saja Fukumi alami. Beberapa waktu kemudian, seorang anak berusia 5 tahun yang menderita kanker hati datang kepadanya. Kanker itu juga menyebar ke usus kecil. Dokter terpaksa memotong usus itu untuk menghindari penyebaran kanker lebih luas. Meski demikian, sel kanker tetap bersemayam di hati. Ketika berusia 9 tahun, anak itu kembali menemui Fukumi untuk memeriksakan diri. Setelah dipindai dengan CT scan, lagi-lagi Fukumi terkejut. Sel-sel kanker yang bersarang di hati itu sirna. Rahasianya? Anak itu mengkonsumsi 2 g ekstrak reishi setiap hari.

Terbukti ilmiahFakta empiris itu menggelitik naluri ilmiah Fukumi. Ia pun memesan ekstrak reishi dari Nissan Chemical Industries, Ltd, produsen ling zhi di Jepang. Ekstrak jamur kayu itu kemudian diberikan kepada beberapa pasien kanker yang dikombinasikan dengan vitamin C. Dalam setahun ia menghabiskan setidaknya 500 kg ekstrak reishi. Hasilnya, jamur legendaris itu terbukti ampuh mengatasi kanker dan beragam komplikasi. Dalam 2 tahun, 140 pasien kanker sembuh setelah mengkonsumsi ling zhi.

Untuk mengetahui duduk perkara reishi itu bekerja, Fukumi meriset beberapa pasien kanker yang menderita komplikasi dengan penyakit lain seperti rematik, bronkitis kronis, dan hepatitis. Komplikasi terjadi akibat anjloknya sistem kekebalan tubuh. Setelah diberi asupan ekstrak reishi, masing-masing pasien menjalani tes immunoglobulin untuk menentukan tingkat kekebalan tubuh. Hasil riset menunjukkan, tingkat IgA, IgG, dan IgM si pasien terus meningkat. Artinya, reishi bekerja menghantam kanker dengan mendongkrak sistem kekebalan tubuh.

Keampuhan ling zhi juga menarik perhatian para periset di Cina. Di negara Tirai Bambu, ling zhi begitu melegenda. Keistimewaan jamur kayu itu disebut-sebut dalam buku pengobatan tradisional cina kuno Shen Nong Ben Jing yang ditulis 2.000 tahun lampau.

Di era modern, legenda itu terbukti secara ilmiah. Cao QZ dan Lin ZB, periset Departemen Farmakologi Health Science Center Peking University, Beijing, Cina, meneliti mencit yang diinduksi sel tumor sarcoma 180. Hasil riset menunjukkan, asupan polisakarida peptida yang diesktrak dari reishi Ganoderma lucidum berdosis 50 mg, 100 mg, dan 200 mg/kg bobot tubuh, menghambat pertumbuhan tumor pada mencit masing-masing 35,2%, 45,2%, dan 61,6%.

Hasil penelitian Shiuh-Sheng Lee, dari Departemen Biokimia National Yang-Ming University, Taipei, polisakarida pada reishi merangsang sel mononuklear darah memproduksi sitokin, TNF-a, IFN-g, IL-1b, dan IL-6, yang berperan menghambat proliferasi sel leukemia U937.

PolisakaridaApa yang menyebabkan reishi ampuh mengatasi kanker? Beberapa hasil penelitian menunjukkan, polisakarida berperan dominan mengatasi penyakit mematikan itu. Menurut dr Ekky M Rahardja MS SpGK, dokter spesialis gizi klinis Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, ling zhi mengandung senyawa polisakarida yang molekulnya berikatan beta. ‘Molekul polisakarida yang terkandung pada nasi atau makanan lain yang biasa dikonsumsi berikatan alfa,’ kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Molekul polisakarida berikatan beta lebih kompleks sehingga sulit dicerna. Meski demikian, kehadirannya itu justru berdampak positif. Sebab, ia mengundang reaksi sistem kekebalan di selaput lendir saluran pencernaan atau Gastrointestinal Associated Lymphoid Tissue (GALT). Itu lantaran polisakarida berikatan beta dianggap sebagai benda asing. Bangkitnya sistem kekebalan memperkokoh daya tahan tubuh terhadap serangan benda asing seperti bakteri, virus, dan sel-sel kanker. Selain itu, ‘Kandungan germanium pada reishi membantu mengatasi tumor,’ tutur dr Ekky. Perpaduan polisakarida dan germanium mampu meningkatkan sistem immun tubuh dan mencegah pertumbuhan sel-sel kanker (antitumor).

Menurut Shwu-Bin Lin dari Department of Laboratory Medicine, National Taiwan University Hospital, senyawa triterpen pada G. lucidum turut andil mengatasi kanker. Senyawa itu diekstrak dari miselia anggota famili Polyoraceae itu. Hasil penelitian membuktikan, triterpen ternyata sanggup menghambat pertumbuhan sel hepatoma Huh-7-sel kanker hati-tanpa menghambat pertumbuhan sel hati normal.

Fakta ilmiah itulah yang mendorong Dr Raymond Chang, MD, FACP dari Sloan-Kettering Cancer Center, New York, Amerika Serikat, menganjurkan reishi kepada para pasien kanker. Bagi pasien yang sedang menjalani kemo atau radioterapi, Chang memberikan 5-10 g reishi per hari untuk mengurangi efek samping terapi dan memperbaiki kondisi tubuh. Untuk mencegah metastesis atau penyebaran sel kanker ke organ tubuh lain, Chang memberikan 5-30 g reishi per hari, tergantung kondisi pasien.

Di tanahair, dr Erna Cipta Fahmi, herbalis di Pondokcabe, Tangerang, juga menggunakan ling zhi untuk mengobati kanker. Menurutnya, kulat-sebutan ling zhi di Malaysia-mengandung antioksidan tinggi yang berasal dari pigmen merah yang terdapat pada ling zhi. Reishi juga mengandung zat perangsang sistem immun alias kekebalan tubuh. Sel-sel fagosit menyerang dan mengisolasi sel-sel kanker sehingga tidak menyebar ke sel tubuh lain.

Pendapat serupa dilontarkan Ir Wahyu Suprapto, herbalis di Batu, Jawa Timur. Jamur merah itu dikeringkan lalu digerus hingga halus. Satu sendok makan atau setara 8 g serbuk Ganoderma lucidum direbus dalam 2 gelas air hingga mendidih dan tersisa 1 gelas. Setelah dingin, air rebusan disaring, lalu dikonsumsi. Dosis disesuaikan dengan kondisi pasien. Bila stadium dini, cukup mengkonsumsi air rebusan reishi 2 kali sehari masing-masing 1 gelas. Bila telah lanjut, ditingkatkan menjadi 3 kali.

Popularitas al-kummah-sebutan ling zhi dalam bahasa Arab-sebagai panasea itu mengundang minat bisnis para produsen herbal. Jamur itu diekstrak dan diolah dalam bentuk kapsul. Kini, berbagai merek herbal berbahan ling zhi bertebaran di pasaran, seperti Nissan Reishi yang diproduksi Nissan Chemical Industries, Jepang, Gano Plus (Diamond Interest International), dan Lingzhi Plus (Nutrimax). Meski penampilan berbeda, toh legenda keampuhan ling zhi tetap terasa. (Imam Wiguna)


Buah Merah Penakluk Penyakit Maut

Mei 24, 2007

Di penghujung Desember 2003 Agustina Sawery seperti menanti dentang lonceng kematian. Perempuan 23 tahun itu divonis positif mengidap Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS), pencabut nyawa yang sulit terelakkan. Tubuhnya kurus kering, tersisa kulit membalut belulang. Bobot tubuhnya cuma 27 kg dari sebelumnya 50 kg dengan tinggi 150 cm. Pistel ani atau infeksi anus, gangguan fungsi hati, mulut bercendawan, dan infeksi paru-paru melengkapi penderitaannya. Rombongan penyakit yang tak kalah berbahaya itu dipicu oleh bercokolnya virus perontok kekebalan tubuh.

Malapetaka itu berawal dari pekerjaannya sebagai pekerja seks komersial karena kemiskinan yang mengimpit keluarga. Alih-alih keluar dari jerat kemiskinan, ia malah terserang HIV/AIDS. Maka sejak Desember 2003 ia berbaring di bagian Penyakit Dalam RSUD Jayapura. Karena fungsi hati rusak, ia belum dapat menelan obat apa pun sehingga harus diinfus.

Tiga purnama dilewatinya di sana. Pada 27 Februari 2004 anak ke-5 dari 7 bersaudara itu pulang ke rumah. Melalui jasa baik Yayasan Pengembangan Kesehatan Masyarakat, ia dipertemukan dengan Drs I Made Budi MS. Saat itu Made sudah dikenal luas di Papua lantaran kerap mengobati berbagai penyakit seperti kanker dengan eksktrak buah merah. Sejak April 2004 ia memberikan ekstrak buah merah kepada Agustina. Konsumsinya satu sendok makan dengan frekuensi 3 kali sehari berbarengan dengan obat paru-paru pemberian dokter.

Konsumsi buah anggota famili Pandanaceae itu diimbangi dengan asupan makanan berprotein tinggi. Perlahan-lahan kondisi tubuh perempuan kelahiran 14 Agustus 1981 itu membaik. Tiga bulan mengkonsumsi ekstrak sauk eken-sebutan buah merah di Wamena-, bobot tubuh meningkat 6 kg. Bobot tubuh terus meningkat hingga 46 kg saat ini. Selain itu wajah lebih ceria dengan sorot mata bersinar. Kulitnya yang semula busik, kembali mulus. Rambut yang sempat rontok mulai tumbuh di atas kepalanya. Singkat kata, Agustina tampak jauh lebih bugar. Padahal, “Ketika saya tangani, kondisi Agustina seperti tak ada harapan lagi,” kata Made.

Pria 44 tahun itu bertutur, “Buah merah berfungsi seperti obat antiretrovirus yang amat dibutuhkan penderita HIV/AIDS. Ia mengikat protein dan meningkatkan kekebalan tubuh.” Pencapaian amat spektakuler itu juga sejalan dengan hasil pemeriksaan laboratorium di Jakarta pada awal November 2004. CD-4 darah Agustina sudah menembus angka 400 dan CD-8 menunjukkan negatif. CD-4 orang yang positif AIDS, maksimal 200; CD-8, positif. Wanita Papua itu kini hampir menggapai kesembuhan total.

Stop Stroke

Bukan cuma Agustina Sawery yang lolos dari belenggu penyakit maut. Ny. Subari, misalnya, pada September 2002 terserang celebral apoplexy atau populer dengan sebutan stroke. Setelah 10 hari opname di sebuah rumah sakit di Jayapura, ia pulang meski belum sembuh. “Bagian tubuh sebelah kiri tak bisa digerakkan, mati sama sekali,” ujar guru SMP 2 Abepura itu mengenang.

Ketika itu menyebut nama saja ia tak mampu. Pandangan kabur, pusing, stres. Kisah pilu itu bakal menjadi kenangan pahit baginya. Sebab 3 bulan meminum ekstrak buah merah-2 x 1 sendok makan per hari-, ia sudah melepas tongkat. Kini ia aktif mendidik dan menjelaskan materi pengajaran di depan murid-muridnya seperti semula.

Yang juga merasakan manfaat Pandanus conoideus-bukan Pandanus coinedeus seperti ditulis Trubus edisi sebelumnya-adalah Susilah. Sejak tahu kanker payudara stadium 2 diidapnya, ia tampak menutup diri karena terpukul. Tangannya tak lagi dapat digerakkan. Saran dokter untuk operasi ditolak karena khawatir maut menjemput lewat jalan penyembuhan itu.

Di tengah kebimbangan, kemenakannya, Jelly Serang, datang membawa ekstrak buah merah. Inilah tumpuan harapan Susilah. Ia meminumnya 2 kali sehari masing-masing 1 sendok makan. Setelah 2 botol dihabiskan, nyeri yang menderanya hilang sama sekali. Dua bulan berselang, setelah menghabiskan 8 botol masing-masing 120 cc, sel kanker yang semula 6 cm mengecil menjadi 3 cm. Kini kondisinya terus membaik.

Antioksidan

Agustina, Subari, dan Susilah hanya sebagian kecil orang yang merasakan faedah sari buah merah. Menurut I Made Budi, hingga November 2004 tercatat 1.000 pasien sembuh setelah rutin mengkonsumsi buah endemik Papua itu. Sekitar 400 orang di antaranya sembuh berbagai jenis kanker. Mereka tak hanya dari Jayapura, Timika, atau Merauke, tetapi juga tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Mungkinkah sebuah komoditas mampu mengobati beragam penyakit? “Di dunia medis mungkin saja. Contoh diare bisa diberi ambisilin, infeksi tenggorokan juga ambisilin, begitu juga tifus,” ujar dr Willie Japaries MARS, pengobat komplementer alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Itulah yang dikenal sebagai panasea alias obat segala penyakit.

Ahli gizi Prof Dr Muhilal tak heran akan khasiat buah merah. Doktor Biokimia alumnus University of Liverpool itu pada 1992 meneliti xeroftalmia alias kekurangan vitamin A. Prevalensi penderita di Papua jauh lebih kecil ketimbang di Jawa sekalipun. Rahasianya, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Papua terbiasa melahap buah merah yang kandungan betakarotennya mencapai 700 ppm. Oleh glukosa zat itu diubah menjadi vitamin A.

Selain itu kuansu-nama lainnya-juga mengandung tokoferol 11.000 ppm yang mampu menangkal radikal bebas. Tingginya kandungan vitamin E-nama lain tokoferol-hanya dapat ditandingi oleh zaitun. Senyawa itulah benteng pertahanan terhadap serangan penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, darah tinggi, dan kanker. “Antioksidan itu mengatasi penyakit degeneratif, penangkal radikal bebas seperti cadmium, penghalang ketuaan, bisa untuk mata,” kata Dr Chairul, doktor Kimia dan peneliti di Puslitbang Biologi LIPI.

Wajar jika buah merah direkomendasikan oleh ahli penyakit dalam dari Manado, Roy Pontoh, untuk pasiennya. “Dari komposisi yang saya baca di Trubus, saya yakin obat ini bisa meredam penyakit paru-paru,” kata Roy. Penderita di luar negeri pun tertarik mencoba obat itu. Di antaranya penderita kanker otak berumur 2 tahun yang sedang dirawat di Singapura dan penderita kanker payudara stadium III A yang menjalani terapi nutrisi di Amerika Serikat.

Dosis

Buah berbentuk bulat panjang itu mengandung 58% asam oleat dan 7,8% asam linoleat. Keduanya asam lemak esensial bagi tubuh yang mudah dicerna sekaligus memperlancar metabolisme. Omega 3 tinggi berfungsi untuk memperbaiki jaringan yang rusak. “Kanker itu merupakan jaringan yang tumbuh tidak terkendali,” kata Made (baca: Ciuman Maut untuk Virus Maut halaman 18-19).

Toh, belum semua pasien yang minum ekstrak buah merah memperoleh kesembuhan. Contoh, penderita tumor payudara yang ditangani dr Willie Japaries. Meski sudah sebulan mengkonsumsi buah merah, kesembuhan bak jauh panggang dari api. Menurut Willie lazimnya untuk mengatasi kanker, diperlukan 3-4 herbal. Sementara dalam hal ini, ia hanya memberikan satu jenis, yakni buah merah sehingga dinilai kurang efektif.

Mulyadarma, dokter di Rumah Sakit Darma Medika di Wonogiri, Jawa Tengah, yang juga memberikan buah merah kepada pasien berujar, “Selama ini obat alternatif hanya menunda sel-sel kanker berkembang lebih lanjut.” Orang kerap salah menduga mengkonsumsi ramuan herbal dijamin aman. Padahal jika tidak tepat dosis tetap saja berdampak buruk. 

Soal tingginya betakaroten, menurut Muhilal tak berefek negatif bagi kesehatan. “Kalau berlebihan akan disimpan di lapisan lemak bawah kulit sehingga kulitnya tampak kuning. Tapi kejadiannya amat langka. Di dunia kejadian seperti itu tak lebih dari 5 orang,” kata kelahiran 5 Januari 1940 itu. 

Tadinya Gratis

Dengan kandungan antioksidan tinggi wajar jika buah merah mampu menyembuhkan beragam penyakit. Itu yang menyebabkan popularitas kerabat pandan wangi meroket. Bak obat ajaib, ia menjadi buah bibir. Banyak dokter menyarankan pasiennya untuk meminum sari buah merah. Malahan periset AIDS di Amerika Serikat antusias menanggapi temuan khasiat yenggen.

Padahal sebelumnya secara turun temurun buah merah tak lebih dari sekadar bahan pangan masyarakat Papua. Harganya amat murah, jika tak boleh dibilang tak bernilai. Dengarlah penuturan Ir Ana Saway dari Dinas Pertanian Kabupaten Jayapura, “Dulu buah merah tak perlu dibeli. Kita tinggal minta dan dikasih. Kalau kita bertemu dengan penjual di pasar, kita bisa dikasih cuma-cuma.” 

Titik tolak perubahan itu terjadi pada 1988. Drs I Made Budi yang tengah meneliti jamur di pedalaman Kurulu, kesengsem saat melihat pertama kali sosok buah merah. Dosen Jurusan Biologi Universitas Cenderawasih itu mendapat informasi dari penduduk setempat, jika mau sehat makanlah buah merah. Buktinya masyarakat Jayawijaya yang gemar menyantap buah merah sehat walafiat meski sepanjang hidupnya tanpa berpakaian. Padahal suhu di sana amat rendah, di bawah 20oC.

Riset intensif yang dilakukan Made ketika mengambil gelar master Gizi Masyarakat akhirnya menyibak tabir buah merah (baca: Menduniakan Buah Merah, halaman 22-23). Pantas jika banyak orang kini berupaya membudidayakannya. Menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jayapura Ir La Achmadi MMT, buah merah dikembangkan besar-besaran di daerah Ubruk dan Waris, keduanya di Kabupaten Keerom.

Tawi-sebutan buah merah di Lembah Baliem-kini makin dilirik orang. “Banyak investor dari Jakarta yang datang langsung ke Wamena untuk membeli buah,” papar I Made Budi. Saking banyaknya permintaan dari Jakarta, sampai-sampai buah merah milik Made di 3 kecamatan di Wamena pun ludes dijarah. Di luar Papua, penjual-penjual sari buah merah makin banyak bermunculan seiring tingginya permintaan.

Melonjaknya permintaan sari buah merah membuat harga bahan baku melambung. Komoditas yang Juli 2004 hanya berharga Rp50.000 per buah, akhir November 2004, harganya melangit mencapai Rp350.000. Itu pun harus pesan terlebih dahulu (baca: Papua Kala Buah Merah Melejit, halaman 16-17). “Banyak orang yang cari buah merah,” tutur Dorim, pedagang di depan Hotel Yasmin, Jayapura. Trubus yang jauh-jauh hari memesan 2 buah pun tak kebagian.


5 Tanaman Pengusir Jerawat

Mei 21, 2007

Banyak tanaman yang punya khasiat mengobati berbagai keluhan atau penyakit. Beberapa di antaranya berkhasiat mengatasi gangguan jerawat.

Ada yang menganggapnya sepele, tapi ada pula yang menganggap kehadirannya
sebagai ’musibah.’ Apalagi kaum hawa. Biasanya, mereka akan langsung melakukan segala upaya untuk membuang benda satu ini, jerawat.

Banyak jenis obat dan perawatan yang ditawarkan untuk membuang jerawat. Namun, sesungguhnya alam sudah menyediakan aneka tanaman yang mampu melenyapkan jerawat. Tanaman-tanaman itu antara lain tomat, jeruk nipis, belimbing wuluh, mentimun, dan temulawak.

Tomat

Tomat termasuk tanaman perdu semusim, batangnya masif, berbulu, dan berbuku-buku. Bunganya keluar dari ketiak daun, berwarna putih. Buahnya ketika muda berwarna hijau, lantas menjadi merah setelah beranjak tua. Buah tomat mengandung aneka vitamin, antara lain vitamin C, vitamin A dan B1, serta mengandung zat-zat seperti protein, kalsium, fosfor, besi, dan belerang.

Guna mengusir jerawat, coba pilih buah tomat yang sudah masak. Kemudian potong rata-rata, dan setelah itu langsung dipakai untuk menggosok wajah berjerawat. Jika Anda tekun membiasakan diri memakai buah tomat, wajah Anda pun dijamin bakal kembali berseri-seri, bebas dari jerawat.

Belimbing Wuluh

Tanaman belimbing wuluh dapat tumbuh baik di tempat terbuka. Batangnya tidak banyak bercabang, sedang daunnya bersirip genap. Bunganya kecil-kecil menggantung berwarna merah atau keunguan. Daging buahnya banyak mengandung air yang berasa asam. Warna buah ada yang hijau, ada pula kuning muda atau putih. Belimbing wuluh mengandung kalium oksalat, flavonoid, pektin, tanin, asam galat, dan asam ferulat.

Untuk menyingkirkan jerawat, ambil 5 buah belimbing wuluh, cuci bersih lalu tumbuk sampai halus. Setelah itu, remas dengan air garam seperlunya. Gosokkan pada wajah atau bagian kulit lain yang berjerawat. Lakukan tiga kali sehari. Niscaya, wajah Anda akan kembali mulus berseri.

Mentimun

Tanaman mentimun tergolong tanaman merambat atau menjalar. Batangnya berbulu halus, dan panjangnya mencapai 3 meter. Bunganya berwarna kuning. Buahnya berbentuk bulat-panjang. Buah mentimun, di samping memang banyak mengandung air, juga mengandung vitamin A, B1 dan C serta beberapa zat, seperti saponin, protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, dan belerang.

Berkaitan dengan jerawat, pilih mentimun yang masih muda. Cuci bersih, lalu potong-potong. Perlahan, gosokkan pada wajah yang berjerawat. Biasakan minimal 3 kali sehari.

Jeruk Nipis

Pada umur 2 - 3 tahun, pohon jeruk nipis mulai berbuah. Buahnya sebesar bola pingpong, berwarna hijau atau kekuning-kuningan, dan rasanya asam. Buah jeruk nipis mengandung unsur-unsur senyawa kimia antara lain limonen, linalin asetat, geranil asetat, fellandren, sitral, dan asam sitrat. Untuk menghadang jerawat, cermati buah jeruk nipis yang telah tua, lalu potong rata-rata. Gosokkan pada wajah berjerawat, sekitar 2-3 kali sehari.

Temulawak

Komponen utama kandungan zat dalam rimpang temulawak adalah kurkumin dan minyak atsiri. Kurkumin bermanfaat sebagai acnevulgaris, anti-inflamasi (antiradang), dan anti-hepatotoksik (antikeracunan empedu). Kandungan kurkumin dalam rimpang temulawak berkisar 1,6 - 2,2 persen, dihitung berdasarkan berat kering. Sedangkan minyak atsiri temulawak mengandung phelandren, kamfer, borneol, xanthorrhizol, dan sineal.

Bila ingin wajah tidak ’ternodai’ jerawat, ambil 1 jari rimpang temulawak, cuci bersih dan potong-potong. Rebus dengan air bersih sebanyak 4 gelas, lalu biarkan mendidih hingga tinggal separuhnya. Setelah dingin, dapat disaring dan diminum (bisa juga ditambah madu). Minumlah sehari dua kali, dan sekali minum sebanyak satu gelas.

RAMUAN PENUH KHASIAT

Sampai hari ini, sepertinya belum ada obat jerawat yang bisa menyembuhkan secara tuntas. Namun, banyak upaya yang bisa dilakukan untuk membantu menyembuhkan atau paling tidak mengurangi tumbuhnya jerawat. Ramuan tradisional salah satunya.

a. Ramuan I
Sediakan 6 buah belimbing wuluh, setengah sendok teh serbuk belerang, dan 1 buah jeruk nipis. Caranya: belimbung wuluh dan serbuk belerang digiling sampai halus, kemudian remas-remas dengan air jeruk nipis. Pemakaian: gosokkan pelan-pelan pada wajah yang berjerawat. Lakukan 3 kali sehari.

b. Ramuan II
Sediakan 20 kuntum bunga melati, 2 jari asam-lama (bahasa Jawa: asam-kawak), 1 buah jeruk nipis, dan belerang sebesar telur merpati. Caranya: bunga melati, asam-lama dan belerang dicuci bersih dan ditumbuk halus. Lalu remas dengan air jeruk nipis. Pemakaian, sama dengan ramuan I.

PERAWATAN PUN PENTING!

  • Jerawat merupakan radang kulit, bentuknya seperti bisul kecil-kecil berisi benda semacam lemak, yang kadang-kadang berubah menjadi keras seperti sebutir lilin, kadang berisi nanah.

Jerawat sering menghampiri kaum akil-balig, umur 14-20 tahun. Usia itu ditandai dengan banyaknya perubahan-perubahan fisik dan psikis, serta aktif. Seiring dengan itu, kelenjar-kelenjar minyak pun juga produktif. Nah, saking banyaknya kelenjar minyak, jadilah jerawat. Ringkasnya, jerawat disebabkan produksi minyak yang terlalu banyak.

Faktor keturunan atau faktor makanan bisa memicu munculnya jerawat. Juga faktor psikis, misalnya ketika datang bulan, kerjaan numpuk hingga merasa tertekan, serta pemakaian kosmetika yang tidak cocok, atau minum obat tertentu, bisa-bisa saja menyebabkan timbulnya jerawat. Itulah sebabnya, perawatan pun sangat perlu:

1. Bersihkan wajah atau bagian kulit berjerawat sekurang-kurangnya dua kali sehari dengan sabun khusus pembersih wajah dan air hangat.

2. Lakukan olahraga pagi hari di lokasi yang mendapat sinar matahari.

3. Kurangi makanan berlemak, termasuk gorengan, dan minuman beralkohol.

4. Tingkatkan konsumsi sayur-sayuran (bayam, bawang daun, ercis, wortel, daun melinjo dan sebagainya) dan buah-buahan (pisang, tomat, jeruk, nanas, dan sebagainya).

5. Hindari pemakaian kosmetika yang bahan dasarnya minyak.

6. Yang tak kalah penting, jangan sembarang menusuk atau memijit-mijit jerawat. Bisa-bisa malah infeksi dan meninggalkan bekas noda. ***


Lingzhi Sikat Asam Urat

Mei 19, 2007

Berbagai penyakit maut seperti tumor ganas menggempur tubuh renta Siti Fatimah Syaneth. Pada usia yang tak lagi muda, 70 tahun, asam urat menyerangnya justru ketika ia hendak berhaji. Hampir saja ia gagal menunaikan ibadah itu. Dengan rutin minum seduhan lingzhi, ia merasakan 2 faedah sekaligus: sembuh asam urat dan tubuh bugar selama di Arab.

Daya tahan tubuh Syaneth terbilang luar biasa. Ia mengidap penyakit jantung pada 1990. Tiga tahun kemudian, tumor payudara mengganas memaksanya menjalani operasi pengangkatan payudara. Tak sampai setahun, ia mengalami retak tulang pinggang akibat terjatuh. Pulih dari sederet penyakit maut itu, kondisi tubuh Syaneth tampak fit. Sejak sang suami dipanggil Yang Maha Kuasa pada 2002, ia juga terbiasa bepergian sendiri.

Dengan riwayat penyakit berat itu, Syaneth bertahan di bawah cobaan penyakit yang hampir mematahkan mimpinya. Termasuk ketika kondisinya terpuruk akibat asam urat menjelang keberangkatan ke Mekah, Arab Saudi. Menjelang ibadah haji, Syaneth memutuskan mengunjungi kerabat di Manado, Sulawesi Utara, seorang diri. Tiga pekan setelah menghabiskan waktu bersama kakak dan adik di tanah kelahirannya itu, ia merasakan ngilu di lutut kanan. ‘Saya pikir biasa, namanya juga lansia (lanjut usia-red),’ tutur ibu 4 anak itu.

Tiba di Jakarta ia mulai menjalani manasik haji. Walau sakit dan ngilu di lutut kanan makin menggerogotinya, wanita murah senyum itu tetap memaksakan diri ikut manasik haji. Dengan muka pucat dan langkah kaki kanan terseok, Syaneth dibantu putrinya, Sherly Sudaryono, mengikuti persiapan haji itu di Yayasan Al-Hidayah, Jatikramat, Bekasi.

BengkakLutut kanan Syaneth mulai bengkak. Untuk berjalan saja ia harus merambat di dinding. Namun, ia mengabaikan rasa sakit itu. Suatu hari, ia menyuruh pembantunya memasak menu istimewa, ikan tongkol panggang dan sayur daun singkong kesukaannya. Menu bersantan itu pun tanpa ragu dilahapnya.

Keesokan hari, ketika bangun dari pembaringan, lutut kanannya sakit. Nenek 7 cucu itu tidak bisa menggerakkan sendi lutut yang telah membengkak. ‘Sakit sekali, disentuh nyamuk saja sudah terasa amat sakit,’ ujar Syaneth. Manasik yang dijadwalkan 8 hari pun hanya dihadirinya 4 hari pertama. Ia tak mampu lagi berdiri.

Gout yang dikenal masyarakat dengan sebutan asam urat merupakan penyakit gangguan metabolik yang disebabkan penumpukan asam urat berlebih dalam jaringan tubuh. ‘Asam urat adalah hasil akhir metabolisme purin,’ kata dr Cecilia Padang PhD, FACR, dari Klinik Pusat Rematik Indonesia. Jika produksi asam urat melebihi daya tampung dalam plasma darah, maka terjadi penimbunan dalam jaringan tubuh. Timbunan asam urat biasanya terjadi di persendian, seperti pada pergelangan tangan, tumit, siku, dan lutut. Persendian yang terserang akan terlihat bengkak, terasa panas, nyeri, meradang, dan sulit digerakkan. Gejala asam urat umumnya timbul mendadak. Umumnya menyerang pada malam hari saat cuaca dingin.

‘Makanan tinggi purin bisa menjadi faktor pencetus asam urat,’ kata dokter di Rumahsakit Pluit, Jakarta Utara. Risiko terkena asam urat dalam tubuh meningkat seiring peningkatan asupan makanan tinggi purin. Sayuran yang disinyalir berpotensi memicu asam urat bila dikonsumsi berlebih yaitu daun singkong, bayam, kangkung, kacang polong, asparagus, kacang buncis, dan kembang kol. Termasuk ikan tongkol yang dikonsumsi Syaneth, juga mengandung purin. Oleh karena itu, penderita asam urat disarankan mengurangi asupan makanan mengandung purin berlebih.

Pikiran Syaneth menerawang, ibadah haji tinggal 4 bulan lagi. Buku kesehatan yang menjadi pegangan calon jemaah haji mungkin gagal diperolehnya. Jika saat pemeriksaan kesehatan kedua kondisi kesehatannya tidak membaik, Syaneth hanya bisa pasrah impiannya tercabut. Namun, ia tak berhenti berharap. Sherly kemudian menyarankan untuk berobat ke herbalis.

Hartono Chong, herbalis di Jakarta Barat, memberikan resep seduhan 2 sendok kecil bubuk lingzhi. Serbuk Ganoderma lucidium itu diseduh dengan segelas air panas. Syaneth meminumnya setiap hari. Herbalis yang praktek di Klinik Herbal Prima Usada, Jakarta Barat, itu juga memberikan tambahan kapsul ekstrak sayuran dan rumput laut untuk dikonsumsi 3 kali sehari guna mengontrol nafsu makan berlebih.

Upaya itu dibarengi dengan konsumsi segelas air kelapa tua untuk mendinginkan derita tukak lambung Syaneth. Keluhan mual dan muntah yang selalu datang bila mengkonsumsi obat tidak muncul sama sekali. ‘Saya merasa cocok dengan herbal itu,’ kata Syaneth. Hartono menyarankan agar Syaneth menjaga pola makan. ‘Jangan makan satu jenis makanan secara berlebih, meskipun itu sayuran yang menyehatkan, makanlah secara berimbang,’ kata herbalis yang sudah 4 tahun berkutat dengan lingzhi.

Sepekan setelah mengkonsumsi herbal, kondisi tubuh Syaneth membaik. Rasa sakit lenyap. Sendinya bisa digerakkan kembali, bengkak hilang. Ia bisa berjalan kembali. Dua bulan mengkonsumsi herbal tubuhnya terlihat lebih bugar. Rekan-rekan sesama calon jemaah haji pun heran melihat kondisinya yang cepat membaik. ‘Kelihatan lebih segar, tidak seperti pertama manasik dulu,’ ujar Syaneth menirukan ucapan rekannya.

Saat pemeriksaan kesehatan kedua, 9 November 2006, ia dinyatakan lolos. Buku kesehatan berwarna hijau itu pun diterimanya. ‘Alhamdulillah, padahal saya terancam tidak diizinkan bila kesehatan tidak membaik,’ kata Syaneth. Tanggal 29 November 2006 ia berangkat bersama rombongan kloter pertama dari Bekasi.

Asam ganoderikKeampuhan lingzhi mengatasi asam urat dibuktikan John Tindal, dari Yuan Clinic, London, Inggris. Riset melibatkan 3 penderita asam urat berusia 35 tahun yang merasakan nyeri dan pembengkakan di persendian. Dosis 3 gram lingzhi dalam bentuk tablet setiap hari dikonsumsi 30 menit sebelum makan selama 4 pekan. Selanjutnya diberikan dosis 2 gram/hari selama 6 pekan, kemudian 1 gram/hari selama 6 bulan.

Sebulan pertama setelah konsumsi, rasa sakit berkurang, stamina meningkat, dan pasien dapat berjalan kembali. Pada akhir periode 6 bulan, gejala asam urat hilang sama sekali. Aktivitas antipembengkakan lingzhi disinyalir dari sejenis asam ganoderik.

Pantas pula Syaneth mengaku tidak merasakan keluhan berarti selama menjalankan ibadah haji. Jamur yang dikenal dengan sebutan reishi di Jepang itu mengandung germanium organik. Mineral itu berefek melancarkan peredaran darah, menghilangkan rasa lelah, meningkatkan energi, memperkuat kekebalan tubuh, dan menghilangkan racun.

Jamur yang sejak 4.000 tahun lalu digunakan sebagai herbal itu terus dikonsumsi Syaneth selama menjalankan ibadah haji. Selama itu pula tidak ada halangan penyakit berarti. Ucapan syukur berulang kali terlontar dari mulut Syaneth. Tanggal 7 Januari 2007, ia kembali dengan selamat ke tanahair. Terkabul sudah mimpinya berhaji. (Kiki Rizkika)


Mereka Lumpuhkan sang Drakula

Mei 19, 2007

Penerbangan Malaysia Airlines menuju Kualalumpur, Malaysia, semakin mendekati waktu keberangkatan. Walau sudah terdaftar sebagai penumpang, Nino Sastrahusada berpikir kembali untuk melanjutkan perjalanannya. Tubuhnya menggigil dan nyeri, kepala pusing, mual, serta lemas. Keputusan terakhir ia tetap berangkat lantaran penderitaannya diduga sebatas flu akibat tiga malam kurang tidur menyelesaikan tugas.

Pekerjaannya di negeri jiran juga tak bisa menunggu lebih lama. Tiba di Kualalumpur, Nino langsung menemui ahli medis. Walau suhu tubuh mencapai 39oC dan menjalani serangkaian tes laboratorium, dokter belum bisa mendiagnosis penyakit. Tunggu 3-4 hari lagi, kata Nino mengulang pernyataan dokter. Sebab, berbagai virus baru terlihat penyebarannya setelah 72 jam inkubasi dalam tubuh. Kemungkinannya; influenza, tifus, hepatitis, dan demam berdarah.

Dokter membekali obat-obatan penghilang nyeri dan penurun panas. Namun, untuk menjaga dan memperbaiki kesehatan, Nino lebih mempercayai keampuhan ekstrak gamat-sebutan teripang di Malaysia-yang telah dikonsumsinya selama 2 tahun. Biasanya takarannya hanya 2 x 1 sendok makan. Kali ini, Nino memilih menenggak 50 ml 3 kali sehari ditambah spirulina agar panas langsung turun dan nyerinya hilang. Oleh karena itu, pria kelahiran 48 tahun silam itu tetap melakukan berbagai aktivitas.

Limpa bengkakEmpat hari kemudian, Nino tiba di Jakarta. Ia langsung memeriksakan diri ke rumahsakit. Hasil uji laboratarium, virus yang menyebar ke seluruh tubuhnya adalah dengue, penyebab demam berdarah yang dibawa nyamuk Aedes aegypti. Parameternya, nilai trombosit hanya 110.000 µ/L dari ambang normal 230.000 µ/L, limpanya membengkak 10 cm, dan Activated Partial Tromboplastin Time atau masa tromboplastin parsial teraktivasi hanya 14 detik dari ambang normal 25-43 detik. Ia dianjurkan menjalani perawatan medis di rumahsakit.

Namun, Nino menolak walau polis asuransi bakal menanggung biaya perawatan di rumahsakit internasional itu. Ia yakin penyakitnya bakal reda dengan istirahat dan konsumsi suplemen beche de mer-sebutan teripang di Perancis-setiap hari. Lantaran merasa lebih bugar, Nino kembali memeriksakan kesehatannya. Dokter mendiagnosis virus dengue yang disebarkan hewan pengisap darah-mirip mitos drakula-di siang hari itu hilang. Untung saya minum gamat. Jika tidak, saya takkan bisa melakukan aktivitas apa pun dan trombositnya jauh lebih anjlok, kata Nino.

Keampuhan gamat menghadang virus demam berdarah dengue (DBD) juga dirasakan Joko Setiyanto. Pengusaha pergudangan di Serpong, Tangerang, itu terkena DBD seiring bencana banjir melanda Jakarta beberapa bulan silam. Data Departemen Kesehatan, pada Januari dan Februari 2007, DBD menyebar dan menjangkiti 16.803 orang dan 267 pasien meninggal dunia. Biang keladinya, nyamuk warna hitam berbintik putih yang kerap bersarang di genangan air jernih seperti bak mandi, tempayan, vas bunga, dan pakaian bergantung di kamar.

Selasa siang, 20 Februari 2007, Joko Setiyanto terserang flu ditandai dengan nyeri dan tubuh menggigil. Lantaran musim hujan, ia memaklumi penurunan kondisi tubuhnya. Untuk menghilangkan penderitaan, ia mengkonsumsi obat-obatan warung. Namun, 2-3 hari berlalu tetap tak ada perubahan. Dokter dan laboratorium kesehatan ditandangi. Hasilnya, parameter trombosit 131.000/µL di bawah ambang batas 150.000-450.000/µl dan imunoserologi Anti Dengue IgM positif. Artinya pria kelahiran 26 April 1959 itu terjangkit virus dengue.

Mendengar vonis itu, Joko langsung mengkonsumsi gamat. Ayah Jannah Mumtaza itu mulai mengenal gamat untuk kesehatan sejak 3 bulan lalu setelah ibunya terbebas dari diabetes mellitus berkat ekstrak itu. Biasanya hanya 2 x 2 sendok sehari, tetapi ia menenggak 2 sendok makan setiap 2 jam. Rasa nyeri langsung hilang, kata pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, itu.

Untuk mengetahui lebih lanjut kondisi tubuhnya, 10 jam kemudian ia memeriksakan diri ke rumahsakit terdekat. Hasil test darah menunjukkan nilai trombositnya melonjak dari 131.000/µL menjadi 156.000/µL. Seharusnya jika virus dengue menyebar, nilai trombositnya naik pada hari ke-5. Lantaran nilai hemoglobin, hematokrit, dan SGOT masih di atas normal, ayah dua anak itu menjalani perawatan di rumahsakit.

Dua hari kemudian, nilai WBC count atau parameter pembekuan darah lebih rendah daripada normal 2.850/uL. Normal 5.000-10.000/uL. Itu berarti suami Ratnasari itu positif demam berdarah. Joko tetap mengkonsumsi 12 sendok makan gamat sehari kala terbaring di rumahsakit. Tak heran, virus dengue yang seharusnya mengasamkan lambung, melinukan sendi, dan merusakkan limpanya tak menyebar. Itu dibuktikan dua hari kemudian, 2 Maret 2007 semua parameter yang harusnya meninggi sudah turun.

Darah bekuMenurut dr Dewata Dermawan SpPD, ahli penyakit dalam di Rumahsakit Internasional Bintaro, Tangerang, virus DBD berkembang pada tubuh dalam beberapa tahapan. Bentuk reaksi pertama terjadi netralisasi dan pengendapan virus pada pembuluh darah kecil di kulit yang tergejala ruam. Saat itu juga keasaman lambung meningkat dan aliran darah semakin lambat.

Reaksi kedua terjadi gangguan fungsi pembekuan darah akibat penurunan jumlah dan kualitas komponen beku darah seperti trombosit. Jika plasma darah keluar dari pembuluh darah menuju ke rongga perut dan rongga selaput paru berupa gejala efusi pleura. Hal itu baru terlihat pada hari ke-6. Makanya diagnosis baru ditegakkan setelah 6 hari.

Gamat dipercaya mampu menetralisir keasaman lambung yang meningkat, mengencerkan darah kental akibat turunnya trombosit, memperbaiki sirkulasi yang terhambat sebagai efek samping terjangkit virus dengue.

Menurut Prof Ridzwan Hashim dari Universitas Kebangsaan Malaysia, teripang mampu menurunkan tekanan darah lantaran kaya glikosaminoglikan. Senyawa itu berefek mengencerkan darah sehingga melancarkan cairan yang tersumbat. sedangkan spirulina, suplemen kaya antioksidan dan kalsium spirulan itu menghambat perkembangan sekaligus mematikan virus. kandungan zat besi dan vitamin B12 spirulina meningkatkan haemoglobin darah. Gamat dan spirulina, dua suplemen terbaik bersatu padu menggempur DBD yang sedang mewabah (Vina Fitriani)


Hadang Stroke dengan Spirulina

Mei 19, 2007

Adzan Subuh berkumandang. Soleh Ismail membangunkan Rahmalina untuk sholat Subuh berjamaah. Namun, betapa kagetnya Soleh, istrinya itu tak bisa bangkit dari pembaringan. Tubuh perempuan 66 tahun itu tak bertenaga. Meski Soleh membantunya, Rahmalina tetap tak bisa bangun. Ia benar-benar kehilangan kekuatan. Pagi itu juga Rahmalina dilarikan ke rumahsakit.

Kejadian berawal pada suatu hari, pertengahan April 2006. Suara adzan Magrib sore itu disambut Rahmalina dan Soleh dengan berbuka puasa. Kolak pisang yang tersaji di meja menggoda selera untuk disantap. ‘Jangan, itu manis,’ Soleh melarang Rahmalina yang berniat mencicipi kolak. Itu karena riwayat penyakit diabetes yang disandang Rahmalina. Namun, ibu 6 anak itu nekat mencicipinya sebanyak 2 sendok.

Tak disangka manisnya kolak berbuntut penderitaan. Itu persis Rahmalina alami pada 2005. Setelah mencicipi kolak, 15 hari akhirnya ia dirawat di rumahsakit. Kini, pengalaman itu terulang. Kadar gula Rahmalina melonjak 575 mg/dl; kadar gula normal setelah makan 110-160 mg/dl. Efeknya, menyerang ke bagian saraf, seluruh tubuhnya terasa lemas. ‘Ngga kuat bangun, rasanya lemas tak bertenaga,’ kata Rahmalina.

Dokter di rumahsakit di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, tempatnya dirawat, menyatakan Rahmalina mengalami penyempitan pembuluh darah di kepala. Selama opname, perempuan kelahiran Padang itu kerap disuntik insulin. Tak ketinggalan obat-obatan dalam bentuk kapsul dan cairan diasupnya. ‘Sampai bosan saya makan obat dan disuntik,’ keluh Rahmalina.

Toh kesembuhan bagai api jauh dari panggang. Kondisi nenek 6 cucu itu tak ada perubahan berarti. Sehari-hari ia hanya tergolek di ranjang rumahsakit. Karena harapan sembuh kecil, pihak rumahsakit merujuknya ke rumahsakit Pertamina, Mayestik, Jakarta Selatan. Di rumahsakit itu pun ia hanya bertahan 3 hari karena alasan tak ada kemajuan. Perempuan yang hobi memasak itu juga bosan dengan jarum suntik. ‘Saya tidak tahan lagi disuntik terus-terusan,’ kata Rahmalina.

Kembali berjalanPihak keluarga terus berupaya menyembuhkan penyakit Rahmalina. Beberapa ahli pengobatan alternatif disambangi, tetapi tetap tak ada hasil. Hingga suatu hari, Frans, putra Rahma, memberinya spirulina atas saran seorang teman. Menurut temannya, kandungan ganggang hijau biru itu dipercaya dapat mengurangi gejala beragam penyakit tanpa efek samping. Tanpa pikir panjang, 5 butir spirulina diasupnya rutin 3 kali sehari.

Dua minggu mengkonsumsi spirulina, perubahan mulai terlihat. ‘Saya sudah bisa duduk,’ kata wanita murah senyum itu. Sebelumnya, menahan bobot tubuh saja tak mampu sehingga ia sering jatuh lemas bila duduk tanpa penyangga. Sebulan kemudian, perubahan makin kentara. Ia mulai bisa berjalan meski sambil berpegangan. Wajahnya pun terlihat cerah dan segar. Anak keempat yang tinggal bersamanya pun melihat perubahan itu. ‘Alhamdulillah, mama sudah sehat,’ kata Rahmalina menirukan ucapan Frans.

Sejak itulah kadar gula Rahmalina terkontrol karena rutin mengkonsumsi spirulina. Hasil tes laboratorium kadar gula darah 155 mg/dl. Dengan kadar gula sebesar itu ia merasa sehat wal-afiat. Padahal sebelumnya ia membayangkan betapa menderitanya jika badannya tak bisa digerakkan sama sekali.

Radikal bebasKelumpuhan yang dialami Rahmalina bukan stroke. Stroke hanya menyerang sebagian anggota badan. Misalnya kaki dan tangan kiri saja, anggota tubuh bagian kanan tetap berfungsi. Sedangkan Rahmalina merasakan kedua tangan dan kakinya lemah, lebih tepatnya disebut arteriosklerosis.

Arteriosklerosis merupakan penyempit-an pembuluh darah karena adanya penyumbatan, penebalan, atau kurang lenturnya dinding arteri. Pada kondisi itu, bahan lemak terkumpul di bawah lapisan sebelah dalam dari dinding arteri. Menurut dr H. Arijanto Jonosewojo, SpPD, spesialis penyakit dalam RSU dr Soetomo Surabaya, pada penderita diabetes, darah mengental bisa mengakibatkan pembuluh darah tersumbat sehingga terjadi arteriosklerosis.

Penyumbatan dapat terjadi di berbagai bagian tubuh: otak, jantung, ginjal, organ vital lain, lengan, dan tungkai. Jika terjadi di otak, arteriosklerosis berisiko menimbul-kan stroke iskemik. Stroke iskemik berarti tidak berfungsinya jaringan otak lantaran kurangnya darah yang membawa oksigen ke sana karena adanya penyumbatan pembuluh darah.

Radikal bebas menyebabkan arteriosklerosis. Spirulina mengandung antioksidan, seperti betakaroten, zeaxantin, fikosianin, asam amino, dan superoksida dismutase (SOD), yang berfungsi menetralisir reaksi radikal bebas. SOD berperan dalam melawan radikal bebas dengan mengurangi bentuk radikal bebas superoksida. Sementara betakaroten dan zeaxantin, mampu menghambat hidrogen peroksida.

Kandungan tokoferol (vitamin E) sebanyak 190 mg/kg pada spirulina juga membantu melawan pembentukan gumpalan darah. Penelitian Tom Saldeen MD, PhD, FACC dari Department of Forensic Medicine, University of Uppsala, Uppsala, Swedia, menunjukkan aktivitas antioksidan vitamin E mampu menurun-kan platelet agregasi dan menekan pembentukan gumpalan darah dalam pembuluh darah.

Rahma juga memperoleh manfaat penurunan kadar gula darah dari spirulina. Efek spirulina itu dibuktikan oleh Uliyar Mani, PhD dan rekan yang melakukan studi klinis pada 15 penderita diabetes. Hasil penelitian Department of Foods and Nutrition, M S University of Baroda, Gujarat, India, itu menunjukkan adanya penurunan gula darah secara signifikan setelah penderita diabetes mengasup spirulina 2 gram/hari selama 21 hari. Selain itu, asam gamma linolenik dalam alga itu berfungsi menurunkan kadar lemak dalam darah. GLA membentuk fospolipid membran sel mencegah terbentuknya asam lemak jenuh. (Kiki Rizkika)


Asma Hilang Terempas Susu Kambing

Mei 19, 2007
Klik untuk melihat foto lainnya…
Ida Rahmawati panik bukan kepalang ketika wajah buah hatinya Sekar Ayu Dyah Larasati membiru. Mata bocah 5 tahun itu terpejam. Napasnya tersengal-sengal seperti tercekik. Berkali-kali Ida menepuk-nepuk pipi anaknya, tetapi Dyah tak merespon. Ia bergegas membawa Dyah ke Rumah Sakit Usada Insani, Tangerang, Provinsi Banten. Diagnosis dokter, siswa Taman Kanak-kanak itu mengidap asma.

Bayangan 5 tahun silam melintas di benak Ida Rahmawati. Ia ingat persis, ‘pada umur 6 bulan, Dyah kerap batuk-batuk dari jam 02.00 sampai 04.00,’ ujar Ida. Dokter hanya meresepkan sirop obat batuk dan antibiotik. Beberapa bulan berselang, timbul gatal-gatal pada kulit. Ia pun kembali memeriksakan Dyah ke dokter. Hasilnya, Dyah divonis alergi susu sapi. Oleh karena itu Ida mengganti susu bubuk sapi dengan susu bubuk kedelai. Penggantian itu memang menghilangkan gatal-gatal pada kulit Dyah. Namun batuk pada malam hari tak kunjung reda.

Bahkan setahun kemudian, batuknya semakin parah. Napas tersengal-sengal seperti tercekik. Ida Rahmawati menyambangi dokter lain untuk mengetahui penyebab batuk berkepanjangan itu. Saat itulah ia tahu, Dyah mengidap asma karena alergi susu sapi. Sejak diagnosis asma itulah, Dyah yang saat itu berusia 2,5 tahun mengkonsumsi puyer antialergi 6 kali sehari. Kebiasaan itu berlangsung hingga Dyah berusia 7 tahun. Untuk memberikan pertolongan segera, Ida menyiapkan alat bantu pernapasan nebulizer dan tabung oksigen ukuran 80 cm.

StresObat dan piranti itu tak juga membantu kesembuhan Dyah. Buktinya ia sering opname karena serangan asma. ‘Obat dan nebulizer sudah tidak mampu menolongnya,’ ujar sang bunda. Hampir setiap 6 bulan Dyah dirawat di rumahsakit selama 2-3 hari. Asma Dyah kambuh terutama saat udara panas. Di sekolah yang dilengkapi pendingin ruangan, asma Dyah tak pernah kambuh. Namun, begitu pulang karena udara panas napasnya terengah-engah.

Menurut dr Mohamad Soleh, asma bisa kambuh salah satunya bila dipicu stres. Stres bisa secara fisik maupun psikis. Stres fisik bisa karena panas, dingin, lelah atau karena penyakit lain. Asma Dyah kambuh saat udara panas bukan udara dingin seperti asma pada umumnya. Menurut dr Imelda Magaritha asma adalah gangguan pernapasan karena alergi. Gangguan itu berupa penyempitan saluran pernapasan yang menghambat udara keluar dari paru-paru. Asma dapat kambuh jika sistem kekebalan terpicu oleh penyebab alergi. Penyebab alergi berbeda setiap individu, misalnya alergi susu sapi, udara dingin, debu atau stres.

Ketika upaya penyembuhan secara medis tak menggembirakan, Ida mencoba pengobatan tradisional. Atas saran kerabatnya, ia memberikan berbagai obat tradisional seperti hati kelelawar, hati kura-kura, dan hati unta pada waktu yang berbeda. Dosisnya 50 gram 3 kali sehari. Sayang, kesembuhan itu belum juga muncul.

ToleransiPada Oktober 2005, seorang rekan menyarankan untuk mencoba susu kambing. Barharap kesembuhan pada anaknya, Ida pun menuruti saran itu. Ia memesan 10 liter dengan harga 15.000 per liter. Susu kambing dikemas 200 ml, Ida mesti memanaskannya sebelum memberikan susu itu kepada Dyah. Sekali minum Dyah menghabiskan 200 ml dengan frekuensi 3 kali sehari. Efek terlihat pada 3 bulan pertama. Batuk pada malam hari mereda dan napas tersengal tidak terdengar lagi.

Setelah 3 bulan mengkonsumsi susu kambing, asupan puyer antialergi dihentikan. Pada 3 bulan kedua susu kambing diberikan hanya 2 kali sehari. Untuk selanjutnya sampai sekarang Dyah tetap meminum susu kambing, tapi cukup sekali sehari. Setelah rutin mengkonsumsi susu kambing, setahun terakhir asma Dyah tidak pernah kambuh. Tidak ada lagi acara bolak-balik ke rumahsakit. Nebulizer yang setia memberi oksigen pun teronggok di sudut kamar.

Yang terpenting, gadis cilik berusia 9 tahun itu sudah bisa tertawa lepas saat bermain dengan teman-temannya. Tidak akan terdengar lagi larangan ibunya untuk menahan tawa dan gerakan kala asyik bermain. Bagaimana duduk perkara susu kambing mengobati asma? dr Imelda Margaritha menuturkan susu kambing meningkatkan daya tahan tubuh. Itu lantaran kandungan mineral berupa magnesium, klorida dan selenium yang bagus untuk metabolisme tubuh.

Susu kambing biasanya dikaitkan dengan asma karena alergi susu sapi. Jika seseorang alergi susu sapi, sebenarnya dia alergi dengan gula atau protein dalam susu sapi atau dikenal dengan sebutan ? A1 kasein; susu kambing, betakasein. Susu kambing hanya mengandung 4-4,1% gula laktosa sehingga masih ditolerir untuk orang yang alergi laktosa. Bandingkan dengan kadar laktosa susu sapi yang berkisar 4-7%.

Jadi, penderita asma sembuh atau reda setelah minum susu kambing, berarti dia alergi dengan komponen yang ada pada susu sapi atau produk dari susu sapi. Jika tidak reda, maka pemicu asma bukan karena alergi dengan komponen tadi.

Susu kambing bisa dikonsumsi dalam bentuk cair, bubuk bahkan tablet. Dalam hal kestabilan zat aktif (protein, mineral, vitamin), susu kambing tablet lebih stabil daripada bubuk dan cair. Apa pun pilihannya, susu kambing terbukti mujarab mengatasi asma seperti yang dialami Sekar Ayu Dyah Larasati. (Nesia Artdiyasa)


Teripang Kikis Sisik Ular

Mei 19, 2007

Stres dan sakit kepala yang mengawali hari-hari Marlita Sari sejak penceraian membawanya pada penderitaan baru. Bercak-bercak putih tiba-tiba saja terlihat di kulit kepala. Awalnya, wanita kelahiran Semarang, Jawa Tengah itu mengira kesalahan penggunaan shampo. Lama-kelamaan sisik di kepala itu menjalar ke seluruh punggung. Setelah 2 tahun barulah diketahui Marlita mengidap psoriasis.

Ketombe yang memenuhi kepala awalnya tak digubris Marlita. Sebab, sebagai sales obat-obatan, ia sering terpanggang terik sinar matahari. Akibatnya rambut sering lepek dan ketombe tumbuh subur. Kepala pun terasa gatal. Jika sudah begitu, kedua tangan Marlita tak pernah berhenti menggaruk. Setiap kali digaruk lapisan seperti kerak itu rontok dan menyisakan luka lebar. Tapi setiap dikelupas besoknya muncul lagi, kata wanita kelahiran 23 November 1951 itu.

Karena tidak tahan dengan penderitaan itu, Marlita memeriksakan ke dokter kulit. Dokter mendiagnosis hanya penyakit kulit biasa. Marlita diberi obat peredam gatal, obat tidur, dan salep. Sayang, kesembuhan bak fatamorgana. Setelah obat dikonsumsi, bukannya kesembuhan yang diperoleh, penyakitnya justru semakin parah. Bercak-bercaknya menjalar ke seluruh kepala.

Bahkan sekujur kaki melepuh kemerahan seperti luka bakar. Suhu badannya naikturun dan ia merasa kedinginan setiap saat. Sehari-hari Marlita berada di pembaringan, meski tak bisa memejamkan mata.

Kulit ularSempat terpikir oleh bungsu dua bersaudara itu penyakitnya karena guna-guna. Berbagai jalan kesembuhan dicoba termasuk pengobatan alternatif. Jamu dan beberapa obat tradisional yang disarankan rekan-rekan tak segan ia konsumsi. Marlita pernah rutin mengoleskan buah nyamplung yang ditumbuk dan dicampur minyak kelapa selama satu bulan. Begitu juga mengkonsumsi daging dan abon ular serta kadal. Namun semua usahanya itu tak bisa mengatasi penderitaan Marlita.

Setelah 2 tahun bergelut dengan penyakit aneh itu, bercak-bercak putih mulai ditemukan di siku kiri. Rasanya gatal sekali dan panas, ungkap Marlita. Makanya ia langsung berobat ke dokter spesialis kulit di Bandung. Diagnosis dokter: psoriasis. Saat itu, penyakit psoriasis masih tergolong jarang didengar. Menurut dokter penyebab utamanya stres berkepanjangan. Untuk kesembuhan hanya perlu kebahagiaan dan ketenangan hati.

Berbekal saran dokter itu, Marlita mencoba berdamai dengan penyakitnya. Selama lebih dari 20 tahun, ia berhati-hati dengan emosinya. Sedikit saja khilaf lantaran terlalu banyak pikiran, ketombe mulai tumbuh dan mengerak. Jika sudah begitu, Marlita hanya meringis perih. Hingga akhirnya pada pertengahan Desember 2006 lalu ia membaca sebuah tulisan mengenai pengakuan penderita psoriasis sembuh dengan ekstrak teripang.

Marlita tertarik untuk mengkonsumsi. Setiap hari 3-4 sendok gamat-sebutan teripang di Malaysia-dikonsiumsi rutin selama sebulan. Namun, perubahan belum juga tampak kecuali Marlita bisa tidur pulas. Barulah setelah 2 botol habis, kerak-kerak ketombe di punggungnya meluruh.

Merasa cocok dengan gamat, Marlita tak hanya mengasup secara oral, tapi juga ekstrak gamat yang dioleskan ke seluruh tubuh. Kulit yang gatalnya luar biasa menjadi adem setelah diolesi salep gamat. Kini bercak-bercak psoriasis di tangan pun mulai berkurang dan kondisi tubuh Marlita jauh lebih baik.

PsoriasisMenurut dr Benny Wiryadi dari bagian kulit-kelamin Rumahsakit Umum Cipto Mangunkusumo, Jakarta, penderita psoriasis lebih banyak orang kulit putih dan sangat jarang ditemukan pada suku Eskimo dan Indian. Penyakit yang berarti gatal dalam bahasa Yunani itu, gejalanya berupa kulit kemerahan disertai pembentukan sisik keperakan berlapis-lapis mirip sisik ular. Pembuluh darah di bawah kulit penderita psoriasis memang terlihat lebih banyak dan melebar. Bagian kulit paling luar menebal, produksi zat tanduk lebih banyak yang akhirnya menjadi sisik transparan bertumpuk, dan terlepas.

Mekanisme penyakit kulit itu hinggap di tubuh Marlita belum diketahui secara pasti. Para ahli kulit menduga psoriasis disebabkan emosi tak terkendali, garukan atau tekanan berulang, terlalu banyak menelan obat seperti antihipertensi dan antibiotik, serta mengoleskan obat keras ke kulit. Penyakit ini secara klinis sifatnya tidak mengancam jiwa, tidak menular.

Namun, lantaran bisa timbul di seluruh bagaian tubuh, penyakit itu mengganggu kenyamanan dan menurunkan mental seseorang. Kemampuan gamat mengatasi penyakit psoriasis disebabkan makhluk dasar laut itu tinggi protein, mencapai 86%. Asam amino penyusunnya mudah diuraikan oleh enzim pepsin sehingga mampu menembus jaringan mati. Dari jumlah protein itu, 80% adalah kolagen yang berperan sebagai pembersih dan penjaga kekenyalan kulit.

Teripang juga menstabilkan emosi lantaran berefek sedatif dan analgesik alami. Artinya teripang bersifat penenang. Penelitiannya dilakukan oleh Zury Azreen bin Azizul Rahman dari Sekolah Ilmu Kesehatan Malaysia. Makanya, asupan teripang membuat emosi Marlita lebih tenang sehingga gatal akibat psoriasis pun sirna. (Vina Fitriani/ Peliput: Lani Marliani).